Selayang Pandang Hikayat Film Iran, dari 'Dosa' Jadi Kebanggaan
CNN Indonesia
Minggu, 03 Apr 2022 08:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
The Song of Sparrows (2008). Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman era modern adalah buah perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut. (dok. Majid Majidi Film Production via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --
Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman di era modern ini adalah buah dari perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut.
Kisah perfilman Iran bisa dimulai sejak era awal 1900, ketika penguasa Persia kala itu Muzaffar al-Din yang masih dalam Dinasti Qajar tertarik dengan film saat dirinya bepergian ke Eropa.
Ketertarikan itu dibawa ke Tanah Persia hingga dunia perfilman Iran dimulai dengan pembukaan bioskop publik pada 1904 di Tehran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun masyarakat Persia kala itu menolak keberadaan film. Sejumlah pihak menganggap bahwa menyaksikan film adalah sebuah dosa karena mempertunjukkan gambar makhluk hidup.
Ketika dinasti berikutnya, Pahlavi, berdiri pada 1920-an, film ikut menjadi bagian dari upaya modernisasi Persia saat itu.
Apalagi, modernisasi itu ditambah dengan sekularisme, industrialisasi, dan Westernisasi dilakukan besar-besaran. Persia mengikuti tetangganya, Kesultanan Ottoman yang runtuh dan menjadi Turki.
Pada era ini, film peruntukannya bukan sebagai hiburan melainkan lebih kepada propaganda. Dinasti yang berkuasa akan meninjau isi film impor yang datang dan tak sungkan menyesuaikannya dengan keinginan penguasa.
Bashu, the Little Stranger (1989). Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman era modern adalah buah perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut. (dok. Kanun parvaresh fekri via IMDb)
Sekolah film diketahui didirikan pertama kali pada 1925 dan mulai sejak saat itu, Iran belajar memproduksi film dan merilis film bisu pertama pada 1930 yang bertajuk Abi and Rabi.
Pada 1932, film bersuara pertama Persia tercipta dengan judul Dokhtar-e Lor/Lor Girl atau Iran Kemarin dan Iran Kini.
Berbagai film dan gambar bergerak pun tercipta seiring dengan Westernisasi yang kental kala itu. Perfilman Persia kala itu banyak didominasi gaya-gaya romantis ala Hollywood dan mengadopsi berbagai cerita sastra masa lalu.
Hingga memasuki dekade '60-an, situasi mulai berubah. Sejumlah sineas baru menghasilkan karya yang berbeda dengan pendahulu. Fenomena ini dikenal sebagai Iranian New Wave.
Sejumlah tokoh menjadi pionir dalam gelombang baru ini, sebut saja Hajir Darioush, Abbas Kiarostami, Jafar Panahi, dan Baheam Beyzaie.
Titik awal Gelombang Baru Iran dalam dunia perfilman ini diyakini dimulai ketika film kedua Darioush, Serpent's Skin, dirilis pada 1964. Semenjak saat itu, gaya perfilman Iran berubah dan menarik perhatian publik.
Pada dekade itu pula dikenang sebagai era keemasan film Iran. Puluhan film komersil diproduksi, dari 25 film per tahun di awal dekade '60, menjadi 65 film per tahun di akhir dekade. Sebagian besar fokus pada melodrama dan thriller seperti Amerika.
"Melodrama Iran dari tahun 1960-an dan 1970-an meniru melodrama Amerika," kata kritikus budaya Negar Mottahedeh dalam bukunya, Displaced Allegories: Post-Revolutionary Iranian Cinema (2008).
Track 143 (2014). Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman era modern adalah buah perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut. (dok. IMDb)
"Apa yang dilakukan rezim [Shah Mohammed Reza] Pahlavi adalah menjadikan wanita sebagai komoditas ... membuat mereka memakai mode Barat dan menjadi asing bagi orang Iran," lanjutnya.
