Jakarta, CNN Indonesia -- Dominasi sinetron di pertelevisian Indonesia merupakan buah dari perjalanan panjang. Tontonan berformat serial itu sudah puluhan tahun menghiasi layar kaca, melewati beragam lika-liku yang tak jarang mengundang atensi.
Istilah sinetron, konon, dipopulerkan penulis Arswendo Atmowiloto dan akademisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Soemardjono. Sinetron berasal dari akronim sinema dan elektronik.
Arswendo dan Soemardjono memakai istilah itu untuk menjelaskan film yang diproduksi secara elektronis di atas pita magnetik. Belakangan, istilah sinetron berkembang untuk menyebut sebuah serial yang rilis di televisi dengan berbagai genre dan konsep.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sinetron mulai muncul di layar kaca sekitar 1990-an, saat industri film layar lebar mati suri karena hanya bisa merilis film dengan hitungan jari setiap tahun.
Catatan sejarah itu dibenarkan oleh Akademisi Institut Kesenian Jakarta Danu Murti. Dosen Televisi dan Film IKJ itu mengatakan industri sinetron tumbuh seiring nyaris absennya film sebagai sumber hiburan era 1990-an.
Sinetron semakin menggeliat ketika televisi swasta bermunculan, sehingga ruang untuk menyiarkan berbagai jenis konten semakin terbuka lebar.
[Gambas:Video CNN]
"Sinetron yang tayang di televisi berkembang di Indonesia dari awal 1990-an seiring mati surinya perfilman Indonesia," ujar Danu kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.
"Sinetron semakin mempunyai tempat karena kehadiran stasiun televisi swasta baru yang mulai mengudara," lanjutnya.
Namun, menurut arsip TVRI, dikutip dari buku Radio, Televisi, dan Film dalam Era 50 Tahun Indonesia (1995), tayangan berformat sinetron pertama di Indonesia justru sudah ada sejak 1962.
Sinetron yang tercatat di arsip itu berjudul Sebuah Jendela dan disiarkan dengan format bernama TV Play. Setahun berikutnya, TVRI kembali meluncurkan tontonan dengan format serupa berjudul Gerhana.
Tiga dekade berselang, Raam Punjabi muncul mengenalkan sinetron lewat rumah produksinya, PT. Tripar Multivision Plus alias MVP. Pada 1992, ia menawarkan serial yang disiarkan di televisi secara episodik bernama sinetron.
Gara-Gara menjadi sinetron yang pertama kali dirilis MVP. Tayangan berformat komedi situasi itu dibintangi Lydia Kandou, Jimmy Gideon, dan Habil Gideon.
 Lydia Kandou dalam sinetron Gara-Gara (1992). (Multivision Plus via Facebook) |
"Pertama itu adalah Gara-Gara... setelah itu baru PH lain mengetahui animo untuk hiburan melalui sinetron itu sangat dibutuhkan," ujar Raam Punjabi kepada CNNIndonesia.com.
"Jadi berjamur lah perusahaan-perusahaan lain dan juga TV-TV swasta yang muncul pada saat itu. Sekarang bukan sinetron lagi, jadi mega sinetron," lanjutnya.
Perjalanan Raam Punjabi merintis sinetron di Indonesia juga tidak instan. Ia mengaku tak punya sumber daya manusia yang cukup untuk membangun ekosistem produksi sinetron.
Sebab, skema produksi sinetron amat berbeda dengan film layar lebar. Perbedaan mencolok itu terlihat dari gaya penulisan skenario, desain produksi, hingga teknis pengadeganan dan pengambilan gambar.
Raam akhirnya mengimpor kru dari luar negeri dengan keahlian seputar produksi sinetron. Mereka direkrut untuk memproduksi beberapa judul sinetron, sekaligus membagikan ilmu tentang produksi sinetron ke tenaga kreatif kancah lokal.
"Saat itu saya masih ingat, kami belum punya penulis skenario yang mengerti cara menulis secara stripping," ujar Raam.
"Kami enggak punya kamera juga, di industri tidak memiliki kamera, tidak punya kamerawan yang andal, sutradara juga tidak," lanjut Raam. "Semua saya impor tenaga-tenaga itu untuk transfer of technology."
Lanjut ke sebelah...
Ragam dan Perubahan Kiblat Sinetron Indonesia
Sinetron Indonesia alami begitu banyak perubahan, terutama jumlah episode dan sistem syuting, yang membuatnya bertahan hingga kini. (CNN Indonesia/ Muhammad Feraldi)
Butuh waktu hingga lima tahun bagi Raam untuk bisa memproduksi sinetron secara mapan. Kru dari luar negeri itu lantas 'dibajak' rumah produksi lain untuk mengerjakan sinetron, sehingga judul demi judul kian menjamur.
Geliat era 1990-an itu juga melahirkan warna khas dalam lanskap sinetron Indonesia. Salah satunya pola mengadaptasi serial India oleh banyak produksi sinetron, seperti penggambaran adegan secara dramatis.
Danu turut mengamini kecenderungan itu. Ia menilai India punya pengaruh besar dalam perkembangan sinetron Indonesia, terutama sebagai referensi secara ide maupun teknik produksi.
"Kiblatnya banyak menggunakan serial yang tayang di India untuk diadopsi oleh sinetron Indonesia," ujar Danu.
"Penggunaan zoom in dengan menambahkan suara efek menjadi hal yang paling sering terlihat dalam sinetron untuk mendramatisasi sebuah adegan maupun karakter yang hadir," lanjutnya.
Arus informasi yang semakin terbuka dan deras membantu industri sinetron terus berkembang. Rumah produksi mulai coba-coba menawarkan formula berbeda saat produksi judul baru.
[Gambas:Video CNN]
Dalam konteks kreatif, industri kian luwes kala salah satu saluran TV menyiarkan drama Taiwan ikonis, Meteor Garden, pada awal 2000-an.
Drama Korea yang ikut mendunia turut berdampak bagi industri sinetron. Ada berbagai judul yang diketahui mengadaptasi drama Korea, bahkan tak sedikit yang menuai tudingan plagiarisme.
Sebab, beberapa sinetron memiliki premis dan plot yang mirip dengan drama Korea hit, seperti Glass Sleepers, Princess Hours, My Love from the Star, hingga Boys Over Flowers.
Drama Kau yang Berasal dari Bintang menjadi salah satu yang sempat diperdebatkan karena serupa dengan drama hit Korea dibintangi Jun Ji-hyun dan Kim Soo-hyun.
 Sinetron Kau yang Berasal dari Bintang. (Sinemart) |
Drama itu sempat dihentikan karena isu hak cipta dan kembali tayang setelah menyelesaikan pembelian hak cipta dan hak publikasi.
Format produksi sinetron juga berkembang dari waktu ke waktu. Semula, judul-judul sinetron disiarkan dengan format musiman dengan penayangan satu episode per pekan dan penayangan ulang satu hari setelahnya.
Namun, seiring tingginya permintaan penonton, format itu mulai berubah menjadi stripping alias kejar tayang. Maraknya kejar tayang dalam sinetron tak bisa lepas dari aspek bisnis.
Raam Punjabi juga pernah menyinggung itu saat audiensi DPR dengan masyarakat perfilman pada 2002. Menurutnya, perkembangan sinetron dari berbagai aspek turut disebabkan permintaan stasiun TV.
Stasiun TV kemudian mempertimbangkan aspek bisnis, termasuk urusan pengiklan yang amat bergantung dengan rating.
"Produser menciptakan produk sesuai permintaan stasiun TV. Stasiun TV juga mempertimbangkan aspek bisnis, termasuk pengiklan," ujar Raam Punjabi, dikutip dari Tesis berjudul Watching Indonesian Sinetron: Imagining Communities around the Television karya Rachmah Ida.
"Produksi [sinetron] akan dilanjutkan jika mendapat rating bagus," lanjutnya.
Industri sinetron pun masih terus berkembang hingga sekarang. Di tengah arus deras konten OTT, sinetron berusaha untuk tetap eksis agar dapat diterima masyarakat.
Sinetron era sekarang juga masih bergelut dengan berbagai persoalan, seperti sistem produksi yang memberatkan kru hingga mutu cerita yang kerap dipertanyakan.