Menyoal Kegemaran Industri Bikin Live-Action Anime
CNN Indonesia
Minggu, 23 Jan 2022 07:25 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
(Rumah produksi Jepang dan Hollywood masih gemar menyiapkan live-action anime/manga walau banyak yang tak disambut baik fan. Foto: Arsip Netflix via IMDb)
Banyak film live-action anime buatan Jepang berhasil memenangkan hati penonton. Selain Death Note, Rurouni Kenshin menjadi contoh lainnya.
Namun, embel-embel rumah produksi Jepang tak selalu menjanjikan hasil live-action yang pasti disukai sebagian besar basis penggemar. Attack on Titan contohnya.
Attack on Titan merupakan manga sekaligus anime yang memiliki basis penggemar baik di Jepang maupun internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, itu tak menjamin rating tinggi atau penghasilan tinggi dari box office ketika Toho Pictures merilis live-action Attack on Titan dan Attack on Titan: End of the World.
Rating tertinggi dari kedua film tersebut, berdasarkan Rotten Tomatoes, hanya 50 persen. Sementara itu, serial animasinya (anime) mendapatkan rating hingga 96 persen.
Salah satu penggemar anime, Axel, mengungkapkan beberapa hal membuat live-action acap kali tak disambut baik fan.
"Jepang itu kan terkenal dengan anime bagus-bagus, banyak yang pakai CGI. Tapi kenyataannya pas bikin Attack on Titan live-action itu CGI-nya aneh kayak film naik naga terbang begitu," kata Axel kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Aneh banget, padahal Jepang secara teknologi maju, kok bikin live-action malah seperti itu. Aneh pokoknya," ucapnya.
Oleh sebab itu, upaya rumah produksi yang tak pernah berhenti membuat live-action anime serta respons para penggemar karya orisinal akan dibahas dalam Fokus edisi Januari 2021: Lagi Lagi Live-Action Anime.
Tanggapan para penggemar serta penilaian para ahli terhadap live-action anime akan ditampilkan dalam Fokus kali ini.
Sejumlah live-action yang dicap terburuk hingga sukses menguasai box office juga bisa disaksikan dalam seri artikel Fokus: Lagi Lagi Live-Action Anime.
(chri)
Jakarta, CNN Indonesia --
Beberapa judul live-action anime/manga tengah dipersiapkan banyak rumah produksi, baik Jepang atau Hollywood, untuk tayang dalam waktu dekat. Salah satunya adalah The Kindaichi Case Files yang dijadwalkan tayang April 2022.
Serial live-action itu bakal dibintangi Shunsuke Michieda Naniwa Danshi dan diproduksi Nippon TV. Hisashi Kimura (The Files of Young Kindaichi Neo) dipercayakan untuk mengarahkan serial tersebut.
Sementara itu, naskah serial dipercayakan kepada penulis Yuuko Kawabe dan Tetsuya Oishi (Death Note, Death Note: The Last Name).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengumuman itu disampaikan beberapa bulan setelah Netlix mengumumkan pemeran serial live-action One Piece yang memicu pro dan kontra di antara penggemar, terutama internasional.
Netflix juga mengunggah surat dari sang kreator Eiichiro Oda atau Oda sensei yang mengatakan terlibat dalam pemilihan pemeran serial live-action One Piece.
Serial atau film live-action anime produksi Jepang memang lebih diterima dengan hangat oleh basis penggemar ketimbang Hollywood.
Bukti nyata terlihat dari Death Note produksi Jepang dan Death Note versi Netflix. Berdasarkan Rotten Tomatoes, Death Note versi Jepang (2006) mendapatkan tomatometer 78 persen, bahkan meningkat jadi 80 persen untuk sekuelnya, Death Note 2: The Last Name.
Sementara itu, pembuatan ulang Death Note versi Hollywood yang tayang pada 2017 mendapatkan Tomatometer 38 persen.
Death Note (2017) merupakan satu dari sekian banyak upaya Hollywood menghadirkan live-action anime. Contoh lainnya adalah Ghost in the Shell yang dibintangi Scarlett Johansson.
"Kesulitannya adalah gaya Hollywood dengan film-film besar ini berfungsi bila dengan aktor-aktor papan atas, yang seringkali menghasilkan whitewashing," kata Burunova kepada CNBC.
"Dengan gaya Hollywood ini, ada banyak ruang untuk kesalahan dan ruang bagi fans untuk sangat kecewa... [mereka] harus bekerja sangat keras untuk mendekati segalanya mulai dari desain set, kostum, hingga memastikan plot dan pengembangan karakternya kuat," lanjutnya.
Lanjut ke sebelah...
Menyoal Kegemaran Industri Bikin Live-Action Anime
Rumah produksi Jepang dan Hollywood masih gemar menyiapkan live-action anime/manga walau banyak yang tak disambut baik fan. Foto: (dok. Kôdansha/Licri/Nikkatsu/Toho Company/Toneplus Animation Studios IMDb)
Banyak film live-action anime buatan Jepang berhasil memenangkan hati penonton. Selain Death Note, Rurouni Kenshin menjadi contoh lainnya.
Namun, embel-embel rumah produksi Jepang tak selalu menjanjikan hasil live-action yang pasti disukai sebagian besar basis penggemar. Attack on Titan contohnya.
Attack on Titan merupakan manga sekaligus anime yang memiliki basis penggemar baik di Jepang maupun internasional.
Namun, itu tak menjamin rating tinggi atau penghasilan tinggi dari box office ketika Toho Pictures merilis live-action Attack on Titan dan Attack on Titan: End of the World.
Rating tertinggi dari kedua film tersebut, berdasarkan Rotten Tomatoes, hanya 50 persen. Sementara itu, serial animasinya (anime) mendapatkan rating hingga 96 persen.
Salah satu penggemar anime, Axel, mengungkapkan beberapa hal membuat live-action acap kali tak disambut baik fan.
"Jepang itu kan terkenal dengan anime bagus-bagus, banyak yang pakai CGI. Tapi kenyataannya pas bikin Attack on Titan live-action itu CGI-nya aneh kayak film naik naga terbang begitu," kata Axel kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.
"Aneh banget, padahal Jepang secara teknologi maju, kok bikin live-action malah seperti itu. Aneh pokoknya," ucapnya.
Oleh sebab itu, upaya rumah produksi yang tak pernah berhenti membuat live-action anime serta respons para penggemar karya orisinal akan dibahas dalam Fokus edisi Januari 2021: Lagi Lagi Live-Action Anime.
Tanggapan para penggemar serta penilaian para ahli terhadap live-action anime akan ditampilkan dalam Fokus kali ini.
Sejumlah live-action yang dicap terburuk hingga sukses menguasai box office juga bisa disaksikan dalam seri artikel Fokus: Lagi Lagi Live-Action Anime.