Unsur dan Adegan Film Berpotensi Tak Lolos Sensor di Malaysia
CNN Indonesia
Sabtu, 13 Jan 2024 19:40 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Berikut unsur-unsur dan adegan dalam film yang berpotensi tak lolos penyaringan lembaga sensor di Malaysia. (dok. Dee Company/Umbara Brothers Film via YouTube)
Jakarta, CNN Indonesia --
Siksa Neraka ramai disorot setelah dilarang tayang di bioskop Malaysia hingga Brunei Darussalam. Kabar pelarangan itu diumumkan Antenna Entertainments, distributor film Indonesia di Malaysia.
Akun media sosial distributor itu mengunggah poster film Siksa Neraka dengan tulisan "banned" di tengah.
"Bagi kalian yang menantikan ini - Siksa Neraka dilarang tayang di Malaysia dan Brunei," tulis Antenna Entertainments.
Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut terkait adegan atau alasan larangan tayang untuk Siksa Neraka.
Namun, larangan semacam itu bukan yang pertama terjadi di Malaysia. Larangan itu disebabkan oleh aturan sensor ketat dari lembaga sensor Malaysia alias Lembaga Penapis Filem Malaysia.
Beberapa film sesunggguhnya sempat dilarang tayang, seperti The Raid 2: Berandal, seri film The Purge karena adegan kekerasan, tapi film-film itu pada akhirnya berhasil lolos sensor dan rilis lewat dari jadwal awal.
Namun, Rumah Dara pada 2010 juga dilarang tayang di Malaysia karena adegan kekerasan, gore, dan kanibalisme di dalamnya. Belum ada informasi pula Siksa Neraka nantinya bisa tayang secara digital atau tidak di sana.
Aturan sensor tersebut tertuang dalam pedoman penyensoran film atau Garis Panduan Penapisan Filem yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Pedoman tersebut juga mengacu kepada undang-undang Akta Penapisan Filem 2002 (Akta 620) yang berlaku di Malaysia.
Pedoman itu berisi aturan dan larangan soal muatan film yang muncul dalam cerita, visual, adegan, dialog, hingga tema.
Berikut empat unsur film yang kerap jadi pertimbangan Lembaga Penapis Filem Malaysia dalam menentukan penyensoran.
Unsur keamanan dan ketertiban masyarakat ikut menjadi pertimbangan penyensoran. Beberapa muatan yang dilarang muncul dalam film di Malaysia, yakni anarkisme, kebencian atas pemerintah, termasuk gambaran ketika kejahatan menang atas hal-hal baik.
Lembaga sensor juga melarang film dengan adegan keuntungan dari aksi kejahatan, penggunaan senjata secara kejam, hingga visual kekerasan dari jarak dekat secara bertubi-tubi.
Adegan penyiksaan manusia atau hewan juga turut masuk daftar larangan. Hal itu kemungkinan menjadi salah satu alasan Siksa Neraka tak lulus sensor karena menunjukkan adegan penyiksaan secara eksplisit.
Keagamaan menjadi nilai yang disorot ketat oleh lembaga sensor Malaysia. Muatan yang berpotensi terkena sensor, seperti kampanye anti-Tuhan, bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam, hingga merendahkan ulama.
Dalam konteks Siksa Neraka, film tersebut menampilkan adegan eksplisit yang berkaitan dengan bunuh diri. Adegan itu pun melanggar salah satu poin larangan, yakni menunjukkan adegan bunuh diri dengan durasi panjang.
Selain itu, aturan sensor di Malaysia juga melarang sebuah film menimbulkan keraguan serta kegelisahan masyarakat.
Lanjut ke sebelah...
3. Sosial budaya
Sejumlah muatan yang berkaitan dengan sosial budaya juga berpotensi ikut kena sensor di Malaysia. Sebut saja muatan negatif terhadap adat Melayu, penindasan terhadap masyarakat, hingga mengagungkan golongan tertentu.
Aturan itu juga menyensor ketat perihal seks, mulai dari adegan seks eksplisit, pakaian terlalu minim, hingga isyarat atau simbol bernuansa erotis dan seksual. Aturan ini juga berkaitan dengan hubungan sesama jenis.
Nilai kedisiplinan turut dipantau lembaga sensor film Malaysia, dengan alasan supaya tidak menimbulkan kontroversi.
Beberapa larangan yang tercantum dalam aspek itu, yakni menampilkan adegan yang mendorong perbuatan jahat, kesenian yang kurang sopan, hingga dialog atau adegan yang penuh perbuatan tercela.
Adegan dan dialog dalam film di Malaysia juga dilarang menampilkan bahasa kasar, terutama bernada kebencian. Lembaga sensor pun turut melarang laki-laki berperilaku seperti wanita, begitu pula sebaliknya.
Menyusul larangan tayang di Malaysia, produser Siksa Neraka Dheeraj Kalwani buka suara dan menyatakan menghargai keputusan itu. Ia menilai masing-masing negara punya aturan dan kedaulatan yang harus dipatuhi.
"Kami menghargai keputusan dari lembaga sensor Malaysia. Setiap negara memiliki kedaulatan dan peraturan yang harus dipatuhi," ujar Dheeraj Kalwani melalui unggahan Instagram @deecompany_official, Kamis (11/1).
Dalam unggahan itu, ia juga sama sekali tak menyinggung mengenai kemungkinan Siksa Neraka dilarang tayang di Malaysia dan juga Brunei Darussalam.
Ia hanya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi antusiasme penggemar dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Mereka yang menantikan penayangan film horor itu harus membatalkan niatan nonton di layar lebar akibat pelarangan.
Di Indonesia, Siksa Neraka menjadi salah satu film terlaris pada 2023. Pada penayangan hari ke-25, film itu telah mengumpulkan sedikitnya 2.354.700 penonton sejak tayang pada 14 Desember 2023.
Siksa Neraka ramai disorot setelah dilarang tayang di bioskop Malaysia hingga Brunei Darussalam. Kabar pelarangan itu diumumkan Antenna Entertainments, distributor film Indonesia di Malaysia.
Akun media sosial distributor itu mengunggah poster film Siksa Neraka dengan tulisan "banned" di tengah.
"Bagi kalian yang menantikan ini - Siksa Neraka dilarang tayang di Malaysia dan Brunei," tulis Antenna Entertainments.
Hingga saat ini, belum ada keterangan lebih lanjut terkait adegan atau alasan larangan tayang untuk Siksa Neraka.
Namun, larangan semacam itu bukan yang pertama terjadi di Malaysia. Larangan itu disebabkan oleh aturan sensor ketat dari lembaga sensor Malaysia alias Lembaga Penapis Filem Malaysia.
Beberapa film sesunggguhnya sempat dilarang tayang, seperti The Raid 2: Berandal, seri film The Purge karena adegan kekerasan, tapi film-film itu pada akhirnya berhasil lolos sensor dan rilis lewat dari jadwal awal.
Namun, Rumah Dara pada 2010 juga dilarang tayang di Malaysia karena adegan kekerasan, gore, dan kanibalisme di dalamnya. Belum ada informasi pula Siksa Neraka nantinya bisa tayang secara digital atau tidak di sana.
Aturan sensor tersebut tertuang dalam pedoman penyensoran film atau Garis Panduan Penapisan Filem yang diterbitkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Pedoman tersebut juga mengacu kepada undang-undang Akta Penapisan Filem 2002 (Akta 620) yang berlaku di Malaysia.
Pedoman itu berisi aturan dan larangan soal muatan film yang muncul dalam cerita, visual, adegan, dialog, hingga tema.
Berikut empat unsur film yang kerap jadi pertimbangan Lembaga Penapis Filem Malaysia dalam menentukan penyensoran.
