Seniman Potret Kegelisahan Wanita Afghanistan Lewat Mural
CNN Indonesia
Minggu, 22 Agu 2021 20:41 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Shamsia Hassani menuangkan kegelisahannya tentang wanita di Afghanistan lewat mural dan lukisan (Foto: Tangkapan layar instagram @shamsiahassani)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah sekian lama berkecimpung menjadi seorang seniman mural, Shamsia Hassani, masih tidak henti-hentinya menyuarakan hak perempuan Afghanistan dalam karyanya.
Terlebih, setelah kelompok Taliban kembali berkuasa setelah digulingkan dalam invasi yang dipimpin Amerika Serikat hampir 20 tahun lalu.
Mengutip dari laman My Modern Met, ada banyak hal yang mengganggu benak Shamsia Hassani ketika mendengar bahwa Taliban menguasai Kabul dan menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seluruh perhatian seniman mural kelahiran 1998 di Iran itu pun terfokus pada nasib perempuan di Afghanistan. Hassani khawatir perempuan Afghanistan akan menjadi sasaran kebrutalan militan Taliban seperti yang terjadi 20 tahun lalu.
Seniman jalanan perempuan pertama di Afghanistan itu pun akhirnya mengeluarkan emosinya menjadi karya seni. Hal yang sudah dilakukan tahun-tahun sebelumnya.
Shamsia Hassani yang lahir di Iran pada 1998 dengan status pengungsi ini mengaku pernah kembali ke negara asalnya, Afghanistan pada 2005 yang kala itu dikuasai oleh militan Taliban.
Namun hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk membuat perbedaan dan menggunakan karyanya sebagai harapan bagi para korban perang di Afghanistan.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di seni rupa di Universitas Kabul, Shamsia Hassani menjadi dosen seni rupa dan seni patung di fakultasnya.
Jabatan itu rupanya tidak menyurutkan semangat Hassanike untuk turun ke jalanan dan menyuarakan hak perempuan lewat karya-karyanya ke ruang publik.
Atas aksinya itu, Shamsia Hassani menerima pujian dari dunia internasional dan dinobatkan sebagai perintis generasi baru wanita Afghanistan.
Dalam sebuah wawancara pada 2013, Hassani mengungkapkan alasannya membawa perempuan ke dalam sebagian besar karya-karyanya.
"Di masa lalu, perempuan dikeluarkan dari masyarakat dan menyuruh mereka hanya tinggal di rumah serta melupakan perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Sekarang, saya ingin menggunakan lukisan saya untuk mengingatkan kembali orang-orang tentang perempuan," ujar Shamsia Hassani.
Lihat lukisan Shamsia Hassani di halaman berikutnya..
Ia pun melanjutkan, "Saya telah mengubah citra saya untuk menunjukkan kekuatan wanita, kegembiraan wanita. Dalam karya saya, ada banyak gerakan. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan telah kembali ke masyarakat Afghanistan dengan bentuk baru yang lebih kuat. Bukan yang tinggal di rumah. Ini perempuan baru, perempuan yang penuh energi, yang ingin memulai lagi."
Hal itu pula yang kini dilakukan oleh Hassani ketika militan Taliban kembali berkuasa di Afghanistan. Sekali lagi, perempuan hidup dalam posisi genting.
Shamsia Hassani pun mencurahkan itu dalam karya seninya yang gelap berjudul Death to Darkness and Nightmare.
Lukisan itu menggambarkan kondisi perempuan di Afghanistan yang saat ini diselimuti kegelapan. Para wanita dalam lukisannya berpakaian biru, di belakangnya ada banyak sosok berpakaian hitam membawa senjata api laras panjang.
Hingga kini, situasi keamanan di Afghanistan masih mengkhawatirkan. Namun Taliban menjanjikan tetap membolehkan kaum perempuan di Afghanistan menempuh pendidikan hingga universitas setelah kembali berkuasa di negara itu.
"(Perempuan) boleh mendapatkan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat tinggi, artinya universitas. Kami sudah menyampaikan kebijakan ini dalam konferensi internasional di Moskow (Rusia) dan dalam konferensi di di sini di Doha," kata Juru Bicara Biro Politik Taliban, Suhail Shaheen, di Doha, Qatar, seperti dilansir AFP, Rabu (18/8).
Seperti yang diketahui, saat Taliban berkuasa pada 1996 sampai 2001, seluruh sekolah khusus perempuan di Afghanistan ditutup. Kala itu kaum perempuan di Afghanistan dilarang bepergian dan bekerja, serta diwajibkan mengenakan burkak ketika berada di luar rumah.
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah sekian lama berkecimpung menjadi seorang seniman mural, Shamsia Hassani, masih tidak henti-hentinya menyuarakan hak perempuan Afghanistan dalam karyanya.
Terlebih, setelah kelompok Taliban kembali berkuasa setelah digulingkan dalam invasi yang dipimpin Amerika Serikat hampir 20 tahun lalu.
Mengutip dari laman My Modern Met, ada banyak hal yang mengganggu benak Shamsia Hassani ketika mendengar bahwa Taliban menguasai Kabul dan menduduki Istana Kepresidenan Afghanistan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seluruh perhatian seniman mural kelahiran 1998 di Iran itu pun terfokus pada nasib perempuan di Afghanistan. Hassani khawatir perempuan Afghanistan akan menjadi sasaran kebrutalan militan Taliban seperti yang terjadi 20 tahun lalu.
Seniman jalanan perempuan pertama di Afghanistan itu pun akhirnya mengeluarkan emosinya menjadi karya seni. Hal yang sudah dilakukan tahun-tahun sebelumnya.
Shamsia Hassani yang lahir di Iran pada 1998 dengan status pengungsi ini mengaku pernah kembali ke negara asalnya, Afghanistan pada 2005 yang kala itu dikuasai oleh militan Taliban.
Namun hal itu tidak menyurutkan tekadnya untuk membuat perbedaan dan menggunakan karyanya sebagai harapan bagi para korban perang di Afghanistan.
Setelah menyelesaikan kuliahnya di seni rupa di Universitas Kabul, Shamsia Hassani menjadi dosen seni rupa dan seni patung di fakultasnya.
Jabatan itu rupanya tidak menyurutkan semangat Hassanike untuk turun ke jalanan dan menyuarakan hak perempuan lewat karya-karyanya ke ruang publik.
Atas aksinya itu, Shamsia Hassani menerima pujian dari dunia internasional dan dinobatkan sebagai perintis generasi baru wanita Afghanistan.
Dalam sebuah wawancara pada 2013, Hassani mengungkapkan alasannya membawa perempuan ke dalam sebagian besar karya-karyanya.
"Di masa lalu, perempuan dikeluarkan dari masyarakat dan menyuruh mereka hanya tinggal di rumah serta melupakan perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Sekarang, saya ingin menggunakan lukisan saya untuk mengingatkan kembali orang-orang tentang perempuan," ujar Shamsia Hassani.
Lihat lukisan Shamsia Hassani di halaman berikutnya..
Nasib Wanita Afghanistan Kala Taliban Berkuasa
Shamsia Hassani menuangkan kegelisahannya tentang wanita di Afghanistan lewat mural dan lukisan (Foto: Tangkapan layar instagram @shamsiahassani)
Ia pun melanjutkan, "Saya telah mengubah citra saya untuk menunjukkan kekuatan wanita, kegembiraan wanita. Dalam karya saya, ada banyak gerakan. Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan telah kembali ke masyarakat Afghanistan dengan bentuk baru yang lebih kuat. Bukan yang tinggal di rumah. Ini perempuan baru, perempuan yang penuh energi, yang ingin memulai lagi."
Hal itu pula yang kini dilakukan oleh Hassani ketika militan Taliban kembali berkuasa di Afghanistan. Sekali lagi, perempuan hidup dalam posisi genting.
Shamsia Hassani pun mencurahkan itu dalam karya seninya yang gelap berjudul Death to Darkness and Nightmare.
Lukisan itu menggambarkan kondisi perempuan di Afghanistan yang saat ini diselimuti kegelapan. Para wanita dalam lukisannya berpakaian biru, di belakangnya ada banyak sosok berpakaian hitam membawa senjata api laras panjang.
Hingga kini, situasi keamanan di Afghanistan masih mengkhawatirkan. Namun Taliban menjanjikan tetap membolehkan kaum perempuan di Afghanistan menempuh pendidikan hingga universitas setelah kembali berkuasa di negara itu.
"(Perempuan) boleh mendapatkan pendidikan dari tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat tinggi, artinya universitas. Kami sudah menyampaikan kebijakan ini dalam konferensi internasional di Moskow (Rusia) dan dalam konferensi di di sini di Doha," kata Juru Bicara Biro Politik Taliban, Suhail Shaheen, di Doha, Qatar, seperti dilansir AFP, Rabu (18/8).
Seperti yang diketahui, saat Taliban berkuasa pada 1996 sampai 2001, seluruh sekolah khusus perempuan di Afghanistan ditutup. Kala itu kaum perempuan di Afghanistan dilarang bepergian dan bekerja, serta diwajibkan mengenakan burkak ketika berada di luar rumah.