Menikmati Wayang Potehi Rasa Milenial

CNN Indonesia | Minggu, 02/02/2020 13:10 WIB
Menikmati Wayang Potehi Rasa Milenial Pertunjukan wayang potehi di Salihara terasa berbeda, ada bahasa milenial sebagai upaya mendekatkan warisan peranakan Tionghoa itu kepada anak muda. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sorot cahaya lampu menerangi Sun Go Kong yang datang untuk menemui teman lamanya, Siluman Kerbau. Ia datang untuk meminta Siluman Kerbau membujuk istrinya, Putri Kipas, agar bersedia meminjamkan kipas mustika kepada Go Kong.

Go Kong harus mendapatkan kipas mustika yang mampu mengembuskan angin kencang itu demi memadamkan gunung berapi yang membuat kekeringan berkepanjangan dan warga desa sengsara.

"Hei Siluman Kerbau!" kata Go Kong dengan suara cempreng-serak memanggil temannya itu.


"Siluman monyet!" kata Siluman Kerbau membalas sapaan Go Kong. "Ada apa engkau kemari?"


Rupanya Go Kong kesulitan menyampaikan maksudnya kepada Siluman Kerbau. Ia kepalang kesal karena usai ditipu oleh Putri Kipas yang memberikan kipas mustika palsu hingga upayanya memadamkan api gunung berapi gagal.

Kicauan ngalor ngidul dari Go Kong membuat Siluman Kerbau bingung. Tanpa dinyana, Go Kong mengajak Siluman Kerbau bertarung.

"Ayo kita gelut!" kata Go Kong mendadak.

"Hah?!" balas Siluman Kerbau.

"Kalau kau kalah, kau harus membujuk istrimu, Putri Kipas untuk meminjamkan kipas mustika kepadaku!" kata Go Kong.

"Kau datang tiba-tiba lalu ngajak gelut, terus pakai taruhan?? Dosa tauk!" celetuk Siluman Kerbau yang membuat penonton tertawa.
Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialPertunjukan wayang potehi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Semerbak aroma dupa atau hio menghiasi puluhan penonton yang duduk -sebagian berlesehan- untuk menyaksikan pertunjukan wayang potehi di Salihara, Jakarta Selatan, Sabtu (1/2) sore.

Penggalan percakapan dan gelut Siluman Kerbau dan Sun Go Kong tersebut adalah bagian dari pementasan wayang potehi bertajuk "Sun Go Kong Melawan Putri Kipas" yang diadakan Rumah Cinta Wayang (Cinwa) bekerja sama dengan Komunitas Salihara.

Seiring dengan perayaan Tahun Baru Cina atau Imlek yang jatuh pada 25 Januari lalu, wayang potehi yang merupakan hasil kebudayaan peranakan Tionghoa di Indonesia pun muncul di berbagai tempat.


Namun tak disangka, wayang potehi yang dibawakan oleh Rumah Cinwa memiliki banyak unsur milenial. Sebut saja kata "gelut" yang acapkali digunakan netizen milenial di dunia maya dengan "gelud" yang bermakna berkelahi. Atau, ragam diksi dan slang yang biasa digunakan oleh masyarakat sehari-hari pun masuk ke dalamnya. Seperti "tauk" atau "ada deh".

Bahkan lebih jauh lagi, Rumah Cinwa menampilkan wayang potehi yang secara perkembangannya tak lepas dari campur tangan masyarakat Jawa, dengan diksi bahasa daerah itu dalam pementasan Sabtu sore.

Seperti ketika Sun Go Kong yang menyamar sebagai Siluman Kerbau mencoba merayu Putri Kipas untuk menunjukkan kipas mustika yang disimpan. "Coba ndeloki," pinta Sun Go Kong yang berarti "coba lihat" dan dibalas oleh Putri Kipas dengan gelengan kepala yang berujung keduanya saling menggoda dan merayu bak adegan sepasang muda-mudi di film-film puluhan tahun lalu.

Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialPertunjukan wayang potehi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Ragam gimik lelucon lawas dan menggunakan bahasa daerah rupanya mampu membuat penonton era kekinian tertawa.

Segala unsur jenaka dan lelucon itu seolah membuat penonton lupa sedang melihat pertunjukan boneka yang hanya digerakkan oleh satu tangan si dalang di dalamnya. Lupa bahwa bentuk wayang boneka itu hanya setinggi 30-an centimeter di 'panggung' yang cuma berupa kotak dengan tinggi dan lebar semeteran, serta ditonton dari jarak setidaknya dua meter.

Rasa yang masih menjadi identitas bahwa pertunjukan tersebut adalah wayang potehi adalah dari kisahnya yang mengangkat perjalanan Sun Go Kong, legenda Tionghoa yang banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia dan pernah diangkat jadi serial hit di era '90-an, serta beragam ornamen Tionghoa yang menghiasi 'panggung' pertunjukan.

Milenial tapi Tak Lupa 'Akar'

Ragam dialek milenial itu muncul karena disengaja oleh tim penampil. Dua dalang pertunjukan Sabtu sore itu, Rahmadi Fajar Himawan dan Wahyu Pramuji, mengakui memang mereka berniat menyelipkan bahasa milenial guna menyasar penonton muda.

Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialFoto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono
"Karena kami dari generasi muda, milenial, maka kami menyesuaikan seperti dari bahasanya. Tapi dari segi gerakan, suluk [lagu atau sajak dalam pementasan wayang] , bahasa Hokkien, itu tidak kami ubah," kata Wahyu kala berbincang dengan CNNIndonesia.com, usai pementasan.

"Itu [gerakan, suluk, dan bahasa Hokkien] adalah pakem," timpal Fajar. "Wayang itu stigmanya berat dan membosankan. Dan kami ingin membawa wayang potehi dekat dengan masyarakat. Walau kami diminta mendekatkan ke masyarakat, kami juga berusaha dekat dengan pakemnya," lanjutnya.

Keduanya masih tergolong muda, 22 dan 21 tahun, dan masih menempuh studi di Universitas Indonesia, kala menampilkan pertunjukan Sabtu sore yang juga ditonton dari golongan milenial hingga Opa-Oma itu.

"Kami milenial tapi enggak lupa dengan dasar-dasarnya," tegas Fajar.

Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialPertunjukan wayang potehi. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)

Fajar dan Wahyu sudah seringkali memainkan wayang potehi sejak bergabung dengan Rumah Cinta Wayang pada sekitar setahun yang lalu. Rumah Cinwa sendiri dibangun oleh peneliti wayang potehi Universitas Indonesia, Dwi Woro Retno Mastuti pada November 2014.

Fajar dan Wahyu diajak oleh Dwi Woro yang sekaligus dosen mereka untuk ikut mengenalkan dan mempopulerkan wayang potehi. Kedua dalang muda ini pun diajarkan untuk memainkan wayang potehi, meskipun tak seprofesional dalang wayang potehi sesungguhnya.

"Kami banyak berdiskusi, berbincang dengan Bu Woro juga. Atau ketika bertemu dalang aslinya, misal dalang asli potehi dari Jombang datang ke Jakarta, kami bertanya soal memainkan wayang potehi dengannya," kata Fajar.

"Tapi untuk patokan dasar, kami menggunakan penelitian Bu Woro, itu jadi gerbang utama kami belajar," timpal Wahyu.

Wayang potehi diketahui berasal dari distrik Quanzhou dan dibawa oleh imigran China ke Indonesia pada abad 16-19 Masehi.

Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialFoto: CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono

Wayang potehi yang bermula dari Dinasti Tang (617-918) itu berkembang dan memiliki sejumlah pakem, mulai dari ukuran boneka dan peralatan; kisah-kisah yang diangkat mesti berasal dari cerita rakyat atau ajaran Konghucu; karakter khusus seperti dewa-dewa; sampai sesaji yang hadir di tiap pertunjukan.

Ragam pakem itu pun tampak masih muncul dalam pertunjukan Rumah Cinta Wayang yang dibawakan oleh Fajar dan Wahyu bersama timnya, meskipun sudah menggunakan bahasa milenial.

Dwi Woro mengakui bahwa pertunjukan wayang potehi dengan bahasa milenial ini adalah upayanya mengenalkan kembali warisan budaya peranakan yang hampir punah tersebut. Apalagi, ia menyebut wayang potehi kini mati suri lantaran tak ada lagi generasi penerus.

"Susah [mengenalkan wayang potehi ke anak muda]. Mereka suka menilai 'ah kuno'," kata Dwi Woro kala ditemui CNNIndonesia.com, Sabtu (1/2). "Kesulitan sebenarnya relatif. Kalau sulit terus, ya tidak jadi-jadi. Tapi kalau ini saya yakin bisa [dikenal di anak muda]. Dan cara menyampaikannya juga dengan santai,"

Menikmati Wayang Potehi Rasa MilenialPertunjukan wayang potehi. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Dwi Woro mengakui memang ada penolakan dari sebagian pihak atas ragam modifikasi dari wayang potehi versi milenial ini. Namun ia menganggap hal itu lebih sebagai pengingat dan koreksi dari seniman wayang potehi senior atas pakem yang digunakan generasi milenial.

"Wayang potehi itu sudah berada dalam kategori wayang, dan sudah terikat pula penyebutan wayang sebagai warisan dunia bahwa wayang di Indonesia memiliki nilai budaya yang tinggi, karena cerita di dalamnya mengandung filosofi kehidupan dan menyampaikan banyak informasi kebajikan," katanya.

"Indonesia sudah menerima penghargaan UNESCO, isinya wayang sebagai warisan budaya dunia. Bukan cuma [skala] Indonesia, tapi dunia. Siapa yang harus bertanggung jawab? Kita semua," lanjutnya.

Semangat mengenalkan wayang potehi ke generasi milenial tanpa harus mengingat kesenian itu hanya datang setiap Imlek datang juga muncul dari Fajar dan Wahyu. Setidaknya, pertunjukan wayang potehi ada di sanggar Rumah Cinta Wayang di Depok tiap pekan ketiga.

"Wayang golek atau wayang kulit terus ada karena dipopulerkan, dan mereka tidak statis juga 'manut' omongan pasar. Jadi wayang potehi bisa berkembang asal mau diajak bertemu dengan masyarakat dan mau ikut kemauan masyarakat tanpa meninggalkan ciri khasnya," kata Fajar.

"Ya kalau di hadapan milenial, ya [tampil] milenial lah," lanjutnya, tertawa. (ptj, end/has)