Review Film: Satria Dewa Gatotkaca

Mohammad Farras | CNN Indonesia
Minggu, 12 Jun 2022 20:00 WIB
Review film: Satria Dewa Gatotkaca bisa dibilang berhasil membawa kisah pewayangan dan sebagai pembuka saga dari Jagad Satria Dewa. Review film: Satria Dewa Gatotkaca bisa dibilang berhasil membawa kisah pewayangan dan sebagai pembuka saga dari Jagad Satria Dewa. (dok: Satria Dewa Studio)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gaya produksi blockbuster Hollywood nan ambisius melalui film superhero agaknya memang sudah masuk ke Indonesia.

Salah satunya teranyar adalah Satria Dewa: Gatotkaca, yang secara mengejutkan mampu mematahkan skeptisme saya di awal.

Film yang digarap Hanung Bramantyo ini menampilkan sajian mewah nan ambisius untuk proyek pertama dari rangkaian kisah jagat film yang terkonsep secara kolosal.


Namun Gatotkaca menawarkan ambisi lain, apalagi film dan jagatnya diangkat dari epos legendaris Mahabharata yang sudah dikenal masyarakat Nusantara selama lintas generasi.

Saya pada awalnya skeptis akan proyek ini saat diumumkan pertama kali pada dua tahun lalu. Begitu pula ketika trailer pertama dirilis yang menampilkan kisah epos dibawakan dengan percakapan ala anak 'Jaksel'.

Akan tetapi, skeptisme itu perlahan luntur saat adegan demi adegan Satria Dewa Gatotkaca tersaji di layar lebar.

Gaya film epos macam Marvel Cinematic Universe yang 'ramah' tampaknya memang jadi cara utama Gatotkaca untuk mengenalkan kisah ini kepada publik. Walaupun, dalam beberapa aspek, kehadiran sejumlah tokoh sebenarnya tak berdampak signifikan pada cerita.

Hanung juga tampaknya ingin menampilkan gaya plot film superhero berbumbu fiksi ilmiah untuk menarasikan kisah epos yang jadi dasar Gatotkaca.

Satria Dewa: GatotkacaReview film: Satria Dewa Gatotkaca bisa dibilang berhasil membawa kisah pewayangan dan sebagai pembuka saga dari Jagad Satria Dewa. : (dok. Satria Dewa Studio via YouTube)

Plot cerita yang mengajak penonton menebak alur berikutnya terasa kental dalam film yang membawa kisah pewayangan dalam suasana kehidupan masyarakat Indonesia di abad ke-21.

Meski begitu, pujian bisa diberikan oleh Hanung dan tim produksi dari Gatotkaca. Dengan alur waktu maju-mundur, mereka jelas amat memperhatikan detail set serta penokohan film ini di tengah berbagai keterbatasan yang ada.

Film ini disebut sebelumnya dikerjakan semasa Indonesia dihantam pandemi dan memiliki masa lokakarya yang amat minim. Relevansi dunia nyata itu pun juga ditampilkan dalam film ini yang membuat Gatotkaca terasa agak terhubung dengan penonton.

Saat relevansi kehidupan sehari-hari itu muncul, saya merasakan sentuhan drama slice of life di tengah keriuhan aksi superhero film ini. Hal itu jadi nilai tambah film ini, sekaligus melogiskan gaya bahasa kekinian yang membuat saya bertanya-tanya di awal.

Memang cara ini terasa seperti "main aman", tapi patut diacungi jempol. Apalagi bila mengingat niatan film ini untuk mengenalkan kisah pewayangan pada Gen Z dan milenial yang tak pernah tersentuh acara tanggap wayang.

Berbicara soal wayang, Hanung Bramantyo dan tim kreatif jelas melakukan riset mendalam dalam mengadaptasi kisah Mahabharata ke bentuk layar lebar. Setidaknya, diskusi intens dengan pakar budaya dan sejarah dari sejumlah universitas terbayar tak percuma.

Walaupun Satria Dewa Gatotkaca bisa dibilang berhasil membawa kisah pewayangan dan sebagai pembuka saga, film ini juga masih meninggalkan sejumlah catatan. 

Lanjut ke sebelah...

Review Film: Satria Dewa Gatotkaca

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER