Penyalin Cahaya Bakal Tayang Perdana di Busan Film Festival

adp, CNN Indonesia | Rabu, 01/09/2021 16:30 WIB
Penyalin Cahaya merupakan film panjang perdana dari sutradara Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya dikenal lewat film-film pendek. Penyalin Cahaya merupakan film panjang perdana dari sutradara Wregas Bhanuteja, yang sebelumnya dikenal lewat film-film pendek. (Foto: Tangkapan layar instagram @penyalincahaya)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film Penyalin Cahaya yang disutradarai Wregas Bhanuteja bakal tayang perdana di Busan International Film Festival (BIFF) yang berlangsung pada 6-15 Oktober 2021 di Busan, Korea Selatan.

"Film kami 'Penyalin Cahaya' dengan judul internasional 'Photocopier', produksi @rekatastudio & @kaningapictures akan World Premiere dan berkompetisi di Busan International Film Festival 2021," tulis akun Instagram resmi Penyalin Cahaya.

Penyalin Cahaya akan berlaga pada program kompetisi utama yang bernama New Currents. BIFF sendiri merupakan salah satu festival film bergengsi di Asia dan dunia.


Sejumlah aktor dan aktris bermain di film Penyalin Cahaya, seperti Lutesha, Dea Panendra, Shenina Cinnamon, Jerome Kurnia, dan Chicco Kurniawan.

Penyalin Cahaya merupakan film pertama Wregas. Sebelumnya, ia menyutradarai sejumlah film pendek, di antaranya adalah Lemantun (2014), Prenjak (2016), dan No One Is Crazy in This Town (2019).

[Gambas:Instagram]

Prenjak bisa dibilang sebagai film pendek Wregas yang paling dikenal. Film berlatar Jawa itu berhasil meraih penghargaan Leica Cine Discovery Prize for Short Film di Festival Film Cannes 2016.

Prenjak menceritakan sisi gelap di Yogyakarta pada era '80-an. Lewat film ini, Wregas menceritakan seorang perempuan yang mencari uang dengan memperlihatkan anggota tubuhnya.

Ia menjual sebatang korek api dengan harga Rp10 ribu. Terbilang sangat mahal, tapi si perempuan menjanjikan pembeli dapat dapat melihat anggota tubuhnya sejak api menyala hingga padam.

Capaian itu menjadikan Wregas sebagai orang Indonesia pertama yang berhasil memenangkan penghargaan di Festival Film Cannes. Ia pun merasa kala itu waktu yang tepat untuk mulai membuat film pendek.

No One Is Crazy in This Town juga tidak kalah dikenal ketimbang Prenjak setelah tayang di BIFF 2019. Festival itu berlaga di program Wide Angle: Asian Short Film Competition

(adp/fjr)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK