Chrisye dan Harry Roesli, Para Guru di Balik Fariz RM

Muhammad Andika Putra, CNN Indonesia | Minggu, 05/01/2020 12:35 WIB
Chrisye dan Harry Roesli, Para Guru di Balik Fariz RM Fariz RM mengakui sosok Chrisye dan Harry Roesli adalah musisi yang paling berpengaruh dalam hidupnya. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun 1981. Chrisye, Guruh Soekarnoputra, Keenan Nasution, dan Jockie Suryoprayogo sering main ke rumah Andy Roestam yang terletak di Jalan Maluku, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka datang bukan sekadar main, tapi untuk berlatih band karena Andy berperan sebagai drummer.

Andy memiliki seorang adik bernama Fariz Roestem Moenaf, yang kini dikenal sebagai musisi kawakan dengan nama panggung Fariz RM. Sejak kecil, Fariz berlatih piano dengan guru, sedangkan alat musik lain ia pelajari secara autodidak.

Salah alat musik yang ia pelajari secara autodidak adalah drum. Usianya saat itu delapan tahun dan tidak memiliki uang, alhasil ia menyusun panci menyerupai drum untuk latihan. Ia kerap berteriak sambil bernyanyi, berlagak musisi papan atas.


Fariz semakin serius berlatih, ia mendengarkan musik dari berbagai piringan hitam untuk mengikuti pukulan drum. Secara tidak sengaja, saat Fariz berusia 12 tahun, permainannya diketahui Chrisye, Guruh, Keenan, dan Jockie yang sering main ke rumah.


Saat itu Fariz dijuluki adiknya si Andy yang jago main musik.

Musisi kelahiran 1959 ini serius bermusik ketika menduduki bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 Jakarta. Ia sempat membentuk vokal grup bersama Addie M. S, Adjie Soetama dan Iman R. N. Bersama grup itu ia mengikuti Lomba Cipta Lagu Remaja (1977) yang diselenggarakan radio Prambors.

Penampilan Fariz dalam ajang itu ternyata menarik perhatian musisi hit Indonesia dekade 1970-an. Musisi hit itu adalah Keenan, Chrisye, dan Yockie, alias tamu-tamu yang sering main ke rumah dan mengenal Fariz sebagai adiknya si Andy yang jago main musik.

Chrisye dan Harry Roesli, Para Guru di Balik Fariz RMPenampilan Fariz RM dalam ajang musik ternyata menarik perhatian musisi hit Indonesia dekade 1970-an. (Dok. Istimewa)

Ramalan Chrisye

Pada suatu siang bolong 1977, Chrisye bersama Yockie dan Eros Djarot datang ke rumah Andy. Namun Chrisye bukan ingin berlatih band atau ingin bertemu Andy, melainkan ingin bertemu Fariz yang biasa dipanggil Bule. Ia mengajak Fariz untuk main musik.

"Gue kaget ketika mereka bertiga datang, kan ada Keenan, kenapa harus gue. Eros bilang maunya sama gue. Gue diajak bikin album soundtrack Badai Pasti Berlalu," kata Fariz kini, pada penghujung 2019, saat ditemui CNNIndonesia.com di suatu apartemen di Bintaro, Tangerang Selatan.

Proyek itu membuat Chrisye dan Fariz kian dekat. Chrisye kerap menjemput Fariz di pagi hari untuk menggarap album di studio. Mereka bekerja di studio hingga malam hari. Hingga suatu malam, Chrisye seolah meramal nasib Fariz RM yang kala itu disapa Si Bule.


"Fariz RM... Fariz RM... Enak tuh ngomongnya, Le," celetuk Chrisye di dalam studio.

"Ha-ha-ha," timpal Fariz. Celetukan Chrisye bak lawakan.

"Lah lo ketawa!" protes Chrisye melihat Fariz menganggap omongannya sebagai candaan.

"Eh gue kasih tau sama lo ya, 20 tahun lagi yang gue sebut malam ini jadi nama lo. 20 tahun lagi lo liat," kata Chrisye.

Fariz pun tak melanjutkan lagi perbincangan itu.

Kini pada penghujung 2019. Fariz RM terkenang perbincangan dirinya dengan mendiang Chrisye yang menjadi nyata itu. Musisi yang meninggal pada 2007 itu memang jadi salah satu sosok yang mendukung dirinya dalam bermusik. Fariz sudah menganggap Chrisye sebagai kakaknya sendiri.

