Review Film: Doctor Strange in the Multiverse of Madness

Muhammad Feraldi | CNN Indonesia
Jumat, 06 Mei 2022 20:25 WIB
Review Doctor Strange in the Multiverse of Madness: film ini menjawab ekspektasi, tapi terbilang eksklusif untuk penggemar MCU belaka. Review Doctor Strange 2: penampilan Elizabeth Olsen sebagai Wanda brilian. (dok. Marvel Studios via IMDb)

Wanda merupakan salah satu karakter yang mengalami dinamika paling signifikan sejak muncul perdana di Avengers: Age of Ultron (2015).

Sejak trailer Doctor Strange 2 rilis, Wanda ditampilkan sebagai pesakitan yang begitu malang hingga dirinya merasa semesta ini tak adil kepadanya. Berbagai nasib pahit yang dialami Wanda di setiap peristiwa MCU seolah menjadi mesiu yang meledak di Multiverse of Madness.

Modal karakter yang amat kaya itu dieksekusi dengan optimal oleh Olsen. Ia kembali tampil brilian sejak dirinya ramai dipuji saat WandaVision rilis.

Namun, ada beberapa catatan penting yang menjadikan film ini belum bisa menandingi raksasa MCU, seperti Avengers: Endgame (2019) dan Spider-Man: No Way Home (2021).

Doctor Strange in the Multiverse terasa gagal memainkan emosi cerita dengan maksimal. Padahal, film ini punya segalanya: eksekusi brilian, konsep multisemesta ambisius, audio visual dan efek CGI, hingga akting pemeran kelas atas.

Namun, kedekatan emosi yang selama ini menjadi kunci MCU sukses diterima penonton tampaknya gagal terjalin. Pengalaman menonton yang menakjubkan memang dialami selama film diputar, tetapi after taste dari Doctor Strange 2 seperti hambar.

Hal itu barangkali disebabkan oleh akhir cerita yang terasa begitu cepat. Jika studio rela menambah durasi film sedikit lebih panjang, bisa jadi ada kesempatan untuk memainkan emosi setiap karakter secara lebih mendalam.

[Gambas:Youtube]



Marvel juga perlu memahami bahwa menaruh kameo ikonis ke dalam film tidak selamanya berfungsi. Doctor Strange menjadi bukti bahwa kameo ikonis hanya terasa seperti angin lalu jika tidak punya keterikatan dengan cerita utama.

Kemunculan kameo di Doctor Strange justru hanya terasa seperti fan service, atau cara Marvel menjual 'produk' yang akan datang.

Tak hanya itu, konsep multiverse dengan berbagai karakter dan istilahnya juga membuat film ini terasa semakin eksklusif. Hal ini patutnya menjadi alarm bagi MCU jika film-film rilisannya masih ingin disaksikan oleh penonton awam.

Sebab pada akhirnya, film-film Marvel Cinematic Universe juga milik penonton awam yang hanya ingin mencari tontonan superhero sebagai hiburan semata, bukan berpikir pusing atas sebab musabab cerita yang tersaji di depan mereka.

(end/end)

[Gambas:Video CNN]
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER