Ragam Aksi dan Riuh Tawa di Drama Tanpa Dialog 'Flying'

Tim, CNN Indonesia | Sabtu, 19/10/2019 10:01 WIB
Ragam Aksi dan Riuh Tawa di Drama Tanpa Dialog 'Flying' Pementasan 'Flying' di Ciputra Artpreneur, Jakarta, berhasil menghibur penonton dengan alur dan perpindahan adegan yang tertata rapi. (Foto: CNNIndonesia/ Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berbekal ragam paduan seni bela diri, akrobatik, senam, opera, dan breakdance, serta dipentaskan tanpa dialog, pertunjukan Flying sukses mengocok perut penonton pada Kamis (17/10) malam di Ciputra Artpreneur, Jakarta.

Pentas khas Korea Selatan yang jadi bagian dari rangkaian acara Korea Festival 2019 ini ditampilkan lewat tiga babak cerita selama 75 menit. Kisahnya berfokus pada cerita tentang Hwarang dan Goblin yang menembus gerbang waktu hingga tiba di masa modern.

Hwarang merujuk pada kelompok pemuda yang dididik untuk menjadi pemimpin lewat pelatihan fisik dan mental saat Dinasti Silla berkuasa. Sementara Goblin adalah sejenis makhluk supranatural yang kerap muncul dalam dongeng dan memiliki kekuatan tak biasa. Umumnya, mereka memiliki kulit berwarna hijau seperti daun.


Kisah bermula pada tahun 609 Masehi di masa pemerintahan Raja Jinpyeong dari Dinasti Silla. Kala itu, para Hwarang sedang berlatih bertarung tapi dikacaukan oleh kemunculan Goblin.

Para Hwarang berusaha menangkap Goblin, melawan, hingga mengejar ke mana dia pergi. Puncaknya, beberapa dari mereka kemudian terbawa arus sang makhluk ke masa modern melalui sebuah gerbang waktu.

Goblin, makhluk supranatural yang biasanya muncul dalam cerita dongeng, tampil pula di pentas 'Flying'. (Foto: CNN Indonesia/ Safir Makki)

Goblin yang tiba di sebuah SMA Silla di abad 21 secara tidak sengaja bertemu sebuah tim pemandu sorak yang sedang mempersiapkan diri menghadapi perlombaan. Kehadirannya semula seolah menakutkan, tapi pada akhirnya menjadi sebuah pertemanan, bahkan percintaan.

Alur cerita Flying terbilang sederhana dan klise, seperti kebanyakan drama Korea. Namun, pentas ini berhasil dikemas sebagai sebuah hiburan yang dapat dinikmati oleh kalangan segala umur.

Penonton tanpa henti dibuat terbahak-bahak oleh tingkah konyol serta spontan dari para pemain yang menampilkan sejumlah jenis suguhan mulai dari seni bela diri, opera, senam, senam ritme, dan breakdance.

Terlebih, penampilan itu dilengkapi dengan tata lampu, efek suara, kostum, serta latar yang mendukung. Perpindahan adegan satu ke adegan lain terasa mulus, bahkan penonton tak menyadari kapan pemain itu muncul atau berganti kostum.

Pentas bertajuk 'Flying' yang ditampilkan di Korea Festival 2019 berhasil membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal, Kamis (17/10). (Foto: CNNIndonesia/ Safir Makki)
Menariknya, meski berasal dari Korea Selatan, pentas Flying ini berusaha menyesuaikan dengan penonton yang hadir. Ada frasa-frasa spontan yang dikeluarkan di beberapa adegan menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini sukses membangun kedekatan dengan penonton. Selain itu, seperti pertunjukan drama non-verbal lain, Flying pun melibatkan penonton sebagai pemain pendukung.

Dalam salah satu adegan, para aktor menarik seorang penonton secara acak dan mengajaknya naik ke atas pentas, berakting bersama mereka. Momen ini juga menjadi bagian yang tak kalah menghibur, di mana penonton yang tampak malu-malu itu harus mengikuti tingkah konyol para pemain.

Secara keseluruhan drama non-verbal khas Korea ini menjadi salah satu sajian yang tak boleh dilewatkan.

Pertunjukkan Flying merupakan bagian dari Korea Festival 2019 yang dimulai sejak 1 Oktober dan akan berakhir pada 10 November mendatang. Selain pentas drama, acara lain yang menjadi bagian dari festival ini termasuk pesta kuliner, festival film, pameran, kejuaraan olahraga, dan sebagainya. (agn/rea)