Review Wish: di antara goresan visual dan audio yang menawan, film ini berfondasi cerita lemah dan hanya terkesan perayaan 100 tahun studio anak-anak. (dok. Disney)
3
Review Wish: di antara goresan visual dan audio yang menawan, film ini berfondasi cerita lemah dan hanya terkesan perayaan 100 tahun studio anak-anak.
Cara film ini membangun konflik juga terasa begitu tergesa-gesa. Lihat saja ketika Asha mengungkapkan angannya kepada bintang, lalu dijawab dengan turunnya bintang bernama Star, kemudian langsung mengubah Magnifico menjadi orang jahat.
Eskalasi itu terasa begitu tiba-tiba, padahal memiliki peluang untuk semakin mencampur aduk perasaan penonton. Kondisi semacam itu pun terjadi dalam beberapa bagian cerita lainnya, terutama pada adegan yang seharusnya dapat terasa lebih emosional.
Wish juga penuh dengan referensi dari film ikonis ciptaan studio besar tersebut selama seabad terakhir. Referensi itu muncul dalam wujud easter egg yang jumlahnya amat banyak dan tersebar sepanjang cerita.
Berbagai referensi itu membuat saya antusias memburu easter egg yang muncul dalam adegan, dialog, atau desain visual. Namun, keseruan itu ternyata cukup membuat saya terdistraksi dari cerita utama.
Saya rasa kecenderungan semacam ini bisa saja dialami orang lain. Apalagi ketika cerita yang disuguhkan punya banyak kelemahan dan tidak membuat betah penonton.
Easter egg yang bergelimang itu pun menjadikan Wish lebih terasa seperti film penghormatan atas perjalanan 100 tahun studio anak-anak itu, daripada film animasi yang berdiri sendiri.
Jika diibaratkan dalam dunia musik, film ini mungkin seperti lagu spesial yang liriknya diambil dari lagu-lagu ikonis sang musisi dalam album terdahulu.
Namun, segala kritik itu rasanya tak terlalu berarti saat menyadari bahwa Wish sejak awal ditujukan untuk anak-anak. Narasi dan pesan yang dibawa dalam film ini memang murni, pas dengan target penontonnya.
Saya juga merasa familier dengan sentuhan-sentuhan cerita, musik, hingga visual yang disuguhkan. Mungkin karena film ini mampu menghidupkan lagi memori masa kecil semasa banyak menyaksikan film anak.
Kenyamanan ini rasanya cukup untuk membuat Wish pantas ditonton anak-anak, atau bagi orang dewasa yang ingin bernostalgia sambil berburu easter egg Snow White, Cinderella, Peter Pan, dan kawan-kawannya.
(end)
Jakarta, CNN Indonesia --
Wish memang kental dengan nuansa perayaan satu abad Walt Disney Studios. Namun, penghormatan itu rasanya tak bisa membuat film ini menjadi masterpiece terbaru studio raksasa Hollywood tersebut.
Saya tidak sepenuhnya sepakat jika film ini dicap buruk atau murahan. Harus diakui, Wish tetap memiliki sejumlah keunggulan, terutama dalam aspek audio dan visual.
Scoring musik dan lagu-lagu sepanjang cerita menjadi salah satu nilai plus. Unsur musikal yang telah melekat dalam setiap karya studio di Mickey Mouse itu memainkan perannya dengan pas.
Ia membantu membangun suasana dalam cerita, hingga menggambarkan motif dan ambisi para karakter yang terlibat. Vokal Ariana DeBose dan performa Chris Pine juga kian menunjang manisnya elemen musikal Wish.
Mungkin terlalu dini untuk mengatakan bahwa soundtrack Wish ikonis, apalagi bersanding dengan lagu-lagu legendaris keluaran studio itu seperti Let It Go hingga A Whole New World.
Namun, tak bisa dipungkiri ada beberapa lagu yang catchy dan punya prospek untuk dikenang, seperti This Wish hingga This Is The Thanks I Get!?
Eksekusi visual dalam film ini juga cukup menarik. Wish menggabungkan gaya tradisional lewat animasi cat air (watercolor animation) dengan animasi komputer.
Pendekatan yang berusaha menggabungkan dua gaya animasi dari dua masa berbeda itu tak mengecewakan. Wish dapat menyajikan animasi dengan gaya yang jarang ditemukan, tetapi tetap visually pleasing.
Terlebih, desain produksi film ini menurut saya juga pantas dipuji, mulai dari lanskap Kerajaan Rosas yang megah bak negeri dongeng hingga kostum Raja Magnifico yang mewah dan penuh detail apik.
Nilai plus dalam aspek audio dan visual itu sayangnya tak diimbangi dengan cerita yang kuat. Ide cerita solid tentang asa merajut mimpi dan harapan justru kehilangan arah ketika dirangkai dalam naskah.
Narasi cerita yang lemah itu pun berimbas ke berbagai hal, seperti motif Magnifico sebagai raja maupun villain yang tidak jelas. Hal itu membuat saya sulit meresapi emosi dan latar belakang dari setiap langkah Magnifico.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Wish
Review Wish: di antara goresan visual dan audio yang menawan, film ini berfondasi cerita lemah dan hanya terkesan perayaan 100 tahun studio anak-anak. (dok. Disney)
Cara film ini membangun konflik juga terasa begitu tergesa-gesa. Lihat saja ketika Asha mengungkapkan angannya kepada bintang, lalu dijawab dengan turunnya bintang bernama Star, kemudian langsung mengubah Magnifico menjadi orang jahat.
Eskalasi itu terasa begitu tiba-tiba, padahal memiliki peluang untuk semakin mencampur aduk perasaan penonton. Kondisi semacam itu pun terjadi dalam beberapa bagian cerita lainnya, terutama pada adegan yang seharusnya dapat terasa lebih emosional.
Wish juga penuh dengan referensi dari film ikonis ciptaan studio besar tersebut selama seabad terakhir. Referensi itu muncul dalam wujud easter egg yang jumlahnya amat banyak dan tersebar sepanjang cerita.
Berbagai referensi itu membuat saya antusias memburu easter egg yang muncul dalam adegan, dialog, atau desain visual. Namun, keseruan itu ternyata cukup membuat saya terdistraksi dari cerita utama.
Saya rasa kecenderungan semacam ini bisa saja dialami orang lain. Apalagi ketika cerita yang disuguhkan punya banyak kelemahan dan tidak membuat betah penonton.
Easter egg yang bergelimang itu pun menjadikan Wish lebih terasa seperti film penghormatan atas perjalanan 100 tahun studio anak-anak itu, daripada film animasi yang berdiri sendiri.
Jika diibaratkan dalam dunia musik, film ini mungkin seperti lagu spesial yang liriknya diambil dari lagu-lagu ikonis sang musisi dalam album terdahulu.
Namun, segala kritik itu rasanya tak terlalu berarti saat menyadari bahwa Wish sejak awal ditujukan untuk anak-anak. Narasi dan pesan yang dibawa dalam film ini memang murni, pas dengan target penontonnya.
Saya juga merasa familier dengan sentuhan-sentuhan cerita, musik, hingga visual yang disuguhkan. Mungkin karena film ini mampu menghidupkan lagi memori masa kecil semasa banyak menyaksikan film anak.
Kenyamanan ini rasanya cukup untuk membuat Wish pantas ditonton anak-anak, atau bagi orang dewasa yang ingin bernostalgia sambil berburu easter egg Snow White, Cinderella, Peter Pan, dan kawan-kawannya.