Pameran ini diadakan di Dia.Lo.Gue Artspace mulai 28 September hingga 20 Oktober 2019. Ekshibisi berbasis arsip ini akan mengungkapkan kronologis perjalanan komik Indonesia. Pengunjung disajikan komik sejak 1925 hingga sekarang, arsip naskah gambar asli, artefak penerbitan seperti plat cetak komik, terbitan asli dari masa ke masa, reproduksi digital, instalasi adegan-adegan komik yang ikonik dalam sejarah cergam (cerita gambar) Indonesia, dan juga karya-karya baru dari para komikus muda.
"Pameran ini untuk merayakan kiprah Arswendo. Tadinya kita mau ajak, tapi beliau telah pergi lebih dulu sehingga akhirnya difokuskan dan berangkat dari apa yang dilakukan mas Wendo," kata Hikmat Darmawan, selaku Kurator Pameran Komik Itu Baik saat ditemui dalam acara pembukaan Sabtu (28/9) malam.
Arswendo Atmowiloto dikenal sebagai salah satu tokoh yang mempromosikan komik di Indonesia (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi Hikmat, persembahan pameran ini untuk Arswendo karena sosok penulis itu menelaah berbagai segi budaya pop Indonesia dari sudut non-akademik, tapi dari dalam juga pelaku aktif, baik sebagai pencipta maupun sebagai pembangun wahana bagi berbagai produk budaya pop Indonesia modern.
Pameran ini mengarsipkan komik Indonesia sejak 1925 (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri) |
Menurutnya, banyak pembaca Kompas kala itu yang tergugah kenangan atau baru ngeh berbagai aspek sejarah cergam: sosok Kho Wang Gie, pencipta komik setrip pertama Indonesia berjudul Put On; sosok para maestro seperti Ganes TH, Jan Mintaraga, Teguh Santosa; aliran "Cergam Medan" yang punya begitu banyak karya bermutu internasional dari para maestro seperti Taguan Harjo, Zam Nuldyn, Djas, dan Bahzar.
"Bahkan, Arswendo serius juga menelaah komik sorga-neraka, yang biasanya dijuai di pinggir jalan dekat sekolah atau pesantren. Seri tulisan Arswendo itu mengilhami sebuah pameran komik dan seminar (mungkin yang pertama di Indonesia) di Yogyakarta pada 1981, diinisiasi oleh Seno Gumira Adjidarma," paparnya.
Sastrawan Seno Gumira Adjidarma yang turut hadir dalam acara pembukaan mengatakan bahwa sosok Arswendo memengaruhi cara pandang terhadap komik. Bahkan, ia mengaku pada Juli 2005, mempertahankan disertasinya tentang komik Panji Tengkorak karya Hans Djaladara, dan menjadi "doktor pertama bidang komik di Indonesia".
Teknik-teknik pembuatan komik pun diperkenalkan di pameran 'Komik itu Baik' (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri) |
Lihat juga:Sahabat Lepas Arswendo: Surga Dipenuhi Canda |
"Dia bilang dalam komik bukan gambar yang penting tapi narasi ceritanya. Mas Wendo memperlihatkan diagramnya.
Pameran Komik Itu Baik turut memboyong sejumlah arsip cergam yang pernah dipamerkan di Brussels, Equatorial Imagination, Indonesian Comics 1924-2017 pada 21 November 2017-21 Januari 2018, sebagai bagian dari rangkaian acara Europalia Indonesia, hasil kerjasama antara lembaga budaya Europalia, pemerintah Indonesia, dan pemerintah Belgia.
Dalam pameran yang akan berlangsung hampir sebulan ini, juga akan ada diskusi serta peluncuran buku Komik Itu Baik, kumpulan tulisan tentang komik dari Arswendo Atmowiloto; bazaar komik, ilustrasi, merchandise serta artist's talk; kuliah umum tentang signifikansi budaya cergam wayang, dan berbagai kegiatan lain.[Gambas:Video CNN] (eks)
Arswendo Atmowiloto dikenal sebagai salah satu tokoh yang mempromosikan komik di Indonesia (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri)
Pameran ini mengarsipkan komik Indonesia sejak 1925 (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri)
Teknik-teknik pembuatan komik pun diperkenalkan di pameran 'Komik itu Baik' (CNNIndonesia/ Agniya Khoiri)