Jakarta, CNN Indonesia -- Siapa pun yang pernah merasakan sakitnya patah hati karena cinta rasanya akan bisa memahami lagu versi 10 menit dan film pendek All Too Well dari Taylor Swift secara utuh. Keduanya dirilis bertepatan dengan perilisan album rekam-ulang Red (Taylor's Version).
Lagu All Too Well sebelumnya telah dikenal oleh penggemar Taylor Swift sebagai lagu paling menyayat hati, sebelum kehadiran album folklore dan evermore pada 2020. Meskipun, lagu lima menitan itu tidak pernah dirilis sebagai single.
Namun ketika Taylor Swift memutuskan mendengar permohonan para Swifties untuk merilis versi lengkap dan asli dari All Too Well, lagu yang berdurasi 10 menit lebih ini sejatinya lebih mengiris hati dan menguras emosi dibanding versi yang dirilis nyaris sedekade lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui lirik yang metaforis, puitis, dan detail, Taylor Swift menggambarkan proses perpisahan dari cinta yang begitu menyakitkan. Ketika rasa cinta yang terbangun antara "twin flame" dan serasa seperti "masterpiece" malah berakhir remuk redam hingga membuat terpaku seolah waktu berhenti berjalan.
"You kept me like a secret, but I kept you like an oath,"
[Gambas:Youtube]
Detail tersebut sebenarnya sudah cukup untuk membuat pendengar, terutama penggemarnya, merasa nelangsa. Bagaimana tidak, dihempas oleh orang yang sempat dianggap sebagai 'jodoh' adalah mimpi buruk bagi seorang kekasih.
Mimpi buruk yang selama ini hanya menjadi bayangan pendengar itu kemudian diwujudkan oleh Taylor Swift dalam bentuk film pendek. Atau, sebenarnya bisa juga sebagai video musik untuk All Too Well versi asli yang berdurasi 10 menit lebih.
Namun Taylor Swift tidak mengeksekusinya sebagai video klip seperti pada umumnya. Unsur-unsur narasi film hingga sinematografi dan tampilan dari video ini dieksekusi juga dipikir secara matang.
Swift yang bertindak sebagai sutradara, penulis, juga pemeran dalam video ini memikirkan dengan detail apa yang akan muncul sebagai gambaran dari lagu ini.
Bahkan mungkin bisa saya bilang, penggambaran Taylor Swift ini jauh melebihi yang dibayangkan penggemarnya. Ini hal yang jarang terjadi, karena biasanya bayangan penggemar atas sesuatu yang sudah dikenal lalu dibuat lagi itu jauh lebih tinggi dibanding sang kreator.
lanjut ke sebelah..
Memudarkan Batasan Seni
Dengan film pendek All Too Well, Taylor Swift memberikan sensasi baru dalam menikmati karya seni dan memudarkan batasan definisi film, musik, dan video klip. (Twitter @taylorswift13)
Taylor Swift dengan saksama dan apik merekonstruksi cerita lagu All Too Well yang merupakan bagian dari kehidupannya sendiri. Mulai dari latar lokasi, mobil yang digunakan, babak per babak dari cerita lagu, adegan yang menggambarkan lirik, hingga pose serta rupa bintang utama film pendek ini: Sadie Sink dan Dylan O'Brien.
Kedua aktor tersebut, yang memiliki rentang usia 10 tahun dan menggambarkan rentang usia Taylor Swift serta mantannya dalam cerita All Too Well, menampilkan akting penuh gejolak emosi dengan sangat baik.
Hal itu terlihat mulai dari ketika keduanya jatuh cinta, tatapan dan sentuhan kecil yang hangat, hingga ke pertengkaran dan patah hati yang begitu menyakitkan. Semuanya berjalan begitu mulus seolah keduanya kerasukan Taylor Swift dan sang mantan, yang disebut fans adalah aktor Jake Gyllenhaal.
Swift juga tampaknya terinspirasi dari Marriage Story karya Noah Baumbach yang memang menjadi salah satu film favorit musisi itu. Hal ini terasa ketika Sadie dan Dylan berkonflik di dapur yang mengingatkan adegan ikonis Scarlett Johansson dan Adam Driver bertengkar hebat dalam film tersebut.
[Gambas:Youtube]
Meski begitu, film pendek All Too Well memang tak seperti bayangan film pendek pada umumnya. Swift dengan kaku membagi babak-babak perpindahan cerita atau kadang terasa seperti jumping saat adegan yang menyimbolkan kenangan muncul.
Namun hal itu bisa dipahami karena Swift mengacu pada lirik lagu All Too Well versi asli yang memang memiliki kronologis acak, seperti ketika gejolak emosi dan patah hati yang membuat kenangan muncul secara tak menentu.
Hal yang membuat film pendek ini terasa spesial adalah pemilihan layar juga tone dari film ini. Rina Yang selaku Director of Photography jelas memahami dan mewujudkan imaji Taylor Swift dengan baik, sehingga film ini seolah film lawas yang juga menimbulkan kesan nostalgia bagi penontonnya.
Terlepas dari itu, Taylor Swift memberikan sensasi baru dalam menikmati sebuah karya seni. Ia memudarkan batasan dan pakem juga definisi film, musik, dan video klip. Bukan tidak mungkin, definisi ketiga karya seni itu akan meluas dan melebur usai film pendek All Too Well ini.