Review Film: The Half of It

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 15/05/2020 19:33 WIB
The Half of It
dok. Netflix via imdb Menurut review, film The Half of It bisa menjadi salah satu pilihan yang ringan nan menghangatkan kala menjalani masa pandemi yang suram ini. (dok. Netflix)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kisah remaja yang tengah mencari jati diri serta memahami arti cinta menjadi gambaran utama dari film terbaru Netflix, The Half of It yang dirilis kala pandemi Covid-19.

The Half of It merupakan film bergenre drama komedi yang mengisahkan Ellie Chu (Leah Lewis), gadis pintar nan penyendiri keturunan China-Amerika yang tinggal di sebuah kota kecil, Squahamish.

Kepintaran Ellie kerap digunakan kawan-kawannya di sekolah untuk 'membantu' menuliskan esai.


Hingga pada suatu hari, Ellie Chu didekati Paul Munsky (Daniel Diemer), merupakan anak laki-laki baik hati, pemain sepak bola yang juga anak pemilik toko daging dekat rumahnya.

Ia meminta Ellie menuliskan surat cinta bagi Aster Flores, gadis pujaan di sekolahnya atas nama Paul. Ellie yang semula menolak hal bersifat pribadi itu akhirnya terpaksa menyanggupi demi uang dan keluarga.

Perjanjian antara Ellie dan Paul semula hanya satu surat saja, tapi dia kemudian terlibat lebih dalam hingga membantu Paul berkomunikasi dan memahami sosok Aster.

Ellie sukses membuat Aster luluh dengan Paul, tapi di sisi lain, ia mulai mempertanyakan jati dirinya.

The Half of It sebenarnya mengingatkan pada sejumlah film atau serial drama remaja lain seperti To All the Boys I Loved Before, Sex Education, Sierra Burgess is a Loser, The Kissing Booth, serta Love, Rosie.

Kisah sejumlah film itu mengeksplorasi kehidupan remaja mulai dari persahabatan, percintaan, hingga pencarian jati diri. Tak luput, isu-isu seperti masalah perundungan, rasisme, dan LGBT juga menjadi hal yang diangkat dalam kisah tersebut.

The Half of Itdok. Netflix via imdbMenurut review, film The Half of It bisa menjadi salah satu pilihan yang ringan nan menghangatkan kala menjalani masa pandemi yang suram ini. (dok. Netflix)

Akan tetapi, sutradara Alice Wu Wu mengemas kisah The Half of It dengan hangat dan menyentuh yang membuat film ini menjadi lebih menarik.

Kisah The Half of It terbilang cukup mudah untuk dinikmati, mulai dari mengikuti persahabatan Paul-Ellie, hingga melihat sosok Aster yang meski memiliki segalanya ia juga dirundung bingung atas apa yang ia inginkan.

Para karakter The Half of It juga mengalami pengembangan dengan baik. Tiap karakter yang semula tampak ragu, pada akhirnya digambarkan tumbuh dari cara bersikap dan percaya diri atas kemauannya.

Tak luput, ikatan emosi atau chemistry antar karakter dalam film ini juga muncul dengan cukup baik.


Di samping itu, Wu juga menaruh pesan terkait kehidupan orang Asia di Amerika. Hal itu tercermin dari kehidupan ayah Ellie, seorang insinyur hebat namun sulit mendapatkan pekerjaan karena keterbatasan bahasa.

Satu poin menarik lainnya dari The Half of It yakni suasana yang dibangun dari sisi sinematografi serta musik yang mengiringi film ini.

Secara garis besar, The Half of It bisa menjadi salah satu pilihan film ringan nan menghangatkan yang dapat disaksikan selama masa pandemi global Covid-19.

[Gambas:Youtube]


(end)