"Chrisye juga sempat marah sama gue tahun 1999 ketika dalam sebuah wawancara gue bilang ingin berhenti bermusik," kata Fariz.

Chrisye saat menikahi Damayanti Noor pada 1982.Chrisye saat menikahi Damayanti Noor pada 1982. (Dok. Istimewa)

Belum berhenti sampai Badai Pasti Berlalu, Chrisye kembali mengajak Fariz untuk bantu menggarap album Percik Pesona (1979). Ia menggarap album di studio milik Musica, bersamaan dengan Yockie yang sedang menggarap album Andi Meriem Matalatta. Fariz dan Chrisye di studio sebelah kanan, Yockie di studio sebelah kiri.

Kala itu Fariz membawa perubahan yang cukup signifikan pada gaya bermusik Chrisye. Lagu-lagu Chrisye jadi lebih dance ketimbang biasanya, seperti lagu Kehidupanku, Percik Pesona, dan Dewi Khayal. Chrisye senang dengan itu dan memamerkan ke Yockie.

"Nih lo dengar anak kecil, musiknya. Kalau lo enggak hati-hati, ini anak kecil bahayanya nih," kata Fariz menirukan perkataan Chrisye kepada Yockie.

Kepercayaan Harry Roesli

Sejak saat itu Chrisye mendorong Fariz untuk menjadi solois, Fariz mau tapi saat itu ia tidak memiliki uang untuk biaya produksi. Chrisye akhirnya mencarikan uang. Album perdana Fariz bertajuk Selangkah ke Seberang (1979) diproduksi label Badai Music yang didirikan Chrisye, Yockie dan Hendra Priyadi.

Meski sudah memiliki nama, album itu sulit menembus industri. Bahkan ada radio yang menolak memutar album tersebut karena tidak yakin akan didengar banyak orang. Hingga akhirnya album itu diperdengarkan Chrisye ke Wini Sutowo.

"Mba Wini bilang album gue bagus. Kebetulan suaminya lagi bikin film Sakura Dalam Pelukan (1979). Album itu diperdengarkan ke sutradara, Fritz G. Schadt, dia mau gue jadi ilustrator musik," kata Fariz mengenang perjalanan karier musiknya.

Album Sakura yang dirilis pada 1980 benar-benar mengubah hidup seorang Fariz RM. Namanya langsung meroket dan kali ini radio mau memutar karyanya. Berdasarkan keterangan distributor, kala itu Sakura terjual sebanyak 2,2 juta kopi meski menurut Fariz album itu terjual lebih banyak.

Chrisye dan Harry Roesli, Para Guru di Balik Fariz RMFariz RM selalu berada di samping Harry Roesli saat menggarap musik mulai dari album Titik Api (1976). (Dok. Pribadi)

Sembari bermusik, Fariz berkuliah di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak 1978. Beberapa kali ia menggantikan kakak sepupunya, Triawan Munaf, yang berperan sebagai kibordis band Giant Step. Ia juga sering bermain musik dengan Harry Roesli.

Seiring berjalannya waktu, Fariz dekat dengan Harry. Ia selalu berada di samping Harry saat menggarap musik mulai dari album Titik Api (1976). Menurut Fariz, dia menjadi salah satu kepercayaan Harry ketika meminta pendapat soal musik.

Hingga 2020, Fariz sudah aktif bermusik selama 43 tahun. Pada usia ke 61, ia belum puas jadi musisi. Ia seolah dipilih oleh musik, bukan ia yang memilih. Fariz pun masih dapat tawaran manggung, rata-rata enam kali dalam sebulan.

Sampai kini, Fariz total telah membuat 1.768 lagu, 21 album solo, 49 lagu tema, 52 musik jingle, satu album kompilasi bersama Dian Pramana Poetra dan tiga album duet bersama Jacob Kembar, Janet Arnaiz serta Renny Djajoesman. Ia juga pernah tergabung dalam band Badai, Transs, Symphony, Wow! dan Jakarta Rhythm Section.

"Gue bilang untuk industri musik, guru gue Chrisye. Untuk pengembangan musik, guru gue Harry Roesli. Kalau gue diminta bilang siapa orang yang berperan sampai ada Fariz RM, ya dua orang ini," kata Fariz sembari menghisap habis sebatang rokok kretek.


Tulisan ini merupakan bagian dari FOKUS (serial artikel) CNN Indonesia yang bertajuk Secita Cerita Fariz RM.


(end)