Unsur keamanan dan ketertiban masyarakat ikut menjadi pertimbangan penyensoran. Beberapa muatan yang dilarang muncul dalam film di Malaysia, yakni anarkisme, kebencian atas pemerintah, termasuk gambaran ketika kejahatan menang atas hal-hal baik.
Lembaga sensor juga melarang film dengan adegan keuntungan dari aksi kejahatan, penggunaan senjata secara kejam, hingga visual kekerasan dari jarak dekat secara bertubi-tubi.
Adegan penyiksaan manusia atau hewan juga turut masuk daftar larangan. Hal itu kemungkinan menjadi salah satu alasan Siksa Neraka tak lulus sensor karena menunjukkan adegan penyiksaan secara eksplisit.
Keagamaan menjadi nilai yang disorot ketat oleh lembaga sensor Malaysia. Muatan yang berpotensi terkena sensor, seperti kampanye anti-Tuhan, bertentangan dengan ajaran dan hukum Islam, hingga merendahkan ulama.
Dalam konteks Siksa Neraka, film tersebut menampilkan adegan eksplisit yang berkaitan dengan bunuh diri. Adegan itu pun melanggar salah satu poin larangan, yakni menunjukkan adegan bunuh diri dengan durasi panjang.
Selain itu, aturan sensor di Malaysia juga melarang sebuah film menimbulkan keraguan serta kegelisahan masyarakat.
Lanjut ke sebelah...
Unsur-unsur dalam Film Disoroti Lembaga Sensor Malaysia
Berikut unsur-unsur dan adegan dalam film yang berpotensi tak lolos penyaringan lembaga sensor di Malaysia. (dok. Dee Company/Umbara Brothers Film via YouTube)
3. Sosial budaya
Sejumlah muatan yang berkaitan dengan sosial budaya juga berpotensi ikut kena sensor di Malaysia. Sebut saja muatan negatif terhadap adat Melayu, penindasan terhadap masyarakat, hingga mengagungkan golongan tertentu.
Aturan itu juga menyensor ketat perihal seks, mulai dari adegan seks eksplisit, pakaian terlalu minim, hingga isyarat atau simbol bernuansa erotis dan seksual. Aturan ini juga berkaitan dengan hubungan sesama jenis.
Nilai kedisiplinan turut dipantau lembaga sensor film Malaysia, dengan alasan supaya tidak menimbulkan kontroversi.
Beberapa larangan yang tercantum dalam aspek itu, yakni menampilkan adegan yang mendorong perbuatan jahat, kesenian yang kurang sopan, hingga dialog atau adegan yang penuh perbuatan tercela.
Adegan dan dialog dalam film di Malaysia juga dilarang menampilkan bahasa kasar, terutama bernada kebencian. Lembaga sensor pun turut melarang laki-laki berperilaku seperti wanita, begitu pula sebaliknya.
Menyusul larangan tayang di Malaysia, produser Siksa Neraka Dheeraj Kalwani buka suara dan menyatakan menghargai keputusan itu. Ia menilai masing-masing negara punya aturan dan kedaulatan yang harus dipatuhi.
"Kami menghargai keputusan dari lembaga sensor Malaysia. Setiap negara memiliki kedaulatan dan peraturan yang harus dipatuhi," ujar Dheeraj Kalwani melalui unggahan Instagram @deecompany_official, Kamis (11/1).
Dalam unggahan itu, ia juga sama sekali tak menyinggung mengenai kemungkinan Siksa Neraka dilarang tayang di Malaysia dan juga Brunei Darussalam.
Ia hanya meminta maaf karena tidak bisa memenuhi antusiasme penggemar dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Mereka yang menantikan penayangan film horor itu harus membatalkan niatan nonton di layar lebar akibat pelarangan.
Di Indonesia, Siksa Neraka menjadi salah satu film terlaris pada 2023. Pada penayangan hari ke-25, film itu telah mengumpulkan sedikitnya 2.354.700 penonton sejak tayang pada 14 Desember 2023.