Jakarta, CNN Indonesia -- Dua puluh tiga tahun lalu, saat baru mulai merasakan kerasnya hidup memburuh di Jakarta, saya mendengar Ibu curhat. Beliau kesal, delapan anaknya yang tak lagi menetap di rumah kami di sebuah kampung di Jawa Tengah, jarang ingat pulang.
Saat itu baru ada teknologi telepon rumah dan telepon wartel, sementara telepon genggam masih sangat jarang. Berbagai penjelasan kenapa anak-anak susah pulang, dianggapnya sebagai alasan.
"Ra sah nggawa apa-apa. Aku mbiyen ya mesti tilik ngomah," katanya jengkel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak usah repot memikirkan uang atau oleh-oleh, pulang saja dan tengok orangtua seperti Ibu dulu menengok Simbah (kakek-nenek) kami, intinya begitu.
Di layar bioskop akhir pekan lalu saya melihat Ibu kembali, 13 tahun setelah beliau tiada. Tika Panggabean (Mak Domu) memerankannya;tua, rambut panjang beruban awut-awutan, baju rumahan yang tak jelas bentuknya antara daster atau atasan, pekerja super keras dan pengabdi suami.
Karakternya yang paling kuat: perempuan yang selalu mengharapkan kepulangan anak-anak setelah meninggalkan rumah.
Ngeri-ngeri Sedap - NNS (2022) dibesut sebagai kisah sebuah keluarga Batak di tepi Danau Toba. Nama, logat bicara, upacara adat, tradisi bahkan makanan popular khas Batak muncul dalam narasinya.
 Review Ngeri Ngeri Sedap: kisah utamanya, kerinduan berkepanjangan pada anak yang enggan pulang, rasanya bisa dialami orangtua saja dalam kultur manapun. (dok. Imajinari via YouTube) Ngeri Ngeri Sedap (202 2) |
Tapi kisah utamanya, kerinduan berkepanjangan pada anak yang enggan pulang, rasanya bisa dialami orangtua saja dalam kultur manapun.
Mulanya Pak Domu (Arswendy Bening Swara) kesal kali pada anak-anaknya yang membangkang perintah. Si sulung Domu (Boris Bokir) yang mestinya meneruskan garis keturunan marga, malah nekat mau kawin dengan seorang mojang Sunda.
Adiknya, Gabe (Lolox), juga memilih berkarier sebagai komedian slapstick di layar TV, meski sudah susah-payah diongkosi kuliah sampai lulus sarjana hukum.
Mimpi Pak Domu punya anak jaksa atau hakim ternama makin pupus, meski kepada sesama teman minum di lapo, Pak Domu selalu mengaku Gabe cuma sementara jadi pelawak.
Si bungsu Sahat (Indra Jegel) tak kurang menjengkelkan.
Sudah lama lulus setelah kuliah di Jogja, bukannya pulang dan merawat orangtua seperti mestinya bakti anak bungsu dalam keluarga Batak, ia malah memilih tinggal dengan Pak Pomo, seorang petani tua yang hidup dengan hasil bumi dari kebun sendiri.
Cuma Sarma (Ghita Bhebhita) si nomor dua dan satu-satunya perempuan yang tinggal dengan Mamak dan Bapaknya dengan bekerja sebagai PNS.
Demi memaksa tiga anak bujangnya pulang, Pak dan Mak Domu memainkan muslihat hendak bercerai.
 Ngeri-ngeri Sedap - NNS (2022) dibesut sebagai kisah sebuah keluarga Batak di tepi Danau Toba. Nama, logat bicara, upacara adat, tradisi bahkan makanan popular khas Batak muncul dalam narasinya. (dok. Imajinari via YouTube) |
Berurai airmata, Sarma mengabari saudara-saudaranya rumah tangga Bapak dan Mamaknya sedang retak. Tanpa tahu sebab-musababnya, pengumuman ini membuat anak-anak di perantauan kaget bukan kepalang. Demi mencegah perpisahan terjadi, semuanya sepakat mudik.
Yang ditunggu akhirnya tiba. Bahkan kepulangan yang mulanya direncanakan cuma dua hari, molor berkepanjangan karena Bapak dan Mamak terus memainkan kartu berseteru. Makin ramai pertikaian, keadaan tampak makin serius dan makin sulit pula anak-anak memutuskan kembali.
Maju-mundur urusan cerai ini kemudian membuka tabir alasan anak-anak enggan pulang. Juga Sarma yang 'dikorbankan' jadi perawat orangtua dengan mengubur cita-citanya sendiri.
Muncul pula dinamika hubungan suami-istri khas suku patrilineal yang menempatkan suami sebagai kepala keluarga dan pengambil keputusan dominan.
Lanjut ke sebelah...
Penceritaan Kocak Sekaligus Sedih
Review Ngeri Ngeri Sedap: Meski berlatar utama budaya Batak, kisah utama film ini bisa dialami orangtua dalam kultur manapun. (dok. Imajinari via YouTube)
Yang merekatkan semuanya dan membuat penonton betah berlama-lama adalah penceritaan yang kocak sekaligus sedih. Berkali-kali tawa penonton membahana dan kemudian sunyi ketika diam-diam sebagian menyeka air mata.
Ini memang film drama, bukan komedi. Sutradara dan penulis skenario Bene Dion (nama marga: Rajagukguk) menggunakan medium kultur Batak untuk menyampaikan kisah. Sebagian, bahkan mirip dengan hidupnya sendiri.
Seperti karakter Gabe yang nekat jadi komedian, Bene yang lahir di Dolok Masihul Serdang Bedagai Sumut adalah alumni Fakultas Teknik UGM. Meski lulus dengan predikat cum laude, Bene malah bolak-balik manggung sebagai stand-up comedian, mulanya di Yogyakarta dan kemudian Jakarta.
Bukunya tentang pengalaman hidup yang keras dalam keluarga Batak berjudul Ngeri Ngeri Sedap terbit tahun 2014 juga kocak sekali. Namun, bukan jadi dasar penulisan skenario film ini.
Di kemudian hari, Bene banyak dilibatkan Ernest Prakasa --komedian senior, penulis dan produser-- dalam beberapa proyek miniseri dan film bergenre komedi mulai sebagai aktor figuran selintasan sampai jadi penulis skenario.
Dalam beberapa publikasi Bene mengaku, dari Ernest yang konsisten menggunakan latar kultur Tionghoa dalam filmnya, dia belajar menggunakan Batak untuk NNS.
Meski para pemain adalah aktor kawakan di panggung pertunjukan Indonesia, film ini tidak menjual muka-muka luar biasa cantik atau rupawan sebagai daya tarik. Modal utama NNS benar-benar kekuatan skenario dan akting pemain.
 Review Ngeri Ngeri Sedap (2022): Yang merekatkan semuanya dan membuat penonton betah berlama-lama adalah penceritaan yang kocak sekaligus sedih. (dok. Imajinari via YouTube) |
Hasilnya pecah betul. Sampai hari ke-7 NNS sudah ditonton 503.181 penonton bioskop sejak diputar 2 Juni 2022. Pantas akhir pekan lalu saat saya nonton di sebuah bioskop Kota Bekasi, tidak ada kursi kosong satu pun.
Belum ada ulasan jelek dialamatkan pada NNS sejauh ini. Kolom rating dalam aplikasi seperti Letterboxd, dimana reviewer sering pelit memberi nilai, menyematkan poin 4,1 bintang untuk NNS - sangat menjanjikan untuk film produk Indonesia.
Satu-satunya yang masih saya sesalkan adalah: menonton NNS membuat saya cemas.
Tiap ingat adegan Mak Domu memeluk tiang penyangga depan rumah sambil tak lepas tersenyum menunggu saat anak-anaknya tiba, perasaan jadi kecut: gini amat ya jadi orangtua.
Bagaimana kalau anak-anak saya juga enggan pulang kelak?
[Gambas:Youtube]