Jakarta, CNN Indonesia -- Satu perasaan yang saya rasakan ketika closing credits The Big 4 mulai berputar: saya sangat menikmati tiap menit yang berlalu menertawakan kegilaan film ini.
Percobaan pertama Timo Tjahjanto menyentuh genre komedi yang dicampur dengan genre aksi yang sudah menjadi ciri khasnya itu berhasil bagi saya.
Pembangunan empat karakter utama The Big 4, yaitu Topan (Abimana Aryasatya), Jenggo (Arie Kriting), Alpha (Lutesha), dan Pelor (Kristo Immanuel), diperkenalkan dengan sangat baik di 10 menit awal film.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Timo juga langsung menyuguhkan adegan aksi yang penuh darah dan daging yang muncrat ke mana-mana dalam jangka waktu tersebut.
Tidak ketinggalan karakter Dina, diperankan oleh Putri Marino, yang diperkenalkan setelah opening title masuk.
Lewat adegan yang singkat itu, saya sudah dapat mengenal Dina dengan cepat lewat adegan di tukang fotokopi itu. Dina bukan perempuan yang bisa diremehkan.
[Gambas:Video CNN]
Jika dilihat dari alur cerita, sebenarnya plot The Big 4 tidak begitu istimewa. Bisa dibilang ceritanya agak bisa ditebak, termasuk plot twist di akhir film.
Namun, karena Timo menyuguhkan komedi yang bikin terbahak-bahak dan tidak ragu dalam menampilkan potongan tangan, tubuh yang meledak, hingga isi otak yang berceceran, rasanya kekurangan dalam sektor cerita jadi bisa dimaafkan.
Plot cerita yang biasa saja itu untungnya lantas tidak jadi belibet di tengah jalan. Saya tetap bisa memahami alasan sosok Bapak jadi ajang rebutan antara The Big 4 dengan Dina.
Kata-kata 18+ terdengar sepanjang film. Segala isi kebun binatang, kotoran, hingga kata-kata tidak senonoh dengan entengnya mengalir dari mulut para aktor. Tapi, saya menilai ini sebagai sebuah nilai plus karena cocok dengan genre filmnya.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: The Big 4
Review The Big 4: Ceritanya mungkin tak begitu istimewa, tapi Timo Tjahjanto menampilkan aksi yang penuh gelak tawa dan darah ke mana-mana. (Netflix/Akhirwan Nurhaidir)
Yang paling saya nikmati dari The Big 4 adalah akting para pemainnya. Abimana Aryasatya yang berperan sebagai kakak tertua The Big 4 memiliki kharisma yang mesti dimiliki oleh seorang abang.
Karismanya itu pun tidak hilang ketika ia harus melemparkan dialog-dialog komedi. Bahkan, jujur saja, ada satu dua adegan komedi yang mengingatkan saya ketika Abimana berperan sebagai Dono dari film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss!
Selain itu, saya juga ingin mengapresiasi akting Putri Marino dalam film ini. Ternyata, Putri bisa lucu juga.
Dari film-film Putri yang saya pernah tonton, Putri selalu memiliki karakter yang cukup serius. Misalnya, Posesif, Sultan Agung: Tahta Perjuangan, Cinta, serta Cinta Pertama, Kedua & Ketiga.
Di The Big 4 karakter Putri Marino sebagai Dina juga tetap serius. Namanya juga seorang polisi yang ayahnya dibunuh. Tapi, ketika sudah satu adegan dengan Lutesha atau Kristo Immanuel, Putri ternyata bisa bikin saya tertawa.
Saya mesti memberikan penghargaan kepada Kristo Immanuel sebagai pendatang baru industri perfilman Indonesia. Sebagai seorang aktor baru, aktingnya bisa dikatakan bagus.
Berperan sebagai Pelor, Kristo mesti berbicara dengan aksen Timur. Tapi, ia bisa menyampaikan dialognya dengan konsisten dan meyakinkan sepanjang film.
Melihat kesuksesan The Big 4 yang menempati posisi kedua dari top 10 film global Netflix dan posisi puncak di Indonesia, bolehlah saya berharap Timo Tjahjanto melanjutkan film sekuelnya.
Jadi, The Big 4 cocok ditonton bagi kalian yang ingin mencari tawa dari film ringan meskipun penuh darah dan ledakan.
[Gambas:Photo CNN]