Disko Ajojing dan Jurus Fariz RM Eksis Lintas Generasi

CNN Indonesia | Minggu, 05/01/2020 16:35 WIB
Disko Ajojing dan Jurus Fariz RM Eksis Lintas Generasi Fariz RM menjadi salah satu musisi legendaris yang paling getol melakukan kolaborasi lintas generasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tawa seketika pecah, menggema di tengah keheningan di salah satu sudut Gedung Kesenian Jakarta selepas konser White Shoes and the Couples Company pada 2016.

Jam di pojok ruangan sudah berdentang sebelas kali malam itu, tapi sekelompok wartawan masih terpingkal mendengar jawaban respondennya.

Ketika ditanya lagu favorit karya White Shoes and the Couples Company (WSATCC), perempuan belasan tahun itu menjawab mantap, "Selangkah ke Seberang dong!"


Salah satu wartawan lantas menjelaskan bahwa "Selangkah ke Seberang" memang ada dalam album Vakansi, tapi WSATCC hanya mengaransemen ulang lagu karya Fariz Roestam Moenaf.

Tiga bulan berselang, remaja dan wartawan itu kembali berpapasan dalam sebuah perhelatan. Mesam-mesem, kini perempuan itu mengaku sangat mengagumi karya-karya Fariz RM.

Meski memakan waktu, karya cipta musisi yang tenar pada medio 1970-1980-an itu akhirnya sampai ke telinga generasi baru. Nama Fariz RM pun langgeng melintasi dekade.

Kolaborasi, Sejurus Rumus Eksistensi Fariz RMFariz RM menjadi salah satu musisi legendaris yang paling getol melakukan kolaborasi lintas generasi. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Fariz memang menjadi salah satu musisi legendaris yang paling getol melakukan kolaborasi lintas generasi. Menurutnya, itu merupakan rumus eksistensi.

"Itu rumus gue bisa eksis sampai sekarang, karena enggak ada yang gue kekang," ujar Fariz saat berbincang dengan CNNIndonesia.com di suatu apartemen di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan.

Tak hanya dalam format band seperti WSATCC, belakangan Fariz juga kerap ikut serta dalam panggung-panggung disko bersama Diskoria. Di hadapan penonton milenial, musisi kelahiran 61 tahun silam itu masih menjual.


"Gimana enggak mau berkolaborasi kalau ketika kita main, mereka semua nyanyi? Malah kadang lebih hafal mereka," kata Fariz tertawa.

Mengubah posisi duduknya, Fariz kemudian bercerita bahwa awalnya ia sempat ragu tampil bersama Diskoria di gelaran-gelaran "ajojing" anak muda, sangat berbeda dengan panggung-panggung kolaborasi lintas generasi sebelumnya.

Di awal perjalanan Diskoria, Fariz memang hanya layaknya orang tua yang mendorong anaknya untuk berkarya. Tak ada sama sekali niatan untuk ikut berpesta.

[Gambas:Youtube]

Semua bermula ketika teman anak Fariz yang juga manajer Diskoria, Daiva Prayudi, berkunjung ke rumah untuk meminta tanda tangan di koleksi piringan hitam.

"Ngobrol-ngobrol, gue bilang ke dia, kenapa enggak bikin disco party, tapi lagunya Indonesia semua? Setelah itu dia jalanin Diskoria, gue bantu juga investasi buat beli alat-alat baru. Lo perkenalkan lah lagu-lagu Indonesia," tutur Fariz.

Sekitar satu setengah tahun berlalu, Diskoria menebar selebaran kepada penonton berisi pilihan bintang tamu. Ternyata, nama Fariz keluar di nomor wahid.


"Gue bilang ke Daiva, waktu itu umur gue 57 tahun, gila kali lo. Daiva bilang, 'Ya, ini permintaannya emang begini. Gimana dong?'" tutur Fariz sembari menyantap nasi goreng wagyu yang baru saja ia pesan dari restoran di lantai dasar apartemen.

Selesai satu suap, Fariz lanjut cuap-cuap, "Akhirnya main di Baxter Smith, meledak, boom! Setelah itu tur Bandung, segala macam. Puncaknya yang di The Pallas itu, 3.000 penonton, main bareng ada Danilla, Monita Tahalea, pokoknya Fariz RM bersama 5 wanita."

Setelah itu, terbukalah jalan bagi Fariz RM bersama Anthology untuk bermain di acara-acara milenial, seperti 90's Festival.

Penampilan musisi, Fariz RM dalam gelaran The 90's Festival di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu, 24 November 2019. CNN Indonesia/Bisma SeptalismaPenampilan musisi, Fariz RM dalam gelaran The 90's Festival di JiExpo Kemayoran, Jakarta, Minggu, 24 November 2019. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)

Fariz memang selalu punya jalan untuk menyamakan langkah dengan generasi muda. Beberapa tahun sebelum semua hingar bingar disko, ia juga pernah menggagas pembuatan album kompilasi musisi masa kini menyanyikan lagu-lagunya dan Dian Pramana Poetra.

Album yang dirilis bekerja sama dengan jaringan restoran ayam itu menambah panjang daftar aransemen ulang lagu-lagu Fariz oleh generasi muda.

Pelantun "Sakura" itu mengaku senang lagu-lagunya tak lekang oleh waktu karena selalu ada musisi generasi penerus yang ingin menggubah karyanya. Namun, ia mengaku belum ada hasil gubahan yang membuatnya begitu terkagum.


Menurutnya, kebanyakan musisi Indonesia ketika diminta mengaransemen ulang sebuah lagu pasti langsung sibuk mengulik teknis, bukan mencari esensi.

"Esensinya apa itu lagu, sehingga ketika lo ubah jadi apa pun juga, karena esensi yang jadi tolok ukurnya, baru terjadi surprise. Kalau lo cuma bawain jadi funky, groove, tapi lo melupakan esensinya, itu enggak akan jadi surprise," ucap Fariz.

Unsur esensi ini pula yang selalu menjadi dasar bagi Fariz RM saat sedang membantu musisi lain memproduksi musik.

Kolaborasi, Sejurus Rumus Eksistensi Fariz RMUnsur esensi ini pula yang selalu menjadi dasar bagi Fariz RM saat sedang membantu musisi lain memproduksi musik. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

"Gue tuh terkenal paling tega hapus bagian tertentu di rekaman. Lo sebagai musisi harus tahu mana yang perlu dan tidak. Kalau enggak, lo enggak akan intelek, sebagus apa pun musiknya," katanya.

Dengan tangan dinginnya, Fariz pun masih terus dipercaya oleh musisi atau band generasi di bawahnya untuk menopang produksi karya. Terakhir, Fariz menjadi produser Suburbia karya WSATCC.

Tanpa disadari, geliat Fariz merasuki proses rekaman band-band muda juga bisa menjadi strategi menjaga eksistensi buah pikirnya agar abadi.

"Semua ada strateginya, tapi santai. Jangan buru-buru," kata Fariz menutup topik tersebut dengan membakar satu lagi rokok.


Tulisan ini merupakan bagian dari FOKUS (serial artikel) CNN Indonesia yang bertajuk Secita Cerita Fariz RM.


(has/end)