Review Film: Just Mercy

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Jumat, 17/07/2020 19:02 WIB
Just Mercy. Meski ada sejumlah kerikil pengganjal, Just Mercy dapat membawa penonton ke petualangan emosional mengenai rasialisme dalam sistem hukum di Amerika Serikat. (Dok. Warner Bros. Pictures via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gemuruh tepuk tangan dan siulan menggema tanpa henti selama delapan menit di salah satu auditorium Toronto International Film Festival pada 6 September 2019, tepat setelah film Just Mercy untuk pertama kalinya diputar.

Sebagian penonton sibuk menyeka air mata, sementara yang lain berdiri, bertepuk tangan mengiringi perjalanan sutradara dan para pemeran Just Mercy naik ke atas pentas.

Tak berlebihan jika air mata mengalir begitu deras. Film ini memang dapat membawa penonton mengarungi lautan emosi sembari memperlihatkan ketidakadilan dalam sistem peradilan Amerika Serikat, terutama terhadap kulit hitam.


Meski berlatar pada medio 1980-an, film ini masih relevan hingga saat ini, apalagi setelah gaung kampanye Black Lives Matter kian keras karena serangkaian penembakan polisi terhadap warga kulit hitam di AS.

Secara garis besar, film ini mengangkat kisah nyata seorang pengacara lulusan Harvard, Bryan Stevenson (Michael B Jordan), dalam memperjuangkan keadilan, terutama bagi warga kulit hitam yang terancam hukuman mati tanpa proses peradilan jelas.

Namanya melambung ketika menangani kasus Walter McMillian alias Johnny D. Tanpa bukti dan proses peradilan jelas, Johnny D langsung diganjar hukuman mati atas tuduhan pembunuhan terhadap perempuan kulit putih bernama Ronda Morrison pada 1986.

[Gambas:Youtube]

Tak ubahnya seperti perjalanan memperjuangkan kesetaraan di Amerika Serikat, Just Mercy juga membawa penonton dalam petualangan emosional, mulai dari kebingungan di awal film, kemudian menangis karena kisah pedih, dan ditutup dengan harapan di akhir.

Petualangan emosi itu dimulai dengan adegan penangkapan Johnny D (Jamie Foxx) kala ia baru pulang bekerja dari hutan. Meski kebingungan akan tuduhan pembunuhan yang diarahkan padanya, Johnny D tetap diganjar hukuman mati.

Baru selesai penonton mencerna adegan tersebut, film tiba-tiba berlanjut ke momen kala Stevenson sedang magang dan berkunjung ke salah satu penjara untuk berbicara dengan warga kulit hitam terpidana mati.

Tak dijelaskan lebih lanjut siapa sebenarnya tahanan itu dan pengaruhnya bagi kisah perjalanan karier Stevenson. Yang jelas, pria itu bukan Johnny D. Kelanjutan kisah pria itu pun tak lagi dijelaskan dalam film.

Sebagai pembaca buku Stevenson yang menjadi inspirasi film ini, saya sedikit kecewa. Di dalam buku, diceritakan jelas kasus pria tersebut dan bagaimana momen itu jadi titik balik bagi Stevenson untuk mengejar karier pengacara demi membela terpidana mati.

Tak adil memang membandingkan buku dengan film. Namun, tak adil pula rasanya jika sang sutradara, Destin Daniel Cretton, memasukkan momen itu tanpa memikirkan kesinambungan antar-adegan.

Cretton seolah meninggalkan penonton mengernyitkan dahi sendiri tanpa kejelasan. Penonton tahu ada yang salah, tapi tak paham betul letak kejanggalannya.

Namun, Cretton berhasil menyingkirkan kerikil di awal itu dan melanjutkan perjalanan film dengan mulus. Cretton dapat merangkum isi buku yang berbelit-belit ke dalam satu narasi padat, tapi tetap ringan.

Sebut saja saat menjelaskan detail kejanggalan dalam kasus Johnny D. Cretton hanya menggunakan satu adegan, yaitu perbincangan dengan keluarga besar sang terpidana mati.

Cerita yang rumit dapat tersaji ringan dengan sedikit banyolan khas ibu-ibu kulit hitam di sela santap malam keluarga.

Taktik serupa juga terlihat dalam cara Cretton menjelaskan situasi politik di AS yang membuat para jaksa enggan membela Johnny D. Semua tergambarkan hanya dalam perbincangan telepon antara Stevenson dan rekannya, Eva Ansley (Brie Larson).

Dalam adegan itu, Ansley menelepon sambil menyiapkan makan siang bagi anak-anaknya. Penulis naskah sangat cerdas karena dapat membuat perbincangan begitu ringan dan penonton bisa mengerti dengan bahasa Ansley yang sederhana.

Cretton sendiri juga cerdas karena dapat menggabungkan tiga kisah terpisah terpidana yang ditangani Stevenson dalam satu wadah segar. Dalam film, sel tahanan Johnny D digambarkan berdampingan dengan Herbet Richardson (Rob Morgan) dan Anthony Ray Hinton (O'Shea Jackson Jr).

Just Mercy.Jusy Mercy. (Dok. Warner Bros. Pictures via IMDb)

Interaksi para terpidana mati ini membawa kehangatan dalam film. Meski kursi listrik menanti, mereka terus saling menguatkan diri, termasuk dengan kelakar menggelitik. Adegan banyolan itu membuat terpidana mati menjadi manusia yang utuh.

Cretton memang pernah berkata dalam sebuah wawancara, "Humor adalah kemanusiaan. Jika kalian bisa berkelakar mengenai sesuatu yang sulit, itu sangat menggerakkan hati saya."

Olah emosi ketiga tahanan ini patut diacungi jempol. Jamie Foxx tentu tak perlu dipertanyakan lagi. Aktingnya dalam film ini disebut-sebut sebagai salah satu penampilan terbaik sepanjang kariernya.

Namun, akting Rob Morgan juga tak bisa disepelekan. Ia dapat menggambarkan perang batin Richardson dengan begitu natural di hadapan kamera.

Untuk peran pendukung, karakter Richardson begitu mencuri perhatian karena menggambarkan dilema veteran tentara pengidap trauma perang (PTSD) yang tak sengaja membunuh orang.

Tak ada yang bisa menyalahkan jika akhirnya tangis penonton pecah ketika Richardson dieksekusi mati di kursi listrik.

Adegan itu sendiri dieksekusi dengan sempurna, mulai dari ketegangan menjelang eksekusi, hingga akhirnya Richardson terikat di kursi listrik diiringi lagu pesanannya, The Old Rugged Cross.

"So I'll cherish the old rugged cross... Till my trophies at last I lay down..."

Bicara soal lagu, pilihan musik dalam film ini juga sangat mendukung tiap adegan. Misalnya, lagu Don't Wanna Fight karya Alabama Shakes saat mengiringi kepergian Stevenson setelah mendapat restu dari ibunya.

Just Mercy.Bryan Stevenson dalam Just Mercy. (Dok. Warner Bros. Pictures via IMDb)

Awalnya, ibu Stevenson kecewa karena dengan gelar sarjana hukum dari Harvard, putranya seharusnya bisa bekerja di mana pun. Namun, Stevenson memilih menjadi pengacara bagi para terpidana mati yang tentu berisiko besar.

Adegan diakhiri dengan kepergian Stevenson dari rumahnya di Delaware ke Alabama, di mana ia akan mendirikan Equal Justice Initiative. Lagu Alabama Shakes sangat menyatu dengan adegan tersebut, tak hanya secara musikal, tapi juga liriknya.

My line, your line
Don't cross them lines
What you like, what I like
Why can't we both be right?

Selain lagu, musik latar Just Mercy yang digarap oleh Joel P West juga membungkus berbagai adegan dengan apik. Tak heran ketika mendengar pengakuan West bahwa ia sudah memikirkan semua musiknya bahkan setahun sebelum Cretton memulai syuting.

Film akhirnya terbungkus sempurna dengan kemenangan Johnny D dalam persidangan dan pidato Stevenson dalam rapat dengar pendapat di Senat AS mengenai hukuman mati pada 1 April 1993.

Memang klise, tapi momentum film ini yang dirilis berdekatan dengan marak kampanye Black Lives Matter membuat pidato Stevenson relevan dan dapat membawa harapan.

"Sistem kita sudah merampas lebih banyak hal dari orang yang tak bersalah ini (Johnny D) ketimbang kekuatan mereka untuk mengembalikannya. Namun, saya yakin bahwa jika kita bisa mengikuti jejaknya, kita bisa mengubah dunia ini jadi lebih baik," katanya.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK