Asa Serial Lokal Jadi Raja di Dalam dan Luar, Bak Drama Korea
Muhammad Andika Putra | CNN Indonesia
Minggu, 14 Mar 2021 10:34 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Saiyo Sakato. (Dok. GoPlay)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah deras arus sinetron kejar tayang pada 2017, hadir Switch yang disebut-sebut sebagai pionir serial lokal pada wadah streaming atau over the top (OTT) media service di Indonesia.
Tak seperti sinetron, serial ini mengadopsi konsep tayangan OTT lainnya, yaitu dengan episode terbatas dan tersedia di layanan streaming.
Cerita serial yang digarap Nia Dinata ini sederhana, tentang dua sahabat yang jiwanya tertukar. Meski ada beberapa kekurangan, Switch terbilang sebagai serial lokal dengan penggarapan cukup matang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Country Manager Viu Indonesia, Varun Mehta, yakin serial itu akan menarik pelanggan baru Viu yang baru beroperasi di Indonesia mulai 2016. Menurutnya, kala itu hampir tidak ada platform streaming legal yang menyajikan konten Asia, apalagi serial lokal.
"Konten Asia Tenggara dan Asia tidak ada dalam satu destinasi (layanan streaming) di Indonesia. Kami main di sana. Kami tidak main konten Barat. Netflix yang masuk Indonesia juga di tahun 2016 sudah main konten Barat," katanya kepada CNNIndonesia.com saat wawancara virtual beberapa waktu lalu.
Ia memandang bahwa untuk mendapat pelanggan lokal, dalam hal ini Indonesia, Viu harus membuat konten lokal. Di saat yang sama, Viu juga menyiapkan layanan ramah pelanggan.
Setidaknya, setiap tahun mereka memproduksi satu serial lokal, seperti The Publicist (2017), Halustik (2018), Sunshine (2018), Knock Out Girl (2018), Assalamualaikum Calon Imam (2019), dan serial adaptasi bertajuk Pretty Little Liars (2020).
Halustik. (Tangkapan Layar YouTube Viu)
Usaha Viu menarik pelanggan Indonesia dengan konten lokal membuahkan hasil. Platform streaming asal Hong Kong ini menempati peringkat lima dalam laporan App Annie tentang 10 aplikasi hiburan teratas di Indonesia berdasarkan pengguna aktif bulanan.
Pencapaian Viu mengalahkan platform streaming lain, MAXstream (Telkom Indonesia), yang berada di peringkat enam. Kemudian Hooq -- yang kini sudah bangkrut -- berada di peringkat delapan, disusul Iflix pada peringkat sembilan, dan Netflix di peringkat 10.
Jelas, Varun merasa senang dengan laporan tersebut. Namun, laporan itu juga tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan lantaran menurutnya, industri streaming di Indonesia masih belum benar-benar stabil.
"OTT ini masih sunrise. Saat ini, baru lima tahun pertama. Pengalaman saya, lima tahun pertama itu penentuan, apakah industri ini reliable (bisa diandalkan) atau tidak, kemudian apakah pemainnya serius atau tidak," ungkap Varun.
Pada 2017, Hooq juga membuat serial bertajuk Brata yang juga menjadi salah satu pionir serial lokal. Tak lama setelah itu, Iflix membuat serial lokal bertajuk Magic Hour: The Series pada akhir 2017.
Makin lama, kian banyak serial lokal yang diproduksi berbagai platform streaming di Indonesia. Pada 2019, misalnya, platform streaming GoPlay lahir dan turut memproduksi serial lokal bertajuk Filosofi Kopi The Series dan Namanya Juga Mertua. Mereka juga membuat Saiyo Sakato.
Saiyo Sakato. (Dok. GoPlay)
CEO GoPlay, Edy Sulistyo, menjelaskan bahwa platform streaming yang ia pimpin dibuat agar bisa menjadi rumah bagi sineas lokal di negeri sendiri. Jumlah layar bioskop yang terbilang sedikit di Indonesia menjadi salah satu alasan pergerakan sineas terbatas.
"OTT lebih cocok dengan konten serial, dalam hal ini serial lokal, dan memberikan banyak playground untuk sineas. Ketika kami pertama kali lahir di tahun 2019, kami merasa bahwa ini waktu yang tepat," kata Edy.
Bila diperhatikan, kelahiran serial lokal di berbagai platform streaming yang beroperasi di Indonesia membutuhkan waktu cukup lama, kurang lebih lima tahun. Dalam lima tahun belakangan, baru terdapat kurang lebih 20 serial lokal.
Akademisi Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pamungkas, mewajarkan hal tersebut. Salah satunya penyebabnya adalah transisi penonton dari televisi ke platform streaming yang membutuhkan waktu.
"Selain itu, kan ingin membuat serial yang laris dan disukai banyak orang. Kalau mau buat serial lokal yang berkualitas, kan juga butuh waktu. Tapi menurut saya, platform streaming yang membuat pionir serial lokal itu berani," kata Satrio.
Mimpi serial lokal menjamah pasar global bisa dibaca di halaman selanjutnya...
Ketika pergerakan pasar mulai terlihat, kata Satrio, akan semakin banyak pemilik modal seperti rumah produksi dan platform streaming yang tertarik menggarap serial lokal.
Indikasi ini setidaknya bisa dilihat dari pergerakan MD Pictures yang biasa memproduksi sinetron dan film. Mereka bekerja sama dengan WeTV yang baru beroperasi di Indonesia awal 2020 untuk membuat serial lokal bertajuk My Lecturer My Husband.
"Kami enggak membuat konten (sinetron) free to air karena sudah sunset, sudah jam 18:00, sebentar lagi gelap dan lama-lama enggak bisa lagi main di sana. Di sisi lain, kami juga enggak mau membuat serial lokal di OTT sembarangan," kata CEO MD Pictures, Manoj Punjabi.
Sejak awal, WeTV memang menyasar penggemar drama Asia, seperti konten asal Mandarin, Thailand, dan tentunya Indonesia. WeTV pertama kali membuat serial Yowis Ben: The Series yang bekerja sama dengan Starvision Plus.
"Kami ingin membuat konten lokal yang berkualitas. Bukan berarti yang sudah ada tidak berkualitas tetapi ada gap perlakuan yang berbeda, perlakuan belum sampai ke tahap film. Kami ingin eksplorasi di situ," kata Country Manager WeTV dan iflix Indonesia, Lesley Simpson, kepada CNNIndonesia.com.
Dengan MD Pictures, WeTV bekerja sama untuk memproduksi serial My Lecturer My Husband. Serial ini sebenarnya berisi cerita yang sangat sederhana, yaitu soal perjodohan. Namun, eksekusi dari sisi teknis dan non teknis terbilang baik.
Manoj mengakui bahwa memproduksi serial yang berkualitas akan lebih sulit dan mahal dari biasanya. Namun, tantangan itu tidak menjadi masalah baginya selama bisa memproduksi serial berkualitas semaksimal mungkin.
"Biaya produksi film beragam, ada yang Rp4 miliar, Rp10 miliar, dan Rp 20 miliar, tingkatnya berbeda. Begitu pula produksi serial lokal dengan penggarapan setara film. Biaya produksi My Lecturer My Husband bisa dibilang tingkatan atas kalau di film," kata Manoj.
Menarik Penonton Global
Lebih jauh, kehadiran OTT juga dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan serial Indonesia ke pasar global karena bisa diakses di berbagai negara lain. Viu, misalnya, sampai saat ini bisa diakses 16 negara.
"Penonton dari luar negeri ada. Negara ini lesser known in terms of content ketimbang negara lain. Konten Indonesia jarang keluar, tapi sejauh ini penikmat serial lokal ada dari Singapura dan Thailand. Penonton tidak besar, tetapi ada," kata Varun.
Ia menilai industri hiburan Indonesia perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah bila benar-benar ingin menarik perhatian penonton global. Varun mencontohkan Jepang yang sangat mendapat dukungan hingga berbagai kontennya dikenal dunia.
"Korea melakukan hal yang sama dengan Jepang. Sebelum Korea kan Jepang lebih dulu. Kemudian Korea memasukkan berbagai budaya dalam konten yang disebar ke seluruh dunia. Kita perlu Indonesia sampai ke tahap itu," katanya.
Serupa dengan Viu, serial lokal di WeTV juga mendapat penonton dari luar negeri. Lesley mengklaim Malaysia menjadi negara selain Indonesia yang banyak menonton serial tersebut.
"Saya berharap bisa keliling seluruh dunia. Saat ini kami sedang proses pengerjaan subtitle dan menyesuaikan penyensoran dengan pemerintah di beberapa negara," kata Lesley.
Selain Asia, ia mengatakan WeTV juga tersedia di kawasan Amerika Serikat, Australia, dan Eropa. Beberapa kali My Lecturer My Husband sempat menempati peringkat atas serial lokal yang paling ditonton di beberapa negara tersebut.
"Mungkin memang penonton di negara yang disampaikan Lesley tidak banyak, tetapi mulai tumbuh. Menurut saya, ini adalah starting step yang baik bagi serial lokal," kata Manoj.
Ia kemudian berkata, "Target kita ke depan harus tumbuh lebih baik, tapi yang pasti kita harus jadi tuan rumah dulu dan itu sudah ada tanda positif."
Jakarta, CNN Indonesia --
Di tengah deras arus sinetron kejar tayang pada 2017, hadir Switch yang disebut-sebut sebagai pionir serial lokal pada wadah streaming atau over the top (OTT) media service di Indonesia.
Tak seperti sinetron, serial ini mengadopsi konsep tayangan OTT lainnya, yaitu dengan episode terbatas dan tersedia di layanan streaming.
Cerita serial yang digarap Nia Dinata ini sederhana, tentang dua sahabat yang jiwanya tertukar. Meski ada beberapa kekurangan, Switch terbilang sebagai serial lokal dengan penggarapan cukup matang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Country Manager Viu Indonesia, Varun Mehta, yakin serial itu akan menarik pelanggan baru Viu yang baru beroperasi di Indonesia mulai 2016. Menurutnya, kala itu hampir tidak ada platform streaming legal yang menyajikan konten Asia, apalagi serial lokal.
"Konten Asia Tenggara dan Asia tidak ada dalam satu destinasi (layanan streaming) di Indonesia. Kami main di sana. Kami tidak main konten Barat. Netflix yang masuk Indonesia juga di tahun 2016 sudah main konten Barat," katanya kepada CNNIndonesia.com saat wawancara virtual beberapa waktu lalu.
Ia memandang bahwa untuk mendapat pelanggan lokal, dalam hal ini Indonesia, Viu harus membuat konten lokal. Di saat yang sama, Viu juga menyiapkan layanan ramah pelanggan.
Setidaknya, setiap tahun mereka memproduksi satu serial lokal, seperti The Publicist (2017), Halustik (2018), Sunshine (2018), Knock Out Girl (2018), Assalamualaikum Calon Imam (2019), dan serial adaptasi bertajuk Pretty Little Liars (2020).
Halustik. (Tangkapan Layar YouTube Viu)
Usaha Viu menarik pelanggan Indonesia dengan konten lokal membuahkan hasil. Platform streaming asal Hong Kong ini menempati peringkat lima dalam laporan App Annie tentang 10 aplikasi hiburan teratas di Indonesia berdasarkan pengguna aktif bulanan.
Pencapaian Viu mengalahkan platform streaming lain, MAXstream (Telkom Indonesia), yang berada di peringkat enam. Kemudian Hooq -- yang kini sudah bangkrut -- berada di peringkat delapan, disusul Iflix pada peringkat sembilan, dan Netflix di peringkat 10.
Jelas, Varun merasa senang dengan laporan tersebut. Namun, laporan itu juga tidak bisa menjadi satu-satunya tolok ukur keberhasilan lantaran menurutnya, industri streaming di Indonesia masih belum benar-benar stabil.
"OTT ini masih sunrise. Saat ini, baru lima tahun pertama. Pengalaman saya, lima tahun pertama itu penentuan, apakah industri ini reliable (bisa diandalkan) atau tidak, kemudian apakah pemainnya serius atau tidak," ungkap Varun.
Pada 2017, Hooq juga membuat serial bertajuk Brata yang juga menjadi salah satu pionir serial lokal. Tak lama setelah itu, Iflix membuat serial lokal bertajuk Magic Hour: The Series pada akhir 2017.
Makin lama, kian banyak serial lokal yang diproduksi berbagai platform streaming di Indonesia. Pada 2019, misalnya, platform streaming GoPlay lahir dan turut memproduksi serial lokal bertajuk Filosofi Kopi The Series dan Namanya Juga Mertua. Mereka juga membuat Saiyo Sakato.
Saiyo Sakato. (Dok. GoPlay)
CEO GoPlay, Edy Sulistyo, menjelaskan bahwa platform streaming yang ia pimpin dibuat agar bisa menjadi rumah bagi sineas lokal di negeri sendiri. Jumlah layar bioskop yang terbilang sedikit di Indonesia menjadi salah satu alasan pergerakan sineas terbatas.
"OTT lebih cocok dengan konten serial, dalam hal ini serial lokal, dan memberikan banyak playground untuk sineas. Ketika kami pertama kali lahir di tahun 2019, kami merasa bahwa ini waktu yang tepat," kata Edy.
Bila diperhatikan, kelahiran serial lokal di berbagai platform streaming yang beroperasi di Indonesia membutuhkan waktu cukup lama, kurang lebih lima tahun. Dalam lima tahun belakangan, baru terdapat kurang lebih 20 serial lokal.
Akademisi Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Satrio Pamungkas, mewajarkan hal tersebut. Salah satunya penyebabnya adalah transisi penonton dari televisi ke platform streaming yang membutuhkan waktu.
"Selain itu, kan ingin membuat serial yang laris dan disukai banyak orang. Kalau mau buat serial lokal yang berkualitas, kan juga butuh waktu. Tapi menurut saya, platform streaming yang membuat pionir serial lokal itu berani," kata Satrio.
Mimpi serial lokal menjamah pasar global bisa dibaca di halaman selanjutnya...
Mimpi Serial Lokal Jamah Pasar Global bak Drama Korea
My Lecturer My Husband. (Tangkapan Layar YouTube WeTV)
Ketika pergerakan pasar mulai terlihat, kata Satrio, akan semakin banyak pemilik modal seperti rumah produksi dan platform streaming yang tertarik menggarap serial lokal.
Indikasi ini setidaknya bisa dilihat dari pergerakan MD Pictures yang biasa memproduksi sinetron dan film. Mereka bekerja sama dengan WeTV yang baru beroperasi di Indonesia awal 2020 untuk membuat serial lokal bertajuk My Lecturer My Husband.
"Kami enggak membuat konten (sinetron) free to air karena sudah sunset, sudah jam 18:00, sebentar lagi gelap dan lama-lama enggak bisa lagi main di sana. Di sisi lain, kami juga enggak mau membuat serial lokal di OTT sembarangan," kata CEO MD Pictures, Manoj Punjabi.
Sejak awal, WeTV memang menyasar penggemar drama Asia, seperti konten asal Mandarin, Thailand, dan tentunya Indonesia. WeTV pertama kali membuat serial Yowis Ben: The Series yang bekerja sama dengan Starvision Plus.
"Kami ingin membuat konten lokal yang berkualitas. Bukan berarti yang sudah ada tidak berkualitas tetapi ada gap perlakuan yang berbeda, perlakuan belum sampai ke tahap film. Kami ingin eksplorasi di situ," kata Country Manager WeTV dan iflix Indonesia, Lesley Simpson, kepada CNNIndonesia.com.
Dengan MD Pictures, WeTV bekerja sama untuk memproduksi serial My Lecturer My Husband. Serial ini sebenarnya berisi cerita yang sangat sederhana, yaitu soal perjodohan. Namun, eksekusi dari sisi teknis dan non teknis terbilang baik.
Manoj mengakui bahwa memproduksi serial yang berkualitas akan lebih sulit dan mahal dari biasanya. Namun, tantangan itu tidak menjadi masalah baginya selama bisa memproduksi serial berkualitas semaksimal mungkin.
"Biaya produksi film beragam, ada yang Rp4 miliar, Rp10 miliar, dan Rp 20 miliar, tingkatnya berbeda. Begitu pula produksi serial lokal dengan penggarapan setara film. Biaya produksi My Lecturer My Husband bisa dibilang tingkatan atas kalau di film," kata Manoj.
Menarik Penonton Global
Lebih jauh, kehadiran OTT juga dapat menjadi wadah untuk memperkenalkan serial Indonesia ke pasar global karena bisa diakses di berbagai negara lain. Viu, misalnya, sampai saat ini bisa diakses 16 negara.
"Penonton dari luar negeri ada. Negara ini lesser known in terms of content ketimbang negara lain. Konten Indonesia jarang keluar, tapi sejauh ini penikmat serial lokal ada dari Singapura dan Thailand. Penonton tidak besar, tetapi ada," kata Varun.
Ia menilai industri hiburan Indonesia perlu mendapat dukungan penuh dari pemerintah bila benar-benar ingin menarik perhatian penonton global. Varun mencontohkan Jepang yang sangat mendapat dukungan hingga berbagai kontennya dikenal dunia.
"Korea melakukan hal yang sama dengan Jepang. Sebelum Korea kan Jepang lebih dulu. Kemudian Korea memasukkan berbagai budaya dalam konten yang disebar ke seluruh dunia. Kita perlu Indonesia sampai ke tahap itu," katanya.
Serupa dengan Viu, serial lokal di WeTV juga mendapat penonton dari luar negeri. Lesley mengklaim Malaysia menjadi negara selain Indonesia yang banyak menonton serial tersebut.
"Saya berharap bisa keliling seluruh dunia. Saat ini kami sedang proses pengerjaan subtitle dan menyesuaikan penyensoran dengan pemerintah di beberapa negara," kata Lesley.
Selain Asia, ia mengatakan WeTV juga tersedia di kawasan Amerika Serikat, Australia, dan Eropa. Beberapa kali My Lecturer My Husband sempat menempati peringkat atas serial lokal yang paling ditonton di beberapa negara tersebut.
"Mungkin memang penonton di negara yang disampaikan Lesley tidak banyak, tetapi mulai tumbuh. Menurut saya, ini adalah starting step yang baik bagi serial lokal," kata Manoj.
Ia kemudian berkata, "Target kita ke depan harus tumbuh lebih baik, tapi yang pasti kita harus jadi tuan rumah dulu dan itu sudah ada tanda positif."