Jakarta, CNN Indonesia -- Kala itu, di akhir periode 90-an, seorang anak usia sekolah dasar menjadi satu-satunya anak kecil di lokasi syuting sinetron Lorong Waktu. Ia adalah Jourast Jordy, yang akrab dengan tokoh Zidan di sinetron Lorong Waktu (1999-2006).
Lantas kepada CNNIndonesia.com pria 28 tahun tersebut bercerita bagaimana menjalani proses syuting Lorong Waktu, serta bagaimana karakter Zidan berpengaruh pada kehidupannya.
Tak hanya honor dan ketenaran, sejumlah hal tidak menyenangkan juga beberapa kali ia alami. Saat masuk bangku kuliah, ia memutuskan untuk meninggalkan dunia akting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa yang dirasakan ketika memerankan 'Zidan' di sinetron Lorong Waktu?
Mungkin karena dulu masih kecil jadi enggak merasa gimana-gimana juga, malah baru merasa heran justru ketika dunia luar membandingkan. Orang manggil gue Zidan, gue mikir 'kenapa sih itu kan cuma pura-pura', kenapa jadi meraka yang heboh.
Setelah itu tawaran rame banget, cuma bokap cukup selektif dalam hal ini, jadi yang bokap pilih yang mau dukung jam sekolah anak. Kalau syuting harus korbanin pendidikan itu ditolak.
Masih ada yang manggil 'Zidan'? Risih enggak?
Sampai detik ini masih hahaha. Gue juga bingung, maksudnya udah sekian tahun lalu dan gue ngerasa udah cukup banyak berubah. Kalau masih pada inget, rambut sempat gue botakin 2-3cm, itu aja masih aja ada yang ngenalin.
Risih sih enggak yah, itu konsekuensi yang memang yaudah terima aja. Gua kan enggak mengerti ya, gue enggak memilih, intinya orang tua tau yang terbaik.Ini gue anggap sebagai perjalanan hidup istimewa yang gak semua orang dapet. Memang ada enak dan enggak tapi yaudah nikmati aja.
Bagaimana rasanya jadi artis cilik?
Termasuk aneh, bahkan bisa dibilang dampaknya ke sekarang, karena dulu dengan kesibkan otomatis pulang sekolah syuting, weekend pun syuting. Intinya gue hampir gak punya temen sebaya yang sobi banget, hampir enggak ada.
Jstru gue baru mulai bisa bersosialisasi setelah lepas lorong waktu. Jadi gue baru mulai punya temen deket, punya sahabat, dan punya aktivitas dengan temen-temen setelah lorong waktu. Ya intinya balik lagi itu konsekuensi, ada pro kontra.
 Jourast Jordy kala memerankan 'Zidan' di Lorong Waktu 2 (2000) (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio) |
Apa yang terjadi di sekolah waktu zaman syuting?
Soal bully, waktu kecil gue cukup temperamen. Jadi waktu SD dan SMP, gue diajarkan orang tua kalau verbal enggak usah ditanggapi tapi kalau udah nyentuh ya sudah lo berhak lawan. Kadang kalau udah enggak sabar pake kekerasan tangan melayang.
Kenapa akhirnya terpilih jadi tokoh 'Zidan'?
Kalau pun cerita itu berdasarkan cerita orang tua gue, yang gue tahu katanya gue cocok dan termasuk ceplas-ceplos natural. Dulu kemampuan gue menghafal termasuk cepet, itu yang menjadi salah satu nilai lebih.
Sulitkah adu akting dengan Deddy Mizwar?
Kalau waktu kecil, ketika di dalam set gue tidak menangkap perbedaan dia berakting atau tidak. Jadi sosok Haji Husin di lorong waktu adalah sosok Deddy Mizwar, bedanya hanya di dunia nyata omongan tidak se-religius di film.
Gue nangkepnya pak haji kayak enggak acting. Di luar set pak haji sering bercanda dan nyeletuk ke siapa pun.
Jordy bercerita tentang iming-iming yang ia terima saat syuting Lorong Waktu..
Iming-iming Saat Syuting Lorong Waktu
Jourast Jordy kini berkarier sebagai pegawai Swasta di Jakarta (Foto: CNN Indonesia/ Andika Putra)
Dulu tahu tidak honor syuting Lorong Waktu berapa?
Gue pernah liat sih kepo, kebetulan kan manajer pribadi gue orang tue gue sendiri, gue cuma kepo dan sempat tahu nilainya pas season berapa gitu.
Gue enggak tahu itu besar atau kecil jadi gue yang 'oh yaudah segitu'. Cukup gede bahkan untuk sekarang, lumayan nilainya. Bayaran per episode, nilainya okelah.
Pernah merasa kehilangan masa-masa menjadi anak kecil?
Masa kecil gue berbeda dengan anak kecil pada umumnya. Kembali kata gue awal tadi, berbeda otomatis ada konsekuensi yang harus gue terima atau gue syukuri.
Yang bikin gue beda dengan anak kecil pada umumnya adalah, anak kecil interaksi dengan sebaya gue interaksi dengan yang lebih tua. Tapi apakah gue bisa main? ya bukan mau sombong, tapi di tempat syuting gue merasa raja dan spesial sebagai anak kecil.
 Deddy Mizwar (kiri) dan Jourast Jordy dalam Sinetron Lorong Waktu 2 (2000) (Foto: Tangkapan Layar Film Citra Sinema via Vidio) |
Masa syuting paling berkesan?
Gue inget kalau dulu gue 'one take ok', dulu gue senang junk food, kalau one take ok satu paket fried chicken. Gue pernah 18 kali 'one take ok' dalam satu hari, jadi pulang bawa banyak. Kenyamanan sebagai anak kecil didukung Pak Haji dan orang tua.
Ada beban untuk jadi religius dengan bermain sinetron religi?
Karena gue dari awal ditanamkan kalau itu akting, gue enggak mau itu jadi beban. Walau memang ketika syuting, karena di lingkungan masjid, pasti kebawa. Tapi gue gak mau jadikan itu sebagai beban dan tekanan.
Ketika acting ya acting, tapi di luar acting ya lo kembali menjadi diri lo. Perkara nanti orang membandingkan lo yaudah, toh mereka enggak menafkahi kita juga.
Tapi ada pelajaran agama yang didapat?
Banyak, salah satunya soal amanah. Waktu itu episode soal jualan duren, kemudian tentang amanah. Tentang wudhu, gimana menggunakan air secara tidak berlebihan ketika wudhu.
Terus gimana kita bersikap ketika sandal hilang setelah solat jumat. Ketika ada sandal lain yang tidak bertuan bukan berarti kita bisa ambil sendal itu. Enam season itu banyak pelajaran yang masih nyantol di kepala gue.
Ada wacana reuni Lorong Waktu?
Ada enggak ya? Gue belum pernah denger. Ada sih beberapa yang komporin dan enggak dihubungi juga jadi ya lewat begitu aja.