Review film: The Equalizer 3 terasa cuma ajang selebrasi perjalanan Robert McCall yang akhirnya mencapai garis finis. (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube)
3
Hal yang menyelamatkan The Equalizer 3 dari jurang kebosanan adalah penampilan legendaris Denzel Washington.
Villain bernama Vincent Quaranta (Andrea Scarduzio) yang muncul dalam film ini akhirnya cuma setara batu kerikil bagi McCall.
Terlepas penokohan Robert McCall sebagai mantan agen yang begitu superior dan tanpa cela, Vincent juga amat tak berkutik sehingga seperti sekadar penjahat jalanan saja.
Bobot adegan laga dalam adegan ini juga amat minim, bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Kebrutalan McCall dalam film ketiga ini rasanya hanya terlihat pada 15 menit pertama dan 20 menit terakhir cerita.
Dengan porsi yang sedikit itu pun, Fuqua masih saja kewalahan dalam menyuguhkan klimaks cerita yang menawan. Adegan laga pada puncak cerita itu hanya berlalu begitu saja seolah numpang lewat.
The Equalizer 3 akhirnya hanya seperti menyaksikan Robert McCall menghabiskan masa pensiun di kota kecil Italia, lalu "kebetulan" harus melawan ketidakadilan di sana.
The Equalizer 3 menjadi film ketiga sekaligus penutup trilogi The Equalizer yang dibintangi Denzel Washington. Film ketiga ini juga kembali terinspirasi dari serial televisi berjudul sama yang tayang pada 1985. (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube)
Hasil tersebut jelas belum bisa mendekati kualitas John Wick 4 yang bagi saya menempati kasta tertinggi film laga tahun ini. Namun, The Equalizer 3 masih lebih baik dari film kedua yang mengecewakan banyak orang.
Meski demikian, masih ada segelintir nilai positif dari The Equalizer 3. Latar di kota kecil Italia tentu menghasilkan perubahan visual yang bagus dibanding dua film pertama yang berlatar di Boston.
Film ini menyuguhkan pemandangan elok dari sudut-sudut kota dan jalanan yang dijejali hiruk-pikuk warga lokal. Gereja dengan gaya arsitektur klasik hingga pasar tradisional yang antik juga menambah keindahan lokasi tersebut.
Denzel Washington juga masih hebat dan tetap layak menyandang predikat salah satu aktor terbaik dalam sejarah.
Ia mampu membawa karakter dengan rentang ekspresi yang luas, dari pria tua ramah hobi minum teh, hingga mantan agen keji yang rela melakukan apa pun demi membela keadilan.
Film ketiga ini juga menegaskan prinsip Robert McCall yang begitu mendambakan kedamaian bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Semua poin itu tersampaikan dengan begitu apik oleh Denzel Washington, baik lewat dialog maupun lewat caranya menghabisi musuh.
Menyaksikan The Equalizer 3 juga menjadi cara saya mengapresiasi kehebatan Denzel Washington secara penuh. Sebab, kesempatan melihat sang aktor di layar lebar rasanya semakin langka seiring usia Washington yang semakin menua.
(end)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya sempat berpikirThe Equalizer 3 akan memperkuat dominasi film laga tahun ini mengikuti jejak John Wick 4, Extraction 2, atau Mission: Impossible 7. Namun, perkiraan itu ternyata terlalu berlebihan.
The Equalizer 3 terasa cuma ajang selebrasi perjalanan Robert McCall yang akhirnya mencapai garis finis. Penutup trilogi ini terasa begitu sederhana, bahkan nyaris hambar karena cerita dan suguhan aksinya tidak berkesan.
Saya tidak ragu untuk menekankan bahwa penulisan cerita film ini terasa ala kadarnya. Nyaris sepertiga cerita The Equalizer 3 dihabiskan untuk mengisahkan Robert McCall (Denzel Washington) yang singgah di Altamonte, kota kecil di pesisir selatan Italia.
Babak baru kehidupan McCall itu mengubah arah dan atmosfer film menjadi lebih damai dan tenteram, persis seperti suasana Altamonte. Hal itu tentu berbanding terbalik dengan formula yang biasa digunakan dalam cerita film laga.
Meski begitu, saya sempat enggan berburuk sangka karena bisa saja Antoine Fuqua sudah menyiapkan suguhan laga yang memukau di akhir cerita. Lagi-lagi saya terkecoh, ternyata film ini juga kesulitan dalam melakukan transisi menuju adegan laga.
Review film: The Equalizer 3 terasa cuma ajang selebrasi perjalanan Robert McCall yang akhirnya mencapai garis finis. (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube)
Peralihan antara kehidupan McCall yang damai menuju aksi sang karakter utama terasa tiba-tiba. Saya juga tak merasakan permainan emosi karena Fuqua tampak cuek dalam urusan tempo cerita.