Hingga memasuki dekade '70-an, Persia mengalami gejolak sosial yang kencang. Westernisasi yang kental rupanya menjemukan bagi masyarakat, ditambah dengan berbagai krisis multidimensi kala itu.
Pada 1977, demonstrasi mulai terjadi di mana-mana. Masyarakat bergejolak menginginkan perubahan. Hingga pada akhir Maret 1979, masyarakat Persia melakukan referendum yang juga didorong oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai oposisi penguasa.
Hasil referendum tersebut memutuskan bahwa negara yang semula dikenal sebagai Kerajaan Persia itu berganti haluan menjadi negara republik berasaskan Islam dan mengganti namanya menjadi "Iran".
Lanjut ke sebelah...
Revolusi Islam Iran tersebut bukan hanya mengubah tata negara wilayah Persia itu, tetapi hingga ke tatanan sosial juga budayanya, termasuk film.
Menurut Mottahedeh, Ayatollah Ruhollah Khomeini memiliki peranan dalam perkembangan teknologi dan budaya di Iran pasca Revolusi Islam. Hal ini pula yang kemudian mendorong perfilman Iran semakin berkembang.
Meski begitu, masyarakat Iran tak lantas gembira ketika rezim telah jatuh. Mereka harus menghadapi Perang Iran-Irak pada dekade '80-an.
Menurut akademisi dan pakar Iran dari Columbia University, Hamid Dabashi, berbagai gejolak itu menimbulkan trauma tersendiri sehingga mendorong para seniman untuk mengekspresikan diri.
"Revolusi itu telah menciptakan kondisi kreativitas untuk mengungkapkan trauma yang dialami bangsa," kata Dabashi kepada CNN.
Sementara itu, penerapan sensor juga pembatasan konten seiring dengan penerapan syariat Islam di Iran rupanya lebih dianggap sebagai tantangan alih-alih pengekangan.
Ayatollah Ruhollah Khomeini dianggap memiliki peranan dalam perkembangan teknologi dan budaya di Iran pasca Revolusi Islam. (JOEL ROBINE / AFP)
"Ini jelas bukan untuk membela penyensoran," kata Dabashi, "Namun bila terkait Iran, penyensoran menciptakan penghalang kreatif yang harus dilewati oleh pembuat film."
Mohammad Reza Ebrahimi, Cultural Counsellor Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia, mengatakan kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu bahwa Revolusi Islam mempermudah masyarakat mengakses film.
"Sebelum Revolusi, gedung bioskop adalah tempat untuk menonton hal yang tidak layak untuk ditonton," kata Ebrahimi. "Karena film yang ditonton pun bertentangan dengan hukum Islam, mungkin dilabeli film dewasa, memang benar-benar dewasa,"
"Namun setelah revolusi Islam Iran, mulai diproduksi film-film yang bisa dilihat semua usia, pembatasan umur tetap ada tetapi keluarga dari berbagai usia bisa menikmati akhir pekan mereka, dan itu bukan suatu hal yang dianggap buruk." kata Ebrahimi.
Ebrahimi pun menyebut bahwa perfilman Iran didukung oleh Ayatollah Khomeini yang disebutnya adalah seorang penggemar film dan kerap saling berdiskusi dengan sineas.
Sutradara Abbas Kiarostami saat meraih Palme d'Or Cannes Film Festival. (AFP/MICHEL GANGNE)
Dukungan itu pun disebutnya masih berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut dilihat dari dukungan pemerintah untuk perfilman Iran dalam bentuk bujet anggaran negara hingga kemudahan perizinan produksi film.
Kini, Iran tinggal memetik buah perjuangan panjang mereka dalam membentuk sosial dan budaya, termasuk perfilman nasional mereka.
Hal itu terbukti dari Iran yang kini menjadi negara kedua di Asia dengan Piala Oscar terbanyak, dan film-film mereka yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman.
Jakarta, CNN Indonesia --
Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman di era modern ini adalah buah dari perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut.
Kisah perfilman Iran bisa dimulai sejak era awal 1900, ketika penguasa Persia kala itu Muzaffar al-Din yang masih dalam Dinasti Qajar tertarik dengan film saat dirinya bepergian ke Eropa.
Ketertarikan itu dibawa ke Tanah Persia hingga dunia perfilman Iran dimulai dengan pembukaan bioskop publik pada 1904 di Tehran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun masyarakat Persia kala itu menolak keberadaan film. Sejumlah pihak menganggap bahwa menyaksikan film adalah sebuah dosa karena mempertunjukkan gambar makhluk hidup.
Ketika dinasti berikutnya, Pahlavi, berdiri pada 1920-an, film ikut menjadi bagian dari upaya modernisasi Persia saat itu.
Apalagi, modernisasi itu ditambah dengan sekularisme, industrialisasi, dan Westernisasi dilakukan besar-besaran. Persia mengikuti tetangganya, Kesultanan Ottoman yang runtuh dan menjadi Turki.
Pada era ini, film peruntukannya bukan sebagai hiburan melainkan lebih kepada propaganda. Dinasti yang berkuasa akan meninjau isi film impor yang datang dan tak sungkan menyesuaikannya dengan keinginan penguasa.
Bashu, the Little Stranger (1989). Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman era modern adalah buah perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut. (dok. Kanun parvaresh fekri via IMDb)
Sekolah film diketahui didirikan pertama kali pada 1925 dan mulai sejak saat itu, Iran belajar memproduksi film dan merilis film bisu pertama pada 1930 yang bertajuk Abi and Rabi.
Pada 1932, film bersuara pertama Persia tercipta dengan judul Dokhtar-e Lor/Lor Girl atau Iran Kemarin dan Iran Kini.
Berbagai film dan gambar bergerak pun tercipta seiring dengan Westernisasi yang kental kala itu. Perfilman Persia kala itu banyak didominasi gaya-gaya romantis ala Hollywood dan mengadopsi berbagai cerita sastra masa lalu.
Hingga memasuki dekade '60-an, situasi mulai berubah. Sejumlah sineas baru menghasilkan karya yang berbeda dengan pendahulu. Fenomena ini dikenal sebagai Iranian New Wave.
Sejumlah tokoh menjadi pionir dalam gelombang baru ini, sebut saja Hajir Darioush, Abbas Kiarostami, Jafar Panahi, dan Baheam Beyzaie.
Titik awal Gelombang Baru Iran dalam dunia perfilman ini diyakini dimulai ketika film kedua Darioush, Serpent's Skin, dirilis pada 1964. Semenjak saat itu, gaya perfilman Iran berubah dan menarik perhatian publik.
Pada dekade itu pula dikenang sebagai era keemasan film Iran. Puluhan film komersil diproduksi, dari 25 film per tahun di awal dekade '60, menjadi 65 film per tahun di akhir dekade. Sebagian besar fokus pada melodrama dan thriller seperti Amerika.
"Melodrama Iran dari tahun 1960-an dan 1970-an meniru melodrama Amerika," kata kritikus budaya Negar Mottahedeh dalam bukunya, Displaced Allegories: Post-Revolutionary Iranian Cinema (2008).
Track 143 (2014). Film Iran yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman era modern adalah buah perjalanan panjang perfilman negara Persia tersebut. (dok. IMDb)
"Apa yang dilakukan rezim [Shah Mohammed Reza] Pahlavi adalah menjadikan wanita sebagai komoditas ... membuat mereka memakai mode Barat dan menjadi asing bagi orang Iran," lanjutnya.
Hingga memasuki dekade '70-an, Persia mengalami gejolak sosial yang kencang. Westernisasi yang kental rupanya menjemukan bagi masyarakat, ditambah dengan berbagai krisis multidimensi kala itu.
Pada 1977, demonstrasi mulai terjadi di mana-mana. Masyarakat bergejolak menginginkan perubahan. Hingga pada akhir Maret 1979, masyarakat Persia melakukan referendum yang juga didorong oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai oposisi penguasa.
Hasil referendum tersebut memutuskan bahwa negara yang semula dikenal sebagai Kerajaan Persia itu berganti haluan menjadi negara republik berasaskan Islam dan mengganti namanya menjadi "Iran".
Lanjut ke sebelah...
Pasca Revolusi Islam Iran
A Separation (2012) menang Oscar sebagai Best Foreign Language Film. (dok. Asghar Farhadi Productions/Dreamlab Films /MPA APSA Academy Film Fund/Memento Films via IMDb)
Revolusi Islam Iran tersebut bukan hanya mengubah tata negara wilayah Persia itu, tetapi hingga ke tatanan sosial juga budayanya, termasuk film.
Menurut Mottahedeh, Ayatollah Ruhollah Khomeini memiliki peranan dalam perkembangan teknologi dan budaya di Iran pasca Revolusi Islam. Hal ini pula yang kemudian mendorong perfilman Iran semakin berkembang.
Meski begitu, masyarakat Iran tak lantas gembira ketika rezim telah jatuh. Mereka harus menghadapi Perang Iran-Irak pada dekade '80-an.
Menurut akademisi dan pakar Iran dari Columbia University, Hamid Dabashi, berbagai gejolak itu menimbulkan trauma tersendiri sehingga mendorong para seniman untuk mengekspresikan diri.
"Revolusi itu telah menciptakan kondisi kreativitas untuk mengungkapkan trauma yang dialami bangsa," kata Dabashi kepada CNN.
Sementara itu, penerapan sensor juga pembatasan konten seiring dengan penerapan syariat Islam di Iran rupanya lebih dianggap sebagai tantangan alih-alih pengekangan.
Ayatollah Ruhollah Khomeini dianggap memiliki peranan dalam perkembangan teknologi dan budaya di Iran pasca Revolusi Islam. (JOEL ROBINE / AFP)
"Ini jelas bukan untuk membela penyensoran," kata Dabashi, "Namun bila terkait Iran, penyensoran menciptakan penghalang kreatif yang harus dilewati oleh pembuat film."
Mohammad Reza Ebrahimi, Cultural Counsellor Kedutaan Besar Iran untuk Indonesia, mengatakan kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu bahwa Revolusi Islam mempermudah masyarakat mengakses film.
"Sebelum Revolusi, gedung bioskop adalah tempat untuk menonton hal yang tidak layak untuk ditonton," kata Ebrahimi. "Karena film yang ditonton pun bertentangan dengan hukum Islam, mungkin dilabeli film dewasa, memang benar-benar dewasa,"
"Namun setelah revolusi Islam Iran, mulai diproduksi film-film yang bisa dilihat semua usia, pembatasan umur tetap ada tetapi keluarga dari berbagai usia bisa menikmati akhir pekan mereka, dan itu bukan suatu hal yang dianggap buruk." kata Ebrahimi.
Ebrahimi pun menyebut bahwa perfilman Iran didukung oleh Ayatollah Khomeini yang disebutnya adalah seorang penggemar film dan kerap saling berdiskusi dengan sineas.
Sutradara Abbas Kiarostami saat meraih Palme d'Or Cannes Film Festival. (AFP/MICHEL GANGNE)
Dukungan itu pun disebutnya masih berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut dilihat dari dukungan pemerintah untuk perfilman Iran dalam bentuk bujet anggaran negara hingga kemudahan perizinan produksi film.
Kini, Iran tinggal memetik buah perjuangan panjang mereka dalam membentuk sosial dan budaya, termasuk perfilman nasional mereka.
Hal itu terbukti dari Iran yang kini menjadi negara kedua di Asia dengan Piala Oscar terbanyak, dan film-film mereka yang hilir mudik di berbagai ajang perfilman.