Secara garis besar, Synchronize 2019 memiliki konsep berbeda. Tahun ini mereka mengajak pengunjung untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Pengunjung diperbolehkan membawa peralatan makan dan minum yang ramah lingkungan dengan sejumlah ketentuan.
Misalnya, untuk tempat minum atau yang biasa disebut tumbler, maksimal berkapasitas 1000 ml dan hanya diisi air mineral. Peralatan makan seperti sendok, garpu, dan sedotan diizinkan, namun tidak boleh membawa pisau. Untuk wadah makanan, sebaiknya tidak terbuat dari kaca atau plastik sekali pakai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah hal lain yang sebaiknya tidak dilupakan adalah membawa uang tunai serta perlengkapan makan dan minum sendiri. Pengunjung dianjurkan menyimpan jas hujan di dalam tas untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang tak menentu, serta disarankan mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman.
Gerakan peduli lingkungan ini disebut David Karto selaku Festival Director sebagai penyesuaian tema yang diusung, yakni Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia.
Ia mengungkapkan, Synchronize Fest menyumbang sampah sebanyak 1,7 ton sampai 2,3 ton dari gelaran tahun 2016 sampai 2018. Angka tersebut didapat dari akumulasi penyelenggaraan selama tiga hari.
Pengunjung bergembira di Synchronize Festival. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma) |
Pengunjung bebas mengambil air tersebut secara gratis.
Pihak penyelenggara mengaku telah menerapkan langkah peduli lingkungan itu di kalangan internal. Mereka memilih menyediakan konsumsi prasmanan di belakang panggung dan tidak memakai genset.
Ratusan penampil dijadwalkan mengisi enam panggung Synchronize Fest, sejak siang sampai malam. Para penampil tersebut datang dari generasi dan genre berbeda, mulai dari Humania, Didi Kempot, Club Eighties, sampai Reality Club, Jason Ranti, dan Ardhito Pramono.
Sementara untuk pengunjung yang ingin beristirahat, Synchronize Fest menyediakan area nonton film. Film-film yang akan diputar adalah Tarling is Darling, Aruna dan Lidahnya, Tiga Dara untuk hari pertama, lalu ada Nyanyian Akar Rumput, Kucumbu Tubuh Indahku, dan Darah Muda di hari kedua. Untuk hari terakhir, ada film dokumenter Superglad, 27 Steps of May, serta Gita Cinta Dari SMA. (rea)
Pengunjung bergembira di Synchronize Festival. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)