Mengenal Ritual Kendi saat Pindah Tempat, Seperti Jokowi di IKN
CNN Indonesia
Selasa, 15 Mar 2022 07:31 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Ritual kendi yang dilakukan Presiden Joko Widodo di titik nol Ibu Kota Nusantara disebut hasil adopsi ritual selamatan dalam tradisi masyarakat Indonesia. (Arsip Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta, CNN Indonesia --
Ritual kendi yang dilakukan Presiden Joko Widodo di titik nol Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Senin (14/3) disebut merupakan hasil adopsi ritual selamatan dalam tradisi masyarakat Indonesia.
Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan ritual itu juga dipraktikkan oleh banyak suku bangsa di Indonesia ketika akan pindah rumah.
"Banyak suku bangsa di Indonesia yang kalau mau pindah rumah itu pasti selamatan, seperti di Jawa, Sulawesi, Bali, Nias," kata Heddy kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/3) petang.
"Mereka mengenal itu, jadi kalau orang mau pindah dari rumah lama ke rumah yang baru atau membuat rumah baru selalu ada ritual," lanjutnya,
Tak hanya di Indonesia, ritual ini juga disebut Heddy dipraktikkan oleh beberapa suku bangsa asing, seperti suku bangsa di Afrika hingga di Indian. Jadi, ritual yang dilakukan Jokowi dinilai bukan hanya karangan semata.
Kendati demikian, Heddy menyebut ritual Kendi Nusantara yang dilakukan Jokowi tidak persis sama dengan ritual pindah rumah seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Salah satunya terletak pada elemen ritualnya.
Seperti yang diketahui, ritual yang disebut Kendi Nusantara itu dilakukan dengan membawa tanah dan air dari seluruh provinsi. Tanah dan air itu dituangkan ke dalam sebuah wadah besar.
Heddy mengatakan ada dua hal yang membedakan ritual yang dilakukan Jokowi dengan ritual yang sudah hidup di masyarakat. Pertama, ruang lingkup dalam ritual Kendi Nusantara lebih besar dibandingkan ritual pindah rumah.
Ritual Kendi Nusantara dilakukan untuk menandai perpindahan ibu kota negara. Sehingga, elemen yang digunakan juga lebih besar dibandingkan dengan ritual pindah rumah ataupun ritual pindah kelurahan.
"Jadi tentu saja, ritualnya tidak persis sama dengan ritual pindah rumah, jadi scope-nya diperbesar, pasti skalanya lebih besar," kata Heddy.
Kedua, elemen tersebut sebagai representasi sebuah negara. Heddy mengatakan bahwa Indonesia terdiri dari beberapa suku bangsa.
Lanjut ke sebelah..
Tanah yang dipakai dalam ritual tersebut juga diambil dari tempat-tempat yang dianggap terbaik di Indonesia. Terlebih, ini adalah peristiwa bersejarah yang mungkin hanya terjadi satu kali.
"Ini mungkin terjadinya sekali ini saja, maka ritual harus betul-betul bermakna, di situlah lalu muncul ritual seperti yang digagas pemerintah ini," kata Heddy.
Lebih lanjut, Heddy mengatakan bahwa kendi yang menjadi judul ritual adat tersebut merupakan barang penting dalam acara masyarakat Jawa.
Tak hanya dalam ritual pindah rumah, kendi juga dipakai dalam acara lain, seperti mengantar jenazah dan dalam beberapa acara peresmian, misalnya peresmian kereta api, bus, atau kapal. Untuk itu, acara pemindahan ibu kota negara juga menggunakan nama kendi.
Selain itu, kendi juga disebut Heddy memiliki makna khusus. Ia lalu mengungkap makna di balik simbol kendi dalam ritual ini.
"Kendi itu kan [pertemuan] tanah dan air. Kendi itu terbuat dari tanah, dan isinya air, dan buat orang Indonesia, tanah air itu ya nomor satu," kata Heddy.
"Jadi kendi itu melambangkan itu, tanah air, dan itu penanda yang penting dalam hidup kita. Makanya ritualnya disebut ritual kendi," lanjutnya.
Tak hanya itu, kendi juga dipakai oleh leluhur bangsa Indonesia. Heddy mengatakan bahwa Mpu Bharada juga menggunakan air kendi untuk membuat batas.
"Dulu orang kalau membuat batas ya dengan mengucurkan air dari kendi. Jadi seperti itu. Jadi itu tidak asing lagi. Jadi itu berakar dari tradisi kita," kata Heddy.
Oleh sebab itu, ia menyayangkan semakin banyak generasi saat ini yang menganggap ritual itu sebagai klenik. Karena sejatinya, ritual semacam ini masih berlaku pada masyarakat di pedesaan.
"Masih kental sampai sekarang. Memang tidak setiap hari kita lihat, tapi ketika ada upacara penting pasti ada kendi, karena kendi itu simbol penting sekali. Sama seperti tumpeng, kalau tumpeng kita potong, kalau kendi kita pecah," kata Heddy.
Jakarta, CNN Indonesia --
Ritual kendi yang dilakukan Presiden Joko Widodo di titik nol Ibu Kota Nusantara (IKN) pada Senin (14/3) disebut merupakan hasil adopsi ritual selamatan dalam tradisi masyarakat Indonesia.
Guru Besar Antropologi Budaya Universitas Gadjah Mada Heddy Shri Ahimsa-Putra mengatakan ritual itu juga dipraktikkan oleh banyak suku bangsa di Indonesia ketika akan pindah rumah.
"Banyak suku bangsa di Indonesia yang kalau mau pindah rumah itu pasti selamatan, seperti di Jawa, Sulawesi, Bali, Nias," kata Heddy kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/3) petang.
"Mereka mengenal itu, jadi kalau orang mau pindah dari rumah lama ke rumah yang baru atau membuat rumah baru selalu ada ritual," lanjutnya,
Tak hanya di Indonesia, ritual ini juga disebut Heddy dipraktikkan oleh beberapa suku bangsa asing, seperti suku bangsa di Afrika hingga di Indian. Jadi, ritual yang dilakukan Jokowi dinilai bukan hanya karangan semata.
Kendati demikian, Heddy menyebut ritual Kendi Nusantara yang dilakukan Jokowi tidak persis sama dengan ritual pindah rumah seperti yang dilakukan kebanyakan orang. Salah satunya terletak pada elemen ritualnya.
Seperti yang diketahui, ritual yang disebut Kendi Nusantara itu dilakukan dengan membawa tanah dan air dari seluruh provinsi. Tanah dan air itu dituangkan ke dalam sebuah wadah besar.
Heddy mengatakan ada dua hal yang membedakan ritual yang dilakukan Jokowi dengan ritual yang sudah hidup di masyarakat. Pertama, ruang lingkup dalam ritual Kendi Nusantara lebih besar dibandingkan ritual pindah rumah.
Ritual Kendi Nusantara dilakukan untuk menandai perpindahan ibu kota negara. Sehingga, elemen yang digunakan juga lebih besar dibandingkan dengan ritual pindah rumah ataupun ritual pindah kelurahan.
"Jadi tentu saja, ritualnya tidak persis sama dengan ritual pindah rumah, jadi scope-nya diperbesar, pasti skalanya lebih besar," kata Heddy.
Kedua, elemen tersebut sebagai representasi sebuah negara. Heddy mengatakan bahwa Indonesia terdiri dari beberapa suku bangsa.
Lanjut ke sebelah..
Terjadi Sekali
Ritual kendi yang dilakukan Presiden Joko Widodo di titik nol Ibu Kota Nusantara disebut hasil adopsi ritual selamatan dalam tradisi masyarakat Indonesia. (ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A)
Tanah yang dipakai dalam ritual tersebut juga diambil dari tempat-tempat yang dianggap terbaik di Indonesia. Terlebih, ini adalah peristiwa bersejarah yang mungkin hanya terjadi satu kali.
"Ini mungkin terjadinya sekali ini saja, maka ritual harus betul-betul bermakna, di situlah lalu muncul ritual seperti yang digagas pemerintah ini," kata Heddy.
Lebih lanjut, Heddy mengatakan bahwa kendi yang menjadi judul ritual adat tersebut merupakan barang penting dalam acara masyarakat Jawa.
Tak hanya dalam ritual pindah rumah, kendi juga dipakai dalam acara lain, seperti mengantar jenazah dan dalam beberapa acara peresmian, misalnya peresmian kereta api, bus, atau kapal. Untuk itu, acara pemindahan ibu kota negara juga menggunakan nama kendi.
Selain itu, kendi juga disebut Heddy memiliki makna khusus. Ia lalu mengungkap makna di balik simbol kendi dalam ritual ini.
"Kendi itu kan [pertemuan] tanah dan air. Kendi itu terbuat dari tanah, dan isinya air, dan buat orang Indonesia, tanah air itu ya nomor satu," kata Heddy.
"Jadi kendi itu melambangkan itu, tanah air, dan itu penanda yang penting dalam hidup kita. Makanya ritualnya disebut ritual kendi," lanjutnya.
Tak hanya itu, kendi juga dipakai oleh leluhur bangsa Indonesia. Heddy mengatakan bahwa Mpu Bharada juga menggunakan air kendi untuk membuat batas.
"Dulu orang kalau membuat batas ya dengan mengucurkan air dari kendi. Jadi seperti itu. Jadi itu tidak asing lagi. Jadi itu berakar dari tradisi kita," kata Heddy.
Oleh sebab itu, ia menyayangkan semakin banyak generasi saat ini yang menganggap ritual itu sebagai klenik. Karena sejatinya, ritual semacam ini masih berlaku pada masyarakat di pedesaan.
"Masih kental sampai sekarang. Memang tidak setiap hari kita lihat, tapi ketika ada upacara penting pasti ada kendi, karena kendi itu simbol penting sekali. Sama seperti tumpeng, kalau tumpeng kita potong, kalau kendi kita pecah," kata Heddy.