Nilai dan Kedekatan, Alasan Drama Thailand Digandrungi

CNN Indonesia | Minggu, 13/09/2020 12:13 WIB
Ada beragam alasan penggemar jatuh cinta dengan drama Thailand, mulai dari soal cerita hingga bisa dekat dengan idola. Ilustrasi penggemar drama Thailand. (Dok. Pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kehadiran drama Thailand belakangan menjadi salah satu hiburan yang cukup digandrungi, tak kalah dengan drama Korea. Latar kehidupan yang tak jauh berbeda hingga kaya akan nilai menjadi faktor drama Thailand pun lebih mudah diterima penggemarnya di Indonesia.

Salah satu penggemar drama Thailand itu adalah Raissa Nathania. Raissa mengaku mulai tertarik dengan drama Thailand sekitar dua tahun belakangan. Komedi yang segar dalam drama Thailand membuatnya betah menyaksikan karya dari negeri seberang itu.

"Dan mungkin karena ada beberapa poin gambaran ceritanya relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia, jadi terasa dekat aja," kata Raissa kala bercerita dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu yang lalu.


"Yang bikin unggul menurutku karena drama Thailand berani membahas hal-hal yang di sini masih dianggap tabu, dan ceritanya lebih variatif," lanjutnya.

"Dari drama romansa, komedi, sampai sci-fi mereka bisa eksekusi dengan baik. Dan enggak cuma buat fan lokal saja, mereka tahu cara promosi untuk fan internasional,"

Awal perkenalan Raissa pada drama Thailand sendiri ketika menonton serial Hormones. Namun, serial itu tak langsung membuat ia jatuh hati dan menggilai drama Thailand.

Baru setelah mengikuti serial The Gifted, Love Sick: The Series, serta Who Are You, ia kemudian mengukuhkan diri sebagai pecinta drama Thailand.

"The Gifted ini seru banget karena tentang fantasi misteri, jadi enggak yang cinta-cintaan kayak drama kebanyakan, ceritanya beda tapi dieksekusi dengan baik," papar Raissa.

Drama Thailand, The GiftedDrama Thailand, The Gifted. (dok. Parbdeetawesuk/GMMTV via IMDb)

"Love Sick ini secara produksi menurutku enggak bagus, benar-benar banyak banget kekurangannya, tapi entah kenapa penyampaian ceritanya bagus karena dia cerita tentang topik yang agak tabu yakni LGBT tapi dengan cara yang lembut dan bikin yang nonton terenyuh saja. Secara mereka menceritakan tentang anak sekolah, jadi terasa 'pure' dan enggak berlebihan," dia menambahkan.

Dekat Idola

Sementara untuk serial Who Are you yang diadaptasi dari drama Korea, Raissa menilai drama itu memiliki kualitas produksi serta kemampuan akting pemeran yang baik, bahkan mendapat respons yang lebih unggul dibanding versi asli.

Kecintaan pada drama Thailand ini pun telah membuat ia tak segan pergi menghadiri acara jumpa fan di Thailand yang menampilkan aksi para aktor yang di bawah agensi kenamaan, GMMTV.

Di sana, ia tidak hanya menyaksikan idola di atas panggung tapi juga berkesempatan untuk berinteraksi secara langsung.

Mulai dari menjumpai White Nawat Phumphothingam hingga menyapa langsung dan foto bersama dengan para bintang drama favoritnya, The Gifted yakni Nanon Korapat dan Sing Harit Cheewagaroon.

"Mungkin ini jadi salah satu daya tarik ngikutin drama Thailand, karena kita bisa merasa sedekat itu sama aktornya. Akses ketemu mereka dan untuk interaksi langsung cenderung lebih mudah dibandingkan artis Korea misalnya," ungkapnya.

Drama Thailand, The GiftedNanon Korapat dalam drama Thailand, The Gifted. (dok. Parbdeetawesuk/GMMTV via IMDb)

Kemudahan akses dekat dengan sang idola pun dinilai Raissa membuat penggemar lebih sadar diri dan menghormati.

Tidak hanya di dunia nyata, ia juga mengungkapkan bahwa aktor dan aktris Thailand cukup aktif berkomunikasi dengan penggemar via media sosial. Bahkan, di masa pandemi ini, para bintang tersebut menyempatkan diri menggelar jumpa fan virtual.

"Overall, mereka tahu cara fan service dengan baik. Dan itu sih, mungkin karena kebiasaan dan budaya mereka ada yang mirip dengan Indonesia, jadi terasa dekat," tambahnya.

Budaya

Sementara itu, Antonius yang merupakan warga Indonesia yang telah menetap di Thailand sejak lima tahun lalu, berbagi pandangan tentang perkembangan drama Thailand selama ia tinggal di sana.

Menurutnya, yang menjadi keunggulan drama Thailand yakni menyisipkan nilai-nilai kehidupan, baik itu budaya, sosial, ataupun refleksi dari kehidupan nyata.

"Ciri khas drama Thailand adalah mereka selalu membawa budaya Thailand itu sendiri baik itu budaya kuno berdasarkan sejarah ataupun budaya modern sekarang ini," kata Antonius.

"Selain itu, selalu ada pelajaran-pelajaran dan nilai-nilai yang disampaikan di setiap drama itu sendiri," lanjutnya.

Drama Thailand, The StrandedAda beragam alasan penggemar jatuh cinta dengan drama Thailand, mulai dari soal cerita hingga bisa dekat dengan idola.: (dok. Bravo Studios/H2L Media Group/Netflix via IMDb)

Setali tiga uang dengan Antonius, kepala penulis skenario studio Kantana yang telah membuat drama dan film Thailand sejak 1951, Lalita Chantasadkosol mengatakan bahwa faktor kedekatan dengan kehidupan penonton adalah kunci dari drama Thailand.

"Penonton massal, terutama pedesaan, ingin menonton sesuatu yang berhubungan dengan mereka. Dengan pemikiran tersebut, kami menciptakan naskah dan menyisipkan twist untuk sebuah cerita yang menghibur dan mudah diikuti," kata Chantasadkosol kepada Bangkok Post pada 2013 lalu.

"Kami harus memahami sifat dan target audiens, dan seperti bagaimana mereka akan makan di toko mie dibanding restoran Italia, kami memberi mereka lakorn yang bagus dengan citarasa lokal," lanjutnya.

Di samping itu, drama yang disuguhkan pun memiliki konten yang ringkas, tidak membosankan dan bertele-tele. Episode untuk tiap drama Thailand hanya berkisar 12 hingga 13 episode, tak jauh berbeda dengan drama Korea.

Hal itulah yang kemudian menurut Antonius dan penggemar drama Thailand lainnya lebih mudah menerima kisah dari Negeri Gajah Putih tersebut. Belum lagi, teknik permainan emosi yang dimainkan.

Drama Thailand, The StrandedIlustrasi. sutradara naskah Sirilux Srisukon menyebut beragam sajian dan cerita yang kadang kontroversial memiliki tujuan khusus. (dok. Bravo Studios/H2L Media Group/Netflix via IMDb)

Sementara itu, soal anggapan konten drama Thailand yang menampilkan hal kontroversial seperti adegan kekerasan serta pelecehan seksual, Antonius berpendapat bahwa itu dihadirkan sebagai bentuk edukasi.

"Di sini selalu mengangkat topik kehidupan nyata dan memberikan nilai-nilai pelajaran yang positif bagi penontonnya. Jadi topik seperti kekerasan, pelecehan seksual dan lainnya ditangkap dengan tujuan positif," ujarnya.

Sementara itu, sutradara naskah Sirilux Srisukon menyebut beragam sajian dan cerita yang kadang kontroversial memiliki tujuan khusus. Apalagi bila bukan menggaet emosi penonton demi menjadi bahan pembicaraan.

"Penonton [lebih] terlibat secara emosi saat menonton lakorn Thailand, sedangkan serial Barat membuat mereka mengikuti ceritanya secara rasional. Acara Barat menjaga jarak dari penonton," kata Srisukon kepada Bangkok Post pada 2013 lalu.

"Tak peduli seberapa sensasional sebuah sinetron [Thailand], sekalinya berakhir, emosi akan habis dan penonton akan beranjak ke kisah selanjutnya sehingga mereka bisa bergabung dalam pembahasan yang sedang ramai," lanjutnya.

"Lakorn adalah topik 'hot' bersama dengan fesyen, sepatu, riasan, yang sering dibicarakan perempuan Thailand," katanya.

(agn/end)

[Gambas:Video CNN]