Review Heretic: Pesona baru Hugh Grant sebarkan teror lewat senyum yang tenang dan perdebatan soal keyakinan. (A24 via IMDb)
Christie Stefanie
4
Review Heretic: Pesona baru Hugh Grant sebarkan teror lewat senyum yang tenang dan perdebatan soal keyakinan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Heretic merupakan film psychological horror yang mengambil setting sangat sederhana dengan sedikit karakter, tapi berisikan pesan begitu luas hingga membuat otak sibuk berpikir hingga akhir.
Film yang diberi label sebagai horor religi ini mengikuti dua misionaris Mormon, Sister Barnes (Sophie Thatcher) dan Sister Paxton (Chloe East) menjalani misi, termasuk menemui Tuan Reed (Hugh Grant) yang "ingin tahu" soal agama mereka.
Namun, Heretic pada penceritaannya tidak terikat apalagi menyasar satu agama atau keyakinan tertentu.
Dimulai dari pertemuan canggung di depan pintu, dialog ketiga karakter itu berkembang menjadi percakapan yang berpotensi buat penonton ikut merasa tidak nyaman.
Saat melihat trailer, saya sempat mengira unsur horor Heretic hadir dari kegamangan Sister Barnes dan Sister Paxton dalam menentukan pilihan supaya bisa selamat dari teror Tuan Reed.
Hal tersebut memang memiliki bagiannya sendiri dalam film, namun percakapan ketiga karakter di ruang tamu yang penuh pertanyaan dan perdebatan teologis itu menjadi fondasi psychological thriller Heretic.
Dialog tiga karakter tersebut memang memiliki screen time cukup signifikan sejak awal film.
Alih-alih bosan, percakapan mereka mengalir natural dan dengan mudah seperti mengajak penonton ikut kritis terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tuan Reed kepada misionaris muda itu.
Isu yang bagi banyak orang dinilai sensitif itu masuk dengan mudah berkat analogi-analogi sederhana yang digunakan Scott Beck dan Bryan Wood (A Quiet Place) selaku penulis naskah.
Foto: (A24 via IMDb) Review Heretic: Hugh Grant dengan sangat menawan tampil bak psikopat yang menjadikan dua misionaris muda sebagai mangsa dalam rumahnya. (A24 via IMDb)
Hal tersebut juga didukung penampilan luar biasa Hugh Grant. Heretic benar-benar membawa penonton melihat sisi lain aktor yang selama lebih dari tiga dekade itu lebih banyak membintangi proyek romantis komedi.
Kompleksitas karakter Tuan Reed dengan mudah menyingkirkan gambaran Hugh Grant dengan romantismenya saat memerankan Charles (Four Weddings and a Funeral), William (Notting Hill), dan juga Daniel Cleaver (Bridget Jones).
Hugh Grant berhasil menghidupkan Tuan Reed sebagai pria yang menawan, terpelajar, terobsesi dengan agama dan penuh gagasan untuk membuktikan kepada dua jemaat Mormon bahwa agama mereka, bahkan semua, adalah lelucon.
Aktor yang sejak 1980-an aktif di romcom itu dengan piawai menjadikan karakternya bak psikopat dengan senandika yang provokatif, hingga membuat penonton ikut tegang, dan tetap menghibur untuk ditonton.
Lanjut ke sebelah...
Begitu pula dengan Sophie Tatcher dan Chloe East yang tampil amat baik sebagai dua perempuan muