Seribu Bubur Dibagikan pada Ritual Satu Suro di Kotagede

Damar Sinuko, CNN Indonesia | Selasa, 11/09/2018 12:51 WIB
Seribu Bubur Dibagikan pada Ritual Satu Suro di Kotagede Peringatan malam satu suro di komplek makam Panembahan Senopati, Kotagede, Yogyakarta, Senin (10/9) malam. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Peringatan malam satu suro yang ditandai dengan tradisi bagi bubur suro digelar di komplek makam Panembahan Senopati, Kotagede, Yogyakarta, Senin (10/9) malam.

Sebanyak 1000 bubur suro dibagikan kepada masyarakat yang sebelumnya mengikuti ritual dan doa bersama saat jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.

Prosesi ritual diawali dengan kedatangan para abdi dalem yang dipimpin oleh salah seorang sesepuh yang disebut Suro Budoyo. Dua buah tumpeng ikut dibawa untuk didoakan bersama 1000 bubur suro yang akan dibagikan kepada masyarakat yang hadir untuk ikut doa bersama.



Doa, zikir, dan tahlil pun digelar. Ayat kursi dibacakan hingga sekitar hampir 1 jam. Usai doa yang diiringi kidung tembang Jawa , Suro Budoyo memberikan penjelasan singkat soal tradisi dan ritual malam satu suro di Kotagede yang ditandai secara simbolis dengan dua tumpeng dan bubur suro.

Dalam filosofi Jawa, tumpeng adalah simbol ungkapan syukur manusia kepada Tuhan Sang Pencipta. Sementara, bubur suro yang terdiri atas bubur putih dengan sayur sambel goreng krecek dan lodehan disertai bergedel, tahu, tempe, dan ayam merupakan simbol peleburan diri manusia kembali ke fitri/suci usai melawan angkara murka dalam dirinya.

Bubur suro yang dibagikan kepada masyarakat.Bubur suro yang dibagikan kepada masyarakat. (CNN Indonesia/Damar Sinuko)
"Ada dua simbol disini, tumpeng dan bubur suro. Tumpeng itu ungkapan syukur manusia kepada Tuhan, sedangkan bubur itu perlawanan angkara murka. Suro adalah angkara murka yang harus ditaklukan manusia dalam hidupnya", ungkap Suro Budoyo kepada CNN Indonesia.

Prosesi ritual usai, tumpeng dan bubur suro dibagikan kepada masyarakat yang datang dari berbagai daerah. Sebagian bahkan sudah datang dan menginap di Kotagede beberapa hari sebelumnya untuk bisa ikut tradisi padusan atau mandi di Sendang Seliran.

"Saya dari Semarang, sampai Kotagede sini sejak kemarin Minggu malam. Tadi sebelum ikut doa, saya dan suami ikut mandi padusan di Sendang. Saya orang Jawa, makanya ikut prosesi ritual budaya malam Suronan disini. Istilahnya ya ngalap berkah", ujar Agustin, salah seorang pengunjung.

Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro dipercaya sebagai momentum yang sakral karena sarat dengan kekuatan magis atau supranatural, sehingga oleh para leluhur diminta untuk diisi dengan tirakat dan doa.

 gunungan saat Kirab Kerbau Suro Merbabu Merapi di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (10/9).Sunungan saat Kirab Kerbau Suro Merbabu Merapi di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Senin (10/9). (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Kotagede sendiri merupakan kompleks bangunan yang utamanya adalah makam dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram, yang dulunya bernama Danang Sutowijoyo.

(arh/stu)