Fauzi Baadila akting di film Rindu Kami PadaMu. (Tangkapan Layar Akun Youtube Flik TV)
Jakarta, CNN Indonesia --
Lebaran tak lagi ditemani salah satu orang terkasih tentu cukup sedih. Itu yang juga saya rasakan ketika ditinggal ayah mertua yang berpulang pada pertengahan Ramadhan lalu.
Perasaan rindu yang teramat terutama dirasakan istri saya, adik-adiknya, maupun ibu mertua saya.
Tahun ini juga menjadi Lebaran yang bisa dibilang sedih bagi sebagian orang-orang Indonesia. Rindu keluarga di kampung halaman ketika sebagian mencoba mematuhi aturan larangan mudik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah terpaksa membuat aturan pelarangan mudik demi kepentingan bersama mencegah lonjakan kasus Covid-19 di masa pandemi.
Sisi kerinduan itu pula yang dimanifestasikan dan dieksplorasi dalam film Rindu Kami PadaMu. Cerita film karya Garin Nugroho ini berpusat pada sosok gadis kecil disabilitas bernama Rindu diperankan oleh Raisa Pramesi.
Sang ibu yang diperankan Neno Warisman merupakan pedagang kelontong di pasar tradisional yang terus menunggu kehadiran anak pertamanya, kakak Rindu.
Bukan hanya menceritakan sosok Rindu dan ibunya yang diselimuti kerinduan orang tercinta. Ada pula Asih, sosok bocah perempuan yang teramat rindu menanti kehadiran ibunda tercinta.
Sang ibu telah lama minggat dari rumah karena kekerasan oleh sang ayah. Sang ayah yang diperankan Jaja Miharja itu pun telah menyesali kelakuan masa lalu dan berharap istrinya kembali.
Bocah perempuan ini kerap membentangkan sajadah kosong di samping kanannya ketika salat berjamaah. Ia selalu berharap sajadah itu diisi oleh ibunya. Jika ada orang lain yang mencoba menempatinya, buru-buru ia usir.
Ada pula penjual telur yang diperankan Fauzi Baadila yang tinggal bersama bocah kecil. Mereka hidup tanpa orang tua yang telah meninggal dunia.
Sang pemuda itu kerap memarahi adiknya yang sering main di rumah wanita muda yang diperankan Nova Eliza. Ia merupakan seorang karyawati yang tinggal di kost dekat pasar tradisional.
Bocah kecil itu rindu sosok ibu sehingga kerap bermain dan memasak mie instan untuk perempuan itu.
Ada pula sosok guru ngaji yang diperankan mendiang Didi Petet. Sang guru mengaji amat terobsesi dengan kubah untuk musala tempatnya mengabdi. Ia menganggap masjid tanpa kubah, belum utuh sebagai musala.
Banyak lagi karakter lain yang menjadikan Rindu Kami Padamu benar-benar hidup.
Baca review Rindu Kami PadaMu di halaman berikutnya...
Kerinduan yang universal akan Tuhan, sebenarnya yang mencoba digambarkan Garin. Namun, bukan melalui dogma-dogma atau formalitas lainnya. Kerinduan tersebut digambarkan dalam kehidupan dan persoalan keseharian.
Seperti persoalan ketika ada seorang wanita perempuan yang mengancam bunuh diri demi mendapatkan cinta dan perhatian sang ayah secara utuh.
Latar lagu Rindu Rasul kalangan Bimbo, menambah syahdu film tersebut. Di antara deretan film karya Garin, ia mencoba membuat genre film religius.
Meski demikian, kritik sosial tetap melekat di film karya Garin seperti halnya Daun di Atas Bantal. Namun, Rindu Kami Padamu tak terlalu mencoba menggali tragedi keseharian seperti sejumlah film Garin lainnya.
Meski berlabel film religius, Garin tak ingin menonjolkan simbol-simbol keagamaan secara vulgar. Sisi-sisi manusiawi seperti rasa rindu yang menyeruak yang justru ditampilkan.
Akting para pementas teater seperti Didi Petet, Fauzi Baadila, Nova Eliza, hingga Neno Warisman, menambah kuat film Rindu Kami Padamu.
Dialog yang mengalir dan sejumlah problem keseharian yang hadir di film itu cukup membuat saya hanyut ke dalamnya.
Dalam film itu, Rindu akhirnya bisa bersua sang kakak yang pulang dari rantauan. Sang kakak memboyong kubah untuk musala.
Sang pedagang telur akhirnya menjalin cinta dengan perempuan di kost. Begitu pula Asih, bocah perempuan yang akhirnya dikejutkan dengan kehadiran sang ibu mengisi sajadah kosongnya di salat berjamaah.
Sontak, ada keharuan yang mencuat di akhir cerita.
Namun sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai akhir film yang begitu happy ending. Rasa kerinduan teramat ketika menyaksikan film itu, seolah dihentikan begitu saja dengan cerita-cerita bahagia di film itu.
Akhir bahagia ini pula yang membuat saya berpikir, Rindu Kami Padamu kok serasa enggak Garin banget ya?
Namun ada kerinduan spesial yang saya rasakan ketika kembali menonton film yang tayang 2004 itu. Saya rindu sosok seperti Fauzi Baadila hingga Neno Warisman untuk kembali menunjukkan kehebatan berakting di film berkualitas, terlepas dari kehebohan mereka yang kadang berseliweran di media terkait kondisi politik saat ini.
Kerinduan yang teramat sangat pula menyaksikan akting-akting berkarakter mendiang Didi Petet.
Jakarta, CNN Indonesia --
Lebaran tak lagi ditemani salah satu orang terkasih tentu cukup sedih. Itu yang juga saya rasakan ketika ditinggal ayah mertua yang berpulang pada pertengahan Ramadhan lalu.
Perasaan rindu yang teramat terutama dirasakan istri saya, adik-adiknya, maupun ibu mertua saya.
Tahun ini juga menjadi Lebaran yang bisa dibilang sedih bagi sebagian orang-orang Indonesia. Rindu keluarga di kampung halaman ketika sebagian mencoba mematuhi aturan larangan mudik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah terpaksa membuat aturan pelarangan mudik demi kepentingan bersama mencegah lonjakan kasus Covid-19 di masa pandemi.
Sisi kerinduan itu pula yang dimanifestasikan dan dieksplorasi dalam film Rindu Kami PadaMu. Cerita film karya Garin Nugroho ini berpusat pada sosok gadis kecil disabilitas bernama Rindu diperankan oleh Raisa Pramesi.
Sang ibu yang diperankan Neno Warisman merupakan pedagang kelontong di pasar tradisional yang terus menunggu kehadiran anak pertamanya, kakak Rindu.
Bukan hanya menceritakan sosok Rindu dan ibunya yang diselimuti kerinduan orang tercinta. Ada pula Asih, sosok bocah perempuan yang teramat rindu menanti kehadiran ibunda tercinta.
Sang ibu telah lama minggat dari rumah karena kekerasan oleh sang ayah. Sang ayah yang diperankan Jaja Miharja itu pun telah menyesali kelakuan masa lalu dan berharap istrinya kembali.
Bocah perempuan ini kerap membentangkan sajadah kosong di samping kanannya ketika salat berjamaah. Ia selalu berharap sajadah itu diisi oleh ibunya. Jika ada orang lain yang mencoba menempatinya, buru-buru ia usir.
Ada pula penjual telur yang diperankan Fauzi Baadila yang tinggal bersama bocah kecil. Mereka hidup tanpa orang tua yang telah meninggal dunia.
Sang pemuda itu kerap memarahi adiknya yang sering main di rumah wanita muda yang diperankan Nova Eliza. Ia merupakan seorang karyawati yang tinggal di kost dekat pasar tradisional.
Bocah kecil itu rindu sosok ibu sehingga kerap bermain dan memasak mie instan untuk perempuan itu.
Ada pula sosok guru ngaji yang diperankan mendiang Didi Petet. Sang guru mengaji amat terobsesi dengan kubah untuk musala tempatnya mengabdi. Ia menganggap masjid tanpa kubah, belum utuh sebagai musala.
Banyak lagi karakter lain yang menjadikan Rindu Kami Padamu benar-benar hidup.
Baca review Rindu Kami PadaMu di halaman berikutnya...
Film Religi ala Garin Nugroho
Didi Petet dan Jaja Miharja akting dalam film Rindu Kami PadaMu. (Tangkapan Layar Akun Youtube Flik TV)
Kerinduan yang universal akan Tuhan, sebenarnya yang mencoba digambarkan Garin. Namun, bukan melalui dogma-dogma atau formalitas lainnya. Kerinduan tersebut digambarkan dalam kehidupan dan persoalan keseharian.
Seperti persoalan ketika ada seorang wanita perempuan yang mengancam bunuh diri demi mendapatkan cinta dan perhatian sang ayah secara utuh.
Latar lagu Rindu Rasul kalangan Bimbo, menambah syahdu film tersebut. Di antara deretan film karya Garin, ia mencoba membuat genre film religius.
Meski demikian, kritik sosial tetap melekat di film karya Garin seperti halnya Daun di Atas Bantal. Namun, Rindu Kami Padamu tak terlalu mencoba menggali tragedi keseharian seperti sejumlah film Garin lainnya.
Meski berlabel film religius, Garin tak ingin menonjolkan simbol-simbol keagamaan secara vulgar. Sisi-sisi manusiawi seperti rasa rindu yang menyeruak yang justru ditampilkan.
Akting para pementas teater seperti Didi Petet, Fauzi Baadila, Nova Eliza, hingga Neno Warisman, menambah kuat film Rindu Kami Padamu.
Dialog yang mengalir dan sejumlah problem keseharian yang hadir di film itu cukup membuat saya hanyut ke dalamnya.
Dalam film itu, Rindu akhirnya bisa bersua sang kakak yang pulang dari rantauan. Sang kakak memboyong kubah untuk musala.
Sang pedagang telur akhirnya menjalin cinta dengan perempuan di kost. Begitu pula Asih, bocah perempuan yang akhirnya dikejutkan dengan kehadiran sang ibu mengisi sajadah kosongnya di salat berjamaah.
Sontak, ada keharuan yang mencuat di akhir cerita.
Namun sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai akhir film yang begitu happy ending. Rasa kerinduan teramat ketika menyaksikan film itu, seolah dihentikan begitu saja dengan cerita-cerita bahagia di film itu.
Akhir bahagia ini pula yang membuat saya berpikir, Rindu Kami Padamu kok serasa enggak Garin banget ya?
Namun ada kerinduan spesial yang saya rasakan ketika kembali menonton film yang tayang 2004 itu. Saya rindu sosok seperti Fauzi Baadila hingga Neno Warisman untuk kembali menunjukkan kehebatan berakting di film berkualitas, terlepas dari kehebohan mereka yang kadang berseliweran di media terkait kondisi politik saat ini.
Kerinduan yang teramat sangat pula menyaksikan akting-akting berkarakter mendiang Didi Petet.