Tribut Sederhana untuk Srimulat yang Melukis Senyum Indonesia

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 28/09/2019 09:26 WIB
Tribut Sederhana untuk Srimulat yang Melukis Senyum Indonesia Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, nama Srimulat sudah kadung melekat sebagai ikon komedi, mewarnai dan membuat tertawa jutaan insan.(Dok. Eko Saputro)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi mereka yang tumbuh besar sebelum milenium berganti, nama Srimulat sudah kadung melekat sebagai ikon komedi Indonesia. Grup lawak ini mewarnai dan berhasil membuat tertawa jutaan penduduk Indonesia.

Grup lawak ini didirikan sebagai hasil cinta Srimulat dan Teguh Slamet Rahardjo di malam pernikahan mereka pada 1951. Keduanya merajut kasih membangun grup ini menjadi kelompok lawak terkenal di masanya.

Sepeninggal Raden Ayu Srimulat, Teguh memimpin grup Srimulat semakin besar hingga berhasil melebarkan sayap bukan hanya di tiga kota di Jawa, melainkan sampai tayang di TVRI.


Srimulat ibarat rock star di masanya. Setiap kali pentas, ratusan kursi penuh terisi. Penonton tak puas menonton dan tertawa terbahak-bahak hanya dalam satu sesi pertunjukan.


Kho Tjien Tiong alias Teguh Slamet Rahardjo merupakan salah satu pendiri Gema Malam Srimulat. Ia meninggal pada 1996 saat berusia 70 tahun.Kho Tjien Tiong alias Teguh Slamet Rahardjo merupakan salah satu pendiri Gema Malam Srimulat. Ia meninggal pada 1996 saat berusia 70 tahun. (Dok. Eko Saputro)
Bahkan pernah suatu kali, seorang penggemar perempuan melemparkan kunci mobil ke arah Gepeng yang sedang mentas.

Biasanya, penonton melempar benda ke panggung sebagai bentuk apresiasi. Benda yang dilempar juga biasanya hanya rokok atau uang yang diremas.

"Kunci mobil dikembalikan, akhirnya jadi kenal kan penggemar ini. Penggemar mengajak makan Gepeng sama keluarganya, akhirnya jadi kenal dekat dan baik," kata Eko 'Koko' Saputro, putra Teguh Slamet Rahardjo dan istri keduanya, Jujuk Juwariah.

Namun selayaknya kurva kehidupan, laju Srimulat kemudian menurun. Selepas menjadi grup lawak terbesar di Indonesia dan tayang rutin di TVRI dan berbagai film, Srimulat mulai tak bisa mengendalikan kapalnya.

Satu per satu pemain pergi. Sang otak dan pemimpin, Teguh pun memilih rehat dan menikmati usia senja, meninggalkan Srimulat berjalan tanpa arah dan bubar pada 1989.

Srimulat memang sempat bangkit dan kembali tenar di dekade '90-an hingga awal milenium. Namun setelah itu, Srimulat kembali terkubur dan terseret perkembangan zaman.

Meski begitu, Srimulat sejatinya belum tamat. Mereka masih bernafas, tersengal, menanti zaman kembali memihak, di sebuah sudut di Surabaya, Jawa Timur, kota kemenangan mereka.
Pentas Aneka Ria Srimulat yang menampilkan Karjo sebagai waria. Ia kerap mendapat peran waria sehingga dijuluki Karjo AC/DC.Pentas Aneka Ria Srimulat yang menampilkan Karjo sebagai waria. Ia kerap mendapat peran waria sehingga dijuluki Karjo AC/DC. (Dok. Teguh)
Fokus spesial seri legenda CNNIndonesia.com yang terbit pada Sabtu (28/9) adalah sebuah tribut sederhana kepada Srimulat, kumpulan putra-putri Pertiwi yang telah menorehkan kenangan manis dan sungging senyum lintas generasi.

Di tengah perubahan zaman yang semakin modern, arus globalisasi yang membiaskan batasan budaya, Srimulat adalah cendera mata manis yang pernah ada di dunia pentas dan komedi Indonesia.

Kami sadar, tak semua cerita Srimulat selama lebih dari setengah abad bisa kami tuturkan. Tak semua tokoh ikonis Srimulat yang sebagian besar telah menghadap Tuhan bisa kami hadirkan. Tak semua pemain Srimulat yang bisa mencapai ratusan orang sanggup kami munculkan.

Namun, secukil kenangan yang belum terungkap bisa kami sajikan dalam liputan berseri kali ini, dengan harapan jadi hadiah bagi mereka yang ingin mengenang, mengenal, atau bahkan mempelajari 'rahasia' Srimulat hingga layak disebut legenda di Indonesia.

Akhir kata, mengutip Teguh, "Aneh itu lucu" tapi kali ini "Lucu itu Srimulat". Selamat menikmati Liputan Khusus Srimulat Tak Pernah Tamat.




(end/vws)