Bergalau Tengah Malam dengan Taylor Swift dalam Midnights
Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Senin, 31 Okt 2022 05:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Review album Midnights: Taylor Swift bagai memberikan cara 'menyenangkan' dalam menghadapi kegalauan depresif yang hadir kala tengah malam. (AP/)
Endro Priherdityo
4
Midnights mampu punya tenaga magis yang mempertahankan posisi Taylor Swift sebagai raksasa dalam industri musik.
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah membuat fase-fase pandemi yang kelabu menjadi sedikit terasa lebih hangat dengan folklore (2020) dan evermore (2020), Taylor Swiftkembali ke keramaian pop dengan Midnights.
Keputusan Swift kembali ke pop sebenarnya bisa dibilang mengejutkan, tapi juga bisa dipahami. Keputusan yang mengejutkan karena biasanya, Swift akan memilih hal yang berbeda dari album-album sebelumnya.
Misalnya, setelah tiga album pertama yang full country, ia mulai mengeksplorasi berbagai genre dalam Red (2012). Atau ketika sudah membuat trilogi pop Swift --1989 (2014), reputation (2017), dan Lover (2019)-- ia beralih ke folklore (2020) dan evermore (2020) yang alternative dan folky.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun keputusan untuk ke pasar utama pop pun bisa dipahami. Ranah musik pop masih menyisakan ruang yang begitu luas untuk dieksplorasi oleh Swift, satu hal yang tak pernah puas ia lakukan dalam bermusik.
Kini, Midnights (2022) menjadi buah dari kegiatan Swift bermain-main dengan musik bersama sahabatnya, Jack Antonoff. Antonoff adalah sahabat sekaligus kolaborator langganan Swift, sekaligus musisi favorit para penggemar Swift.
Namun Midnights juga bukan hanya buah dari Swift dan Antonoff bermain-main dengan melodi, produksi musik yang paripurna, dan lirik yang kelam nan intens. Album ke-10 ini bak buah dari pengalaman Swift dalam membuat tiga album pop dan dua album alternative.
Unsur pop yang dominan dalam album ini mengingatkan akan gurih dan catchy lagu-lagu dalam album 1989 (2014) dan Lover (2019), tapi dengan suasana, melodi, dan penggunaan bass juga efek musik seperti reputation (2017) yang gelap.
Antonoff pun banyak menggunakan synthesizer dan segudang instrumen elektronik lainnya untuk Midnights, meski tak banyak memasukkan unsur hip-hop seperti dalam reputation (2017).
Sementara itu, pengalaman Swift yang meningkatkan kapasitas penulisan liriknya dalam folklore (2020) juga evermore (2020) sangat terlihat dalam lirik-lirik di album Midnights.
Meski seringkali mood melodi dengan lirik terasa tidak seirama, anehnya lagu-lagu dalam Midnights masih bisa dibilang sejalan. Swift bagai memberikan cara 'menyenangkan' dalam menghadapi kegalauan depresif yang hadir kala tengah malam.
Swift pun tak main-main saat mengatakan bahwa Midnights memiliki lirik yang intens, seperti You're On Your Own, Kids dan Anti-Hero. Kedua lagu ini memiliki intensitas emosi yang cukup tinggi dari segi lirik walau kadang melodinya terkesan 'tak nyambung' karena suasana riang di dalamnya.
Sementara itu, pengalaman Swift dalam mengarang bebas lirik dalam folklore (2020) dan evermore (2020) terlihat dari lirik-lirik di Midnights seperti pada lagu Question...?, Maroon, Snow On The Beach, The Great War, atau pun Paris.
Kini Swift bisa dibilang terlepas dari stigma curcol via lagu, bahkan ia bisa mengendalikan sendiri narasi apa yang ingin ditulis dan kisahkan. Hal itu pula yang membuat kualitas lirik dalam album ini secara nilai, jauh di atas tiga album pop dia sebelumnya.
Meski begitu, Swift pun menyadari, bahwa cerita asmaranya --baik kini maupun di masa lalu-- adalah materi paling favorit para media juga penggemarnya.
Lanjut ke sebelah..
Musisi cerdas itu pun menyisakan ruang untuk versi "the old Taylor" dalam beberapa lagu, seperti Lavender Haze, Would've, Could've, Should've, High Infidelity, atau Midnight Rain.
Apakah dengan begitu membuat Midnights lebih unggul dibanding seluruh katalog Swift? Bagi sebagian orang mungkin iya, bahkan bisa dibilang Midnights sebagai sebuah kesegaran dan keseruan yang baru usai menangis bawang di folklore (2020), evermore (2020), dan Red (Taylor's Version) (2021).
Akan tetapi bagi sebagian yang lain, Midnights mungkin akan sulit menggantikan rasa nyaman yang sudah didapat dari album Taylor Swift sebelumnya. Saya sendiri lebih mengunggulkan folklore dan evermore dibanding Midnights secara keseluruhan.
Saya mungkin akan lebih memilih champagne problems (2020) dibanding Maroon meski memiliki kisah yang mirip. Atau saya akan lebih memilih Lover (2019) atau Daylight (2019) dibanding Snow On The Beach, meski Lana Del Rey memberikan sensasi merinding yang indah.
Dengan begitu, apakah Midnights berarti sebuah album penurunan musikalitas Swift? Saya tidak bisa mengatakan hal tersebut karena musisi asal Nashville ini jelas menunjukkan perkembangan kualitas dan kemampuan yang baru.
Apalagi, lagu-lagu dalam album ini memang punya kualitas yang lebih baik dibanding trilogi pop Swift sebelumnya. Hanya saja bagi saya, folklore (2020) dan evermore (2020) lebih bisa merengkuh sanubari dibanding Midnights.
Di sisi lain, saya cenderung lebih mengunggulkan koleksi lagu-lagu dalam Midnights 3am Edition yang beberapa di antaranya digarap Swift bersama Dessner. Bagi saya, Dessner bisa memberikan nyawa tersendiri yang menguatkan modal kalbu dalam lirik Swift.
Beberapa lagu dalam Midnights 3am Edition sebenarnya memiliki energi yang lebih besar, misalnya Bigger Than The Whole Sky atau Would've, Could've, Should've. Atau, melodi santuy seperti Glitch.
Terkhusus untuk Glitch, saya mungkin akan mengucapkan selamat kepada Swift karena berhasil membuat lagu eksperimental yang asoi setelah closure (2020) yang tak membuat telinga nyaman dan It's Nice to Have a Friend (2019) yang tak terlalu "nice!"
Terlepas dari perbandingan dan segala dunia juga cara baru yang disajikan Swift, Midnights mampu punya tenaga magis yang mempertahankan posisi Taylor sebagai raksasa dalam industri musik.
Bukan tidak mungkin, lagu-lagu dalam Midnights baru akan terasa everlasting dan ikonis seperti para pendahulunya pada beberapa tahun lagi, macam Blank Space (2014), Lover (2019), ataupun cardigan (2020). Hanya waktu yang bisa menjawab.
Rekomendasi daftar lagu Midnights menurut Endro Priherdityo:
1. You're On Your Own, Kid 2. Bigger Than The Whole Sky 3. Would've, Could've, Should've 4. Anti-Hero 5. The Great War 6. Snow On The Beach 7. Lavender Haze 8. Question...? 9. High Infidelity 10. Glitch 11. Midnight Rain 12. Mastermind 13. Vigilante Shit 14. Sweet Nothing 15. Bejeweled 16. Karma 17. Paris 18. Labyrinth 19. Maroon 20. Dear Reader
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah membuat fase-fase pandemi yang kelabu menjadi sedikit terasa lebih hangat dengan folklore (2020) dan evermore (2020), Taylor Swiftkembali ke keramaian pop dengan Midnights.
Keputusan Swift kembali ke pop sebenarnya bisa dibilang mengejutkan, tapi juga bisa dipahami. Keputusan yang mengejutkan karena biasanya, Swift akan memilih hal yang berbeda dari album-album sebelumnya.
Misalnya, setelah tiga album pertama yang full country, ia mulai mengeksplorasi berbagai genre dalam Red (2012). Atau ketika sudah membuat trilogi pop Swift --1989 (2014), reputation (2017), dan Lover (2019)-- ia beralih ke folklore (2020) dan evermore (2020) yang alternative dan folky.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun keputusan untuk ke pasar utama pop pun bisa dipahami. Ranah musik pop masih menyisakan ruang yang begitu luas untuk dieksplorasi oleh Swift, satu hal yang tak pernah puas ia lakukan dalam bermusik.
Kini, Midnights (2022) menjadi buah dari kegiatan Swift bermain-main dengan musik bersama sahabatnya, Jack Antonoff. Antonoff adalah sahabat sekaligus kolaborator langganan Swift, sekaligus musisi favorit para penggemar Swift.
Namun Midnights juga bukan hanya buah dari Swift dan Antonoff bermain-main dengan melodi, produksi musik yang paripurna, dan lirik yang kelam nan intens. Album ke-10 ini bak buah dari pengalaman Swift dalam membuat tiga album pop dan dua album alternative.
Unsur pop yang dominan dalam album ini mengingatkan akan gurih dan catchy lagu-lagu dalam album 1989 (2014) dan Lover (2019), tapi dengan suasana, melodi, dan penggunaan bass juga efek musik seperti reputation (2017) yang gelap.
Antonoff pun banyak menggunakan synthesizer dan segudang instrumen elektronik lainnya untuk Midnights, meski tak banyak memasukkan unsur hip-hop seperti dalam reputation (2017).
Sementara itu, pengalaman Swift yang meningkatkan kapasitas penulisan liriknya dalam folklore (2020) juga evermore (2020) sangat terlihat dalam lirik-lirik di album Midnights.
Meski seringkali mood melodi dengan lirik terasa tidak seirama, anehnya lagu-lagu dalam Midnights masih bisa dibilang sejalan. Swift bagai memberikan cara 'menyenangkan' dalam menghadapi kegalauan depresif yang hadir kala tengah malam.
Swift pun tak main-main saat mengatakan bahwa Midnights memiliki lirik yang intens, seperti You're On Your Own, Kids dan Anti-Hero. Kedua lagu ini memiliki intensitas emosi yang cukup tinggi dari segi lirik walau kadang melodinya terkesan 'tak nyambung' karena suasana riang di dalamnya.
Sementara itu, pengalaman Swift dalam mengarang bebas lirik dalam folklore (2020) dan evermore (2020) terlihat dari lirik-lirik di Midnights seperti pada lagu Question...?, Maroon, Snow On The Beach, The Great War, atau pun Paris.
Kini Swift bisa dibilang terlepas dari stigma curcol via lagu, bahkan ia bisa mengendalikan sendiri narasi apa yang ingin ditulis dan kisahkan. Hal itu pula yang membuat kualitas lirik dalam album ini secara nilai, jauh di atas tiga album pop dia sebelumnya.
Meski begitu, Swift pun menyadari, bahwa cerita asmaranya --baik kini maupun di masa lalu-- adalah materi paling favorit para media juga penggemarnya.
Lanjut ke sebelah..
Daftar Lagu Midnights Terbaik
Review album Midnights: Taylor Swift bagai memberikan cara 'menyenangkan' dalam menghadapi kegalauan depresif yang hadir kala tengah malam. (Getty Images via AFP/TERRY WYATT)
Musisi cerdas itu pun menyisakan ruang untuk versi "the old Taylor" dalam beberapa lagu, seperti Lavender Haze, Would've, Could've, Should've, High Infidelity, atau Midnight Rain.
Apakah dengan begitu membuat Midnights lebih unggul dibanding seluruh katalog Swift? Bagi sebagian orang mungkin iya, bahkan bisa dibilang Midnights sebagai sebuah kesegaran dan keseruan yang baru usai menangis bawang di folklore (2020), evermore (2020), dan Red (Taylor's Version) (2021).
Akan tetapi bagi sebagian yang lain, Midnights mungkin akan sulit menggantikan rasa nyaman yang sudah didapat dari album Taylor Swift sebelumnya. Saya sendiri lebih mengunggulkan folklore dan evermore dibanding Midnights secara keseluruhan.
Saya mungkin akan lebih memilih champagne problems (2020) dibanding Maroon meski memiliki kisah yang mirip. Atau saya akan lebih memilih Lover (2019) atau Daylight (2019) dibanding Snow On The Beach, meski Lana Del Rey memberikan sensasi merinding yang indah.
Dengan begitu, apakah Midnights berarti sebuah album penurunan musikalitas Swift? Saya tidak bisa mengatakan hal tersebut karena musisi asal Nashville ini jelas menunjukkan perkembangan kualitas dan kemampuan yang baru.
Apalagi, lagu-lagu dalam album ini memang punya kualitas yang lebih baik dibanding trilogi pop Swift sebelumnya. Hanya saja bagi saya, folklore (2020) dan evermore (2020) lebih bisa merengkuh sanubari dibanding Midnights.
Di sisi lain, saya cenderung lebih mengunggulkan koleksi lagu-lagu dalam Midnights 3am Edition yang beberapa di antaranya digarap Swift bersama Dessner. Bagi saya, Dessner bisa memberikan nyawa tersendiri yang menguatkan modal kalbu dalam lirik Swift.
Beberapa lagu dalam Midnights 3am Edition sebenarnya memiliki energi yang lebih besar, misalnya Bigger Than The Whole Sky atau Would've, Could've, Should've. Atau, melodi santuy seperti Glitch.
Terkhusus untuk Glitch, saya mungkin akan mengucapkan selamat kepada Swift karena berhasil membuat lagu eksperimental yang asoi setelah closure (2020) yang tak membuat telinga nyaman dan It's Nice to Have a Friend (2019) yang tak terlalu "nice!"
Terlepas dari perbandingan dan segala dunia juga cara baru yang disajikan Swift, Midnights mampu punya tenaga magis yang mempertahankan posisi Taylor sebagai raksasa dalam industri musik.
Bukan tidak mungkin, lagu-lagu dalam Midnights baru akan terasa everlasting dan ikonis seperti para pendahulunya pada beberapa tahun lagi, macam Blank Space (2014), Lover (2019), ataupun cardigan (2020). Hanya waktu yang bisa menjawab.