Terlahir dengan nama Christian Rahadi sebelum berganti menjadi Chrismansyah Rahadi, kiprah Chrisye sejak tahun 1970-an tak bisa dipandang sebelah mata. Kembali ke Indonesia setelah menjejakkan kaki di New York, AS, Chrisye langsung bekerja sama dengan Guruh Soekarnoputra untuk merilis Guruh Gipsy.
Sebuah album idealis, amat menarik karena Guruh terbilang sebagai seorang seniman yang selalu mengangkat kesenian Indonesia, dan album itu lahir di era proggresive rock, era luar biasa yang mencatatkan musik Indonesia pernah begitu progresif, tanpa bantuan internet maupun Google.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Youtube]
Sepanjang hidupnya, Chrisye telah merilis puluhan album, juga pernah berakting dalam film Seindah Rembulan (1981). Ketika era progressive rock di Indonesia berlalu, Chrisye pun mengubah musiknya menjadi nada new wave sesuai tren saat itu. Tidak terbilang gagal, album Resesi, Metropolitan, dan Nona mengokohkan nama Chrisye, sekalipun tidak meledak luar biasa.
Aku Cinta Dia (1985) memperdengarkan irama berbeda dari Chrisye, era di mana ia bekerja sama untuk pertama kalinya dengan Adjie Soetama dan sekali lagi, ia mencatat perubahan musikal lain. Sebagai seorang solois, Chrisye terlihat sering melakukan adaptasi dalam musiknya.
[Gambas:Youtube]
Bisa jadi, hal itu membantu Chrisye bertahan. Sejak awal ia tampak dikelilingi orang-orang berpikiran terbuka dan tak keberatan dengan perubahan. Chrisye bahkan sempat berkolaborasi dengan sejumlah musisi yang notabene berbeda generasi dengannya, seperti Peterpan yang sekarang bernama NOAH, Ungu, NAIF, sampai Project Pop dan Ahmad Dhani.
Chrisye, penyanyi yang memiliki unsur 'magis' dalam vokalnya. (dok. Damayanti Noor via MNC Pictures) |
Dalam 25 tahun karier, Chrisye membuktikan musik bisa terdengar begitu kaya seperti yang ia tampilkan melalui kolaborasi dan album-album solonya. Suara Chrisye tidak pernah berubah, demikian juga gaya canggungnya, namun musiknya bisa menjangkau banyak telinga setelah bertahun-tahun.
Chrisye meninggal dunia pada 30 Maret 2007 di usia 57 tahun. Saat ia berpulang karena kanker paru-paru, Indonesia tak hanya kehilangan seorang penyanyi. Negara ini kehilangan sebuah aset yang barangkali, tak tergantikan. Tak perlu pula mencari pengganti Chrisye, karena segala yang telah dipersembahkannya sudah lebih dari cukup, lantunan lirik indah yang tetap bisa menyentuh rasa.
[Gambas:Video CNN] (rea)
Chrisye, penyanyi yang memiliki unsur 'magis' dalam vokalnya. (dok. Damayanti Noor via MNC Pictures)