Ilustrasi. Pembaca bisa menggunakan platform yang berbeda untuk membaca fanfiction, tapi yang mereka dapatkan sama: mengisi kekosongan diri. (Foto: CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Jakarta, CNN Indonesia --
Amel masih berseragam putih-biru ketika mulai menjadi pembaca setia fanfiction. Ia salah satu pembaca yang awalnya mengenal karya tulisan dari penggemar lewat situs-situs fanfiction.
Ia mengakses karya-karya penggemar itu lewat situs FanFiction.net, Archive of Our Own (AO3), hingga lewat aplikasi Tumblr. Namun, kini Amel mengaku sudah mulai "hijrah" ke media sosial sebagai platform utama untuk membaca fanfiction, terutama genre alternate universe (AU).
"Paling sering sih masih AO3, cuma enggak melepas juga gue baca AU di Twitter kalau sekarang," ungkap Amel ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Rabu (31/8).
Perempuan bernama lengkap Amelia Ivanka ini punya preferensi dalam memilih AU yang ingin dia baca di Twitter, yaitu yang bersifat role play. Role play yang kini banyak ditemui di media sosial berbentuk group chat yang biasanya berisi obrolan antaranggota idol group yang digemari seorang penggemar.
Format AU inilah yang disukai Amel terhadap idol group yang ia idolakan, yaitu BTS. Ia suka membaca role play BTS karena isi kontennya sudah melokal.
"Gue pernah baca BTS yang lucu itu mereka tinggal ngekos bareng, terus ada yang saling naksir. Soalnya mereka [penulis] menyajikan fanfic-nya dalam bentuk group chat," ujar Amel.
"Biasanya bego-bego gitu jokes-nya. Orang Indonesia zaman sekarang tuh nyambung [dengan candaannya], jadi gue juga menantikan gitu," sambungnya.
Amel cenderung lebih senang membaca AU di Twitter daripada lewat situs-situs fanfiction. Menurutnya, kelebihan mengunggah hasil karya penulis fanfiction di media sosial karena pembuat karya bisa menyajikan jenis konten yang beragam.
Penulis bisa membuat karya fiksi yang diunggah ke media sosial dalam bentuk tulisan, grafis, bahkan audio. Berbeda dengan situs-situs fanfiction yang hanya berbentuk tulisan.
Bentuk fanfiction, terutama genre AU, yang beragam inilah yang membuat Amel beralih ke Twitter untuk menghiburnya dari kehidupan nyata.
"Sempat ada yang bikin kayak mock up video. Misalnya lo baca AU Jungkook, nah, lo nanti disuguhin visual Jungkook lagi video call sama lo," cerita Amel.
"Terus ada suara-suaranya gitu, misalnya dia nanya, 'Kamu apa kabar?' Hahaha. Makanya aku bilang variatif, 'kan," imbuhnya.
Anggrek (bukan nama sebenarnya) memiliki cerita yang berbeda terkait kebiasaannya membaca fanfiction.
Lanjut ke sebelah...
Awal Anggrek berkenalan dengan dunia fanfiction adalah ketika ia mengikut manga Bleach.
Saat itu, manga populer Jepang itu mengeluarkan chapter terbaru tiap satu bulan sekali. Anggrek yang tidak sabar menunggu chapter selanjutnya rilis akhirnya mencari celah untuk mengisi kekosongan dalam dirinya.
"Ternyata komunitas fans itu tuh semuanya saling satu pendapat ya. Jadi kalo kecapekan nunggu orisinalnya ya bikin aja sendiri," kata Anggrek.
Kebiasaan itu terus terbawa hingga ia dewasa. Kini ia hobi membaca fanfiction salah satu idol Korea yang ia kagumi.
Kekosongan dalam dirinya terus terisi dan mendapatkan kepuasan dari hobinya itu.
"Intinya kan kita suka karakter itu, 'kan, dan kita pengin nontonin mereka atau dapat sesuatu lagi dari mereka," kata Anggrek. "Jadi, ya, gimana caranya mengisi kekosongan itu."
Alasan ini disetujui oleh Putri Andam Dewi, dosen sastra Jepang Binus University. Pembaca fanfiction memang mencari karya tulisan penggemar untuk mencapai suatu kepuasan diri.
Selain karena suka terhadap karya orisinal dan karakternya, pembaca ingin mencari bentuk tulisan yang berbeda dari karya aslinya.
"Ada keinginan dari balik penulis atau pembacanya untuk satu [bentuk] yang berbeda. Di situ ditumbuhkan di AU. It's free, terserah," kata Andam.
Meski demikian, psikolog Klinis Nirmala Ika Kusumaningrum memberikan peringatan kepada para pembaca fanfiction. Banyak fanfiction yang memiliki tema dewasa dan dapat diakses bebas oleh pembaca tanpa pandang umur.
"Kalau orang dewasa itu sudah jadi pilihannya dia untuk baca cerita kayak gitu," kata Nirmala.
"Karena kebanyakan akhirnya terlalu bebas dan genrenya jadi dewasa, perlu diwaspadai karena banyak ceritanya juga dikonsumsi oleh usia yang lebih muda," sambungnya.
Amel masih berseragam putih-biru ketika mulai menjadi pembaca setia fanfiction. Ia salah satu pembaca yang awalnya mengenal karya tulisan dari penggemar lewat situs-situs fanfiction.
Ia mengakses karya-karya penggemar itu lewat situs FanFiction.net, Archive of Our Own (AO3), hingga lewat aplikasi Tumblr. Namun, kini Amel mengaku sudah mulai "hijrah" ke media sosial sebagai platform utama untuk membaca fanfiction, terutama genre alternate universe (AU).
"Paling sering sih masih AO3, cuma enggak melepas juga gue baca AU di Twitter kalau sekarang," ungkap Amel ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com pada Rabu (31/8).
Perempuan bernama lengkap Amelia Ivanka ini punya preferensi dalam memilih AU yang ingin dia baca di Twitter, yaitu yang bersifat role play. Role play yang kini banyak ditemui di media sosial berbentuk group chat yang biasanya berisi obrolan antaranggota idol group yang digemari seorang penggemar.
Format AU inilah yang disukai Amel terhadap idol group yang ia idolakan, yaitu BTS. Ia suka membaca role play BTS karena isi kontennya sudah melokal.
"Gue pernah baca BTS yang lucu itu mereka tinggal ngekos bareng, terus ada yang saling naksir. Soalnya mereka [penulis] menyajikan fanfic-nya dalam bentuk group chat," ujar Amel.
"Biasanya bego-bego gitu jokes-nya. Orang Indonesia zaman sekarang tuh nyambung [dengan candaannya], jadi gue juga menantikan gitu," sambungnya.
Amel cenderung lebih senang membaca AU di Twitter daripada lewat situs-situs fanfiction. Menurutnya, kelebihan mengunggah hasil karya penulis fanfiction di media sosial karena pembuat karya bisa menyajikan jenis konten yang beragam.
Penulis bisa membuat karya fiksi yang diunggah ke media sosial dalam bentuk tulisan, grafis, bahkan audio. Berbeda dengan situs-situs fanfiction yang hanya berbentuk tulisan.
Bentuk fanfiction, terutama genre AU, yang beragam inilah yang membuat Amel beralih ke Twitter untuk menghiburnya dari kehidupan nyata.
"Sempat ada yang bikin kayak mock up video. Misalnya lo baca AU Jungkook, nah, lo nanti disuguhin visual Jungkook lagi video call sama lo," cerita Amel.
"Terus ada suara-suaranya gitu, misalnya dia nanya, 'Kamu apa kabar?' Hahaha. Makanya aku bilang variatif, 'kan," imbuhnya.
Anggrek (bukan nama sebenarnya) memiliki cerita yang berbeda terkait kebiasaannya membaca fanfiction.
Lanjut ke sebelah...
Mengisi Kekosongan dalam Diri
Ilustrasi. Pembaca bisa menggunakan platform yang berbeda untuk membaca fanfiction, tapi yang mereka dapatkan sama: mengisi kekosongan diri. (Foto: CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Awal Anggrek berkenalan dengan dunia fanfiction adalah ketika ia mengikut manga Bleach.
Saat itu, manga populer Jepang itu mengeluarkan chapter terbaru tiap satu bulan sekali. Anggrek yang tidak sabar menunggu chapter selanjutnya rilis akhirnya mencari celah untuk mengisi kekosongan dalam dirinya.
"Ternyata komunitas fans itu tuh semuanya saling satu pendapat ya. Jadi kalo kecapekan nunggu orisinalnya ya bikin aja sendiri," kata Anggrek.
Kebiasaan itu terus terbawa hingga ia dewasa. Kini ia hobi membaca fanfiction salah satu idol Korea yang ia kagumi.
Kekosongan dalam dirinya terus terisi dan mendapatkan kepuasan dari hobinya itu.
"Intinya kan kita suka karakter itu, 'kan, dan kita pengin nontonin mereka atau dapat sesuatu lagi dari mereka," kata Anggrek. "Jadi, ya, gimana caranya mengisi kekosongan itu."
Alasan ini disetujui oleh Putri Andam Dewi, dosen sastra Jepang Binus University. Pembaca fanfiction memang mencari karya tulisan penggemar untuk mencapai suatu kepuasan diri.
Selain karena suka terhadap karya orisinal dan karakternya, pembaca ingin mencari bentuk tulisan yang berbeda dari karya aslinya.
"Ada keinginan dari balik penulis atau pembacanya untuk satu [bentuk] yang berbeda. Di situ ditumbuhkan di AU. It's free, terserah," kata Andam.
Meski demikian, psikolog Klinis Nirmala Ika Kusumaningrum memberikan peringatan kepada para pembaca fanfiction. Banyak fanfiction yang memiliki tema dewasa dan dapat diakses bebas oleh pembaca tanpa pandang umur.
"Kalau orang dewasa itu sudah jadi pilihannya dia untuk baca cerita kayak gitu," kata Nirmala.
"Karena kebanyakan akhirnya terlalu bebas dan genrenya jadi dewasa, perlu diwaspadai karena banyak ceritanya juga dikonsumsi oleh usia yang lebih muda," sambungnya.