Blue Beetle Dinilai Bisa Bangkitkan Film Superhero Meski Plot Klise
CNN Indonesia
Senin, 21 Agu 2023 20:50 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Banyak kritikus puji Blue Beetle karena soroti budaya Latin dalam filmnya meski plot keseluruhan disebut klise. (Warner Bros. Pictures via IMDb)
Sementara itu, Walsh dari Tribune News Service melihat kesegaran Bluee Beetle melalui skenario klasik yang diadaptasi melalui buku komiknya langsung, yang telah hadir sejak beberapa dekade lalu di DC Comics.
"Sebuah kisah klasik ala zaman dulu yang dikemas baik, sebuah film tunggal yang tidak terikat oleh percampuran dan kemunculan singkat. Sebagai bentuk pemulihan dari DCEU yang bermasalah, ini menyegarkan, meskipun tetap berpegang pada formula lawasnya," kata Walsh.
Komentar senada juga dituangkan Owen Gleiberman dari Variety, yang menyebut film ini spesial dengan segala ketidakniatan mereka untuk mengungkap "asal-usul pahlawan super yang penuh semangat, konyol, dan dipenuhi dengan perangkat canggih."
"Itu sudah cukup untuk membuat film ini terasa sebagai hembusan semangat dari kisah-kisah lama yang cukup segar," kata Gleiberman.
Meski begitu, beberapa catatan dan kritik juga tetap menerpa Blue Beetle, yang dilihat sebagai upaya tanpa asa dari DCEU. Kyle Smith dari Wall Street Journal melihat film ini tak berbeda dengan Black Adam maupun The Flash.
Maya Phillips dari New York Times bahkan menyoroti efek visual Blue Beetle yang ia sebut murahan, sehingga membuat film ini membosankan.
"Kisah yang biasa-biasa saja ini, ditambah efek visual yang terlihat murahan dan penyutradaraan yang kurang berwarna dari Soto, adalah contoh utama pembuatan film yang membuat penonton seperti terlelap dalam keadaan tanpa kesadaran," kata Phillips dari New York Times.
"Meskipun mungkin memiliki beberapa elemen baru, waralaba ini terasa sudah lelah, dan tidak jauh lebih menjanjikan daripada upaya-upaya terbaru DC seperti Black Adam" dan The Flash. Kumbang ini tidak memiliki banyak daya tarik," tulis Smith di Wall Street Journal.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Peter Travers dari ABC News, yang masih menilai Blue Beetle sebagai kisah superhero yang generik dan medioker, namun tertolong oleh pesan kekeluargaan yang dibutuhkan.
"Sensasi dalam film superhero Latino pertama ini sebagian besar bersifat generik, tetapi hubungan personal antara protagonis Jaime Reyes (Xolo Maridueña) dan kerabat-kerabatnya yang ramai dan tangguh membuat perbedaan besar. Viva la familia!" tulis Travers.
Sementara itu, Brian Lowry dari CNN.com menilai jika efek kesegaran yang diberikan oleh Blue Beetle juga tak jauh berbeda dengan tontonan serupa yang tayang di layanan streaming.
"Blue Beetle cenderung tampil baik dalam momen-momen kecil tertentu, yang hanya memperkuat keterbatasan konsep ini, sebagian karena banyaknya tontonan serupa yang terus didorong oleh layanan streaming," kata Lowry dalam ulasannya di CNN.
Blue Beetle menjadi film pahlawan super pertama dari DCEU yang menggunakan kebudayaan Latin sebagai latar cerita. Film ini digarap Angel Manuel Soto dengan naskah ditulis Gareth Dunnet-Alcocer.
Selain Xolo Mariduena sebagai bintang utama, film ini juga dibintangi oleh Susan Sarandon, Bruna Marquezine, Alberto Reyes, dan George Lopez.
Blue Beetle tayang di bioskop Indonesia sejak 16 Agustus.
(far/chri)
Jakarta, CNN Indonesia --
Blue Beetle merupakan film superhero terbaru DCEU yang mengisahkan karakter berlatar belakang latin melalui Jaime Rayes yang diperankan Xolo Mariduena.
Film superhero DCEU yang pertama tayang di era kepemimpinan James Gunn dan Peter Safran itu mengundang pujian dari penonton, meski kritikan tajam juga banyak ditemukan untuk Blue Beetle.
Blue Beetle mendapat skor cukup baik di laman agregator Rotten Tomatoes. Per Senin (21/8), karya terbaru sutradara Àngel Manuel Soto itu meraih skor tomatometer 76 persen dari 189 ulasan.
Sementara itu, skor audiens untuk Blue Beetle mencapai angka 92 persen dari lebih dari 1.000 rating pengguna.
Sebagian besar kritikus menilai Blue Beetle memberikan sebuah kesegaran bagi kisah superhero yang tengah gersang di industri film layar lebar.
Para kritikus juga memandang budaya Latin dan kisah kehangatan keluarga Meksiko menjadi nilai lebih yang dapat ditawarkan dalam film superhero.
Rob Strauss dari San Francisco Chronicle serta David Fear dari Rolling Stone sama-sama melihat referensi kultural dalam Blue Beetle sebagai upaya yang cukup gemilang.
"Apa yang disajikan oleh sutradara Angel Manuel Soto dan penulis naskah Gareth Dunnet-Alcocer melalui perjalanan Reyes dalam menjadi pahlawan baik bukan hanya sekadar genre, melainkan juga budaya," tulis Fear dalam ulasannya di Rolling Stone.
"Rasa Latin dalam film ini terasa segar, dengan sentuhan pandangan politik yang menyegarkan dan pengambilan pandangan lucu terhadap konvensi-konvensi yang sudah terlalu akrab dalam genre ini," puji Rob Strauss dalam ulasan untuk San Francisco Chronicle.
Hal serupa juga diungkap Clarisse Loughrey dari Independent. Selain apresiasi terhadap pendekatan budaya Meksiko yang gemilang, Loughrey juga menyoroti sisi komedi dan komikal renyah di Blue Beetle yang ramah untuk semua kalangan usia.
"Blue Beetle menyajikan kisah luas dan menggemaskan melalui humor yang sesuai untuk anak-anak. Juga sangat tepat dalam penghormatan budaya Meksiko," tulis Loughrey dalam ulasannya di Independent.
Serupa, Jake Coyle melalui ulasannya di Associated Press juga menilik performa Blue Beetle yang beruntuk berkat sentuhan Hispanik sebagai tulang punggung ceritanya.
"Bahkan film superhero klise yang memiliki harapan rendah seperti ini saja bisa memikat berkat perspektif Hispanik yang hangat dan pemeran pendukung yang baik," tulis Coyle.
"Masih ada harapan besar untuk genre ini -- dengan segala kelebihan dan kekurangannya," sambungnya.
Sementara itu, Johnny Oleksinski dari New York Post hingga Katie Walsh dari Tribune News Service sama-sama melihat Blue Beetle sebagai penyegaran bagi DCEU yang tengah menghadapi masa sulit karena tren superhero fatigue dari penonton.
Oleksinski juga memberikan kredit khusus bagi pemeran utama Maridueña yang dianggap dapat memberikan napas tambahan bagi semesta film DC.
"Blue Beetle tiba pada saat DC sedang berjuang untuk bertahan setelah serangkaian kegagalan, serta membersihkan perusahaan dan memperbarui judul-judul komik terkenalnya untuk meluruskan arah mereka," tulis Oleksinski.
"Dengan semua perubahan tersebut, akan bijaksana untuk tetap mempertahankan Jaime Reyes dan Xolo Maridueña," sambungnya.
Lanjut ke sebelah...
Unsur Budaya Latin di Blue Beetle Dipuji Kritikus
Banyak kritikus puji Blue Beetle karena soroti budaya Latin dalam filmnya meski plot keseluruhan disebut klise. (Warner Bros. Pictures)
Sementara itu, Walsh dari Tribune News Service melihat kesegaran Bluee Beetle melalui skenario klasik yang diadaptasi melalui buku komiknya langsung, yang telah hadir sejak beberapa dekade lalu di DC Comics.
"Sebuah kisah klasik ala zaman dulu yang dikemas baik, sebuah film tunggal yang tidak terikat oleh percampuran dan kemunculan singkat. Sebagai bentuk pemulihan dari DCEU yang bermasalah, ini menyegarkan, meskipun tetap berpegang pada formula lawasnya," kata Walsh.
Komentar senada juga dituangkan Owen Gleiberman dari Variety, yang menyebut film ini spesial dengan segala ketidakniatan mereka untuk mengungkap "asal-usul pahlawan super yang penuh semangat, konyol, dan dipenuhi dengan perangkat canggih."
"Itu sudah cukup untuk membuat film ini terasa sebagai hembusan semangat dari kisah-kisah lama yang cukup segar," kata Gleiberman.
Meski begitu, beberapa catatan dan kritik juga tetap menerpa Blue Beetle, yang dilihat sebagai upaya tanpa asa dari DCEU. Kyle Smith dari Wall Street Journal melihat film ini tak berbeda dengan Black Adam maupun The Flash.
Maya Phillips dari New York Times bahkan menyoroti efek visual Blue Beetle yang ia sebut murahan, sehingga membuat film ini membosankan.
"Kisah yang biasa-biasa saja ini, ditambah efek visual yang terlihat murahan dan penyutradaraan yang kurang berwarna dari Soto, adalah contoh utama pembuatan film yang membuat penonton seperti terlelap dalam keadaan tanpa kesadaran," kata Phillips dari New York Times.
"Meskipun mungkin memiliki beberapa elemen baru, waralaba ini terasa sudah lelah, dan tidak jauh lebih menjanjikan daripada upaya-upaya terbaru DC seperti Black Adam" dan The Flash. Kumbang ini tidak memiliki banyak daya tarik," tulis Smith di Wall Street Journal.
Hal serupa juga dinyatakan oleh Peter Travers dari ABC News, yang masih menilai Blue Beetle sebagai kisah superhero yang generik dan medioker, namun tertolong oleh pesan kekeluargaan yang dibutuhkan.
"Sensasi dalam film superhero Latino pertama ini sebagian besar bersifat generik, tetapi hubungan personal antara protagonis Jaime Reyes (Xolo Maridueña) dan kerabat-kerabatnya yang ramai dan tangguh membuat perbedaan besar. Viva la familia!" tulis Travers.
Sementara itu, Brian Lowry dari CNN.com menilai jika efek kesegaran yang diberikan oleh Blue Beetle juga tak jauh berbeda dengan tontonan serupa yang tayang di layanan streaming.
"Blue Beetle cenderung tampil baik dalam momen-momen kecil tertentu, yang hanya memperkuat keterbatasan konsep ini, sebagian karena banyaknya tontonan serupa yang terus didorong oleh layanan streaming," kata Lowry dalam ulasannya di CNN.
Blue Beetle menjadi film pahlawan super pertama dari DCEU yang menggunakan kebudayaan Latin sebagai latar cerita. Film ini digarap Angel Manuel Soto dengan naskah ditulis Gareth Dunnet-Alcocer.
Selain Xolo Mariduena sebagai bintang utama, film ini juga dibintangi oleh Susan Sarandon, Bruna Marquezine, Alberto Reyes, dan George Lopez.
Blue Beetle tayang di bioskop Indonesia sejak 16 Agustus.