Anggap Negara Arogan, Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan

Tim, CNN Indonesia | Kamis, 10/10/2019 10:35 WIB
Anggap Negara Arogan, Eka Kurniawan Tolak Anugerah Kebudayaan Sastrawan Eka Kurniawan menilai alasan menolak Anugerah Kebudayaan 2019 adalah tidak ada bukti nyata Negara melindungi seniman dan kerja-kerja kebudayaan. (CNN Indonesia/M Andika Putra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penulis Eka Kurniawan mengungkapkan alasan mendalam dirinya menolak Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019 yang menjanjikannya hadiah Rp50 juta dan plakat.

Bagi Eka, alasan mendasar yang menggerakkan dirinya menolak pengakuan dari negara tersebut adalah tidak ada bukti nyata negara dan pemerintah melindungi seniman dan kerja-kerja kebudayaan.

Melalui pernyataan yang ditulis dan diunggah melalui akun Facebook miliknya, Eka menyebut pemikiran ia untuk menolak penghargaan tersebut bermula ketika dihubungi oleh staf Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Agustus lalu.


Eka dihubungi dan disebut jadi calon penerima Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019, untuk kategori Pencipta, Pelopor dan Pembaru yang akan diberikan pada Kamis (10/10).

"Pertanyaan saya adalah, "Pemerintah bakal kasih apa?" Dia bilang, antara lain, pin dan uang 50 juta rupiah, dipotong pajak," tulis peraih Prince Claus Award Belanda tersebut.

"Reaksi saya secara otomatis adalah, "Kok, jauh banget dengan atlet yang memperoleh medali emas di Asian Games 2018 kemarin?" Sebagai informasi, peraih emas memperoleh 1,5 miliar rupiah. Peraih perunggu memperoleh 250 juta. Pertanyaan saya mungkin terdengar iseng, tapi jelas ada latar belakangnya," lanjutnya.

"Jujur, itu terasa mengganggu sekali. Kontras semacam itu seperti menampar saya dan membuat saya bertanya-tanya, Negara ini sebetulnya peduli dengan kesusastraan dan kebudayaan secara umum tidak, sih?" katanya.

Eka mengakui dirinya sempat terpikir untuk menerima hadiah tersebut, setidaknya bisa membantu membayar iuran BPJS dan meringankan membayar pajak penghasilan.

Namun pertanyaan atas kepedulian Negara semakin membuat ia gusar.

"Memberi penghargaan kepada penulis macam saya memang tak akan menjadi berita heboh, apalagi trending topic di media sosial," kata Eka.

"Tapi, terlepas dari kekesalan dan perasaan di-anak-tiri-kan macam begitu, selama beberapa hari saya mencoba mengingat dan mencatat dosa-dosa Negara kepada kebudayaan, setidaknya yang masih saya ingat," lanjutnya.


Eka lalu mengisahkan soal insiden aparat merazia sebuah toko buku di Padang pada Januari lalu. Toko Buku Nagare Boshi dirazia aparat gabungan TNI dan Kejaksaan Negeri Padang untuk menyita sejumlah buku.

Sejumlah buku tersebut disita karena dianggap menyebarkan paham komunis. Pemilik toko pun mengaku kepada media bahwa mereka trauma karena dirasa diperlakukan sebagai kriminal.

Bukan hanya di Padang, razia dan perampasan buku juga terjadi di Kediri pada Desember 2018. Kala itu, pihak aparat kepolisian dan militer melakukan razia terhadap sejumlah buku yang dianggap mempropagandakan PKI dan berpaham komunis.

Bukan hanya menyinggung soal razia tersebut, Eka juga menyebut Negara tidak memberikan perlindungan terhadap industri perbukuan.

Komandan Kodim 0712/Tegal Letkol Inf Hari Santoso menunjukkan lima judul buku Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disita dari sebuah mal, di Kodim 0712 Tegal, Jawa Tengah, Rabu (11/5).Komandan Kodim 0712/Tegal Letkol Inf Hari Santoso menunjukkan lima judul buku Partai Komunis Indonesia (PKI) yang disita dari sebuah mal, di Kodim 0712 Tegal, Jawa Tengah, Rabu (11/5). (ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah)

"Memikirkan ketiadaan perlindungan untuk dua hal itu, tiba-tiba saya sadar, Negara bahkan tak punya komitmen untuk melindungi para seniman dan penulis (bahkan siapa pun?) atas hak mereka yang paling dasar: kehidupan." tulis Eka.

"Apa kabar penyair kami, Wiji Thukul? Presiden yang sekarang telah menjanjikan untuk menyelesaikan kasus-kasus HAM masa lalu, termasuk penghilangan salah satu penyair penting negeri ini. Realisasi? Nol besar," lanjutnya.

"Di luar urusan hadiah, ada hal-hal mendasar seperti itu yang layak untuk membuat saya mempertanyakan komitmen Negara atas kerja-kerja kebudayaan," katanya.

"Kesimpulan saya, persis seperti perasaan yang timbul pertama kali ketika diberitahu kabar mengenai Anugerah Kebudayaan, Negara ini tak mempunyai komitmen yang meyakinkan atas kerja-kerja kebudayaan," lanjut Eka Kurniawan.

"Saya tak ingin menerima anugerah tersebut, dan menjadi semacam anggukan kepala untuk kebijakan-kebijakan Negara yang sangat tidak mengapresiasi kerja-kerja kebudayaan, bahkan cenderung represif," katanya.

"Suara saya mungkin sayup-sayup, tapi semoga jernih didengar. Suara saya mungkin terdengar arogan, tapi percayalah, Negara ini telah bersikap jauh lebih arogan, dan cenderung meremehkan kerja-kerja kebudayaan," kata Eka.

Sebagai penutup, Eka Kurniawan berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada siapa pun yang telah merekomendasikan dirinya untuk menjadi calon penerima hadiah Anugerah Kebudayaan dan Maestro Seni Tradisi 2019.

Redaksi CNNIndonesia.com telah berusaha menghubungi Eka Kurniawan tapi hingga berita ini diterbitkan belum mendapatkan jawaban. (end)