Diagnosis Demam Karaoke, Unjuk Gigi hingga Saluran Emosi

CNN Indonesia | Minggu, 15/12/2019 15:11 WIB
Diagnosis Demam Karaoke, Unjuk Gigi hingga Saluran Emosi Demam karaoke massal menjangkiti anak muda ibu kota selama beberapa tahun belakangan. Pengamat pun mencoba mendiagnosis alasan psikologis di balik demam itu. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demam karaoke massal menjangkiti anak muda di Jakarta dan kota-kota besar lainnya selama beberapa tahun belakangan. Pengamat pun mencoba mendiagnosis alasan psikologis di balik demam tersebut.

Dosen Permusikan Institut Seni Indonesia (ISI), Djohan Salim, berpendapat bahwa perkembangan ini muncul karena pergeseran ke era digital yang membuat masyarakat kurang berinteraksi langsung.

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan mengeluarkan emosi, apalagi Indonesia memiliki budaya komunal.


"Yang di kota atau urban itu kesepian karena komunikasi sekarang sudah sangat mudah sehingga tak butuh tatap muka, tetapi efeknya orang merasa tersisihkan, sehingga ini menjadi dorongan untuk kembali ke fitrah, untuk kumpul ramai-ramai. Kebetulan saja medianya lewat karaoke," katanya saat dihubungi CNNIndonesia.com.
Diagnosis Demam Karaoke, Unjuk Gigi hingga Saluran Emosi (FOKPada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang butuh berinteraksi dan mengeluarkan emosi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Selain itu, Djohan juga meyakini bahwa dalam diri seseorang selalu ada keinginan menjadi pusat perhatian sehingga butuh untuk tampil dan eksis.

"Kembali ke psikologi sosial, semua orang ingin eksis, ingin tampil. Ditambah mungkin ada tekanan-tekanan di tempat kerja sehingga ada keinginan untuk memuaskan diri," tutur Djohan.

Ia kemudian berkata, "Sebenarnya ya, dari segi psikologi sosial itu sendiri ini cara positif untuk menyalurkan energi. Ketimbang orang yang kesepian menjadi 'self-talk' dan itu bisa membuat pikiran ke mana-mana."

Karaoke massal yang belakangan ramai diadakan di bar atau kelab malam memang membuka kesempatan bagi siapa pun untuk unjuk gigi.

Mikrofon tersedia, siapa saja boleh bernyanyi tanpa takut merasa dihakimi. Sekalipun suara sumbang dan kerap menyelipkan curhat, tapi pengunjung lain tetap asyik ikut bernyanyi bersama walau tak saling kenal.
Menurut Djohan, tren seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga lebih dulu berkembang di Jepang.

"Di Jepang sudah lebih dulu seperti itu, di mana massa individualis ingin sentuhan humanis, ya ketemu orang yang lebih gampang di tempat hiburan. Mau janjian pun di Jepang bisa satu dua minggu ketemu orang. Kalau ini pulang kerja bisa ngumpul, entah dengan siapa yang penting happy," katanya.

Namun, Djohan menganggap tren ini kelak akan berakhir. Menurut dia, akan ada titik jenuh dari manusia dan mulai mencari hal baru.

"Namun untuk sekarang, menurut saya perkembangannya positif bagi teman-teman di daerah urban dan penyalurannya sangat positif untuk mengeluarkan emosi. Kalau kerja kan sulit jadi ini sebagai penyaluran emosi dari penat seharian bekerja," katanya.
Diagnosis Demam Karaoke, Unjuk Gigi hingga Saluran Emosi (FOKPengamat menganggap tren karaoke massal akan ada akhirnya. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
CNNIndonesia.com juga sempat berbincang dengan beberapa pengunjung yang datang ke acara karaoke di bar. Tujuan utama mereka hampir sama, melepas penat dan seru-seruan bersama kawan.

"Jadi tadi pulang kerja sengaja pengin datang acara ini, janjian sama teman-teman yang udah lama enggak kumpul. Ya lumayan sih untuk seru-seruan bareng, dan enggak sering-sering jadi enggak apa-apa kalau besok pagi harus kerja lagi," kata Anggi kala ditemui di satu acara Karaoke Battle di kawasan Senopati.

Selain Anggi, Dion yang merupakan pegawai IT di salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bahkan bertahan hingga hari berganti meski paginya ia harus kembali bekerja.

"Ke sini pengin ajojing aja, pengin ngelepas penat. Ya, nanti pagi harus kerja jam 07.00, tapi enggak ada masalah. Sudah biasa," kata Dion. (agn/has)