Intensitas cerita yang kacau itu terlihat dari cara penulis menjahit bagian peristiwa. Sebut saja keberadaan plot sampingan soal Emma Collins (Dakota Fanning) dan CIA yang berusaha menghentikan jaringan terorisme di Altamonte.
Plot sampingan itu terasa kasar karena tidak bertaut dengan apik bersama cerita McCall. Bahkan, bagian cerita itu justru seperti merusak intensitas dan tempo yang dibangun menuju klimaks.
Eksekusi itu pun patut disayangkan mengingat film ini menjadi ajang reuni Denzel Washington dengan Dakota Fanning setelah Man on Fire (2004). Untungnya, Denzel dan Dakota masih menyuguhkan chemistry yang hangat ketika muncul dalam satu frame.
Permasalahan tidak berhenti di situ. Villain dalam film ini juga terasa hambar dan gagal dieksekusi sebagai musuh yang layak untuk pensiunan agen intelijen sekaliber Rob McCall.
Biaya produksi film ini hanya berkisar di angka menengah, sekitar US$70 juta, memang jadi catatan yang digarisbawahi. The Equalizer 3 mungkin juga tidak bisa menggaet aktor kelas A untuk menandingi Washington.
Akan tetapi, bukan berarti film ini tidak bisa memiliki villain dengan penulisan karakter yang mumpuni. Penulis dan sutradara harusnya mampu menggarap villain sebagai sosok yang menghadirkan tantangan baru bagi McCall.
Review film: The Equalizer 3 terasa cuma ajang selebrasi perjalanan Robert McCall yang akhirnya mencapai garis finis. (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube)
Villain bernama Vincent Quaranta (Andrea Scarduzio) yang muncul dalam film ini akhirnya cuma setara batu kerikil bagi McCall.
Terlepas penokohan Robert McCall sebagai mantan agen yang begitu superior dan tanpa cela, Vincent juga amat tak berkutik sehingga seperti sekadar penjahat jalanan saja.
Bobot adegan laga dalam adegan ini juga amat minim, bahkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan dua film sebelumnya. Kebrutalan McCall dalam film ketiga ini rasanya hanya terlihat pada 15 menit pertama dan 20 menit terakhir cerita.
Dengan porsi yang sedikit itu pun, Fuqua masih saja kewalahan dalam menyuguhkan klimaks cerita yang menawan. Adegan laga pada puncak cerita itu hanya berlalu begitu saja seolah numpang lewat.
The Equalizer 3 akhirnya hanya seperti menyaksikan Robert McCall menghabiskan masa pensiun di kota kecil Italia, lalu "kebetulan" harus melawan ketidakadilan di sana.
The Equalizer 3 menjadi film ketiga sekaligus penutup trilogi The Equalizer yang dibintangi Denzel Washington. Film ketiga ini juga kembali terinspirasi dari serial televisi berjudul sama yang tayang pada 1985. (dok. Sony Pictures Releasing via YouTube)
Hasil tersebut jelas belum bisa mendekati kualitas John Wick 4 yang bagi saya menempati kasta tertinggi film laga tahun ini. Namun, The Equalizer 3 masih lebih baik dari film kedua yang mengecewakan banyak orang.
Meski demikian, masih ada segelintir nilai positif dari The Equalizer 3. Latar di kota kecil Italia tentu menghasilkan perubahan visual yang bagus dibanding dua film pertama yang berlatar di Boston.
Film ini menyuguhkan pemandangan elok dari sudut-sudut kota dan jalanan yang dijejali hiruk-pikuk warga lokal. Gereja dengan gaya arsitektur klasik hingga pasar tradisional yang antik juga menambah keindahan lokasi tersebut.
Denzel Washington juga masih hebat dan tetap layak menyandang predikat salah satu aktor terbaik dalam sejarah.
Ia mampu membawa karakter dengan rentang ekspresi yang luas, dari pria tua ramah hobi minum teh, hingga mantan agen keji yang rela melakukan apa pun demi membela keadilan.
Film ketiga ini juga menegaskan prinsip Robert McCall yang begitu mendambakan kedamaian bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.
Semua poin itu tersampaikan dengan begitu apik oleh Denzel Washington, baik lewat dialog maupun lewat caranya menghabisi musuh.
Menyaksikan The Equalizer 3 juga menjadi cara saya mengapresiasi kehebatan Denzel Washington secara penuh. Sebab, kesempatan melihat sang aktor di layar lebar rasanya semakin langka seiring usia Washington yang semakin menua.