Namun, keputusan itu bukan hal yang mudah dan murah bagi studio. Seorang sumber mengatakan kepada Hollywood Reporter bahwa MGM setidaknya merogoh kocek US$30 juta hingga US$50 juta (Rp423 miliar hingga Rp714 miliar) untuk memindahkan jadwal tayang, mundur tujuh bulan.
Meskipun sebagian besar kampanye promo untuk film yang diarahkan oleh Cary Joji Fukunaga belum diluncurkan, tapi pengeluaran pemasaran sudah signifikan hanya empat minggu sebelum rilis, termasuk promosi senilai US$4,5 juta di Super Bowl yang diadakan pada Februari silam. MGM menolak berkomentar soal ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini, anggaran produksi untuk film No Time to Die setara dengan anggaran untuk film Bond terakhir, Spectre (2015) sebesar US$245 juta. Sumber mengatakan keputusan studio untuk memindahkan penayangan No Time to Die ke 12 November di Inggris dan 25 November di Amerika Utara sebagian besar didasarkan pada realitas ekonomi yang banyak dilanda petaka.
Itu bisa berdampak pada penghasilan minimum sekitar 30 persen dari penghitungan box office terakhir - kemungkinan US$300 juta dari prediksi US$1 miliar hasil penjualan global. Untuk itu, keputusan menunda film seperti yang diminta para penggemar merupakan salah satu pilihan terbaik.
No Time To Die merupakan film James Bond ke-25 sekaligus yang terakhir bagi Daniel Craig karena usianya sudah tak lagi sesuai dengan konsep si mata-mata yang 'abadi' di usia 33 tahun.
Selain Craig, film juga dibintangi Rami Malek, Léa Seydoux, Ralph Fiennes, Ben Whishaw, dan Naomie Harris.
[Gambas:Video CNN] (agn/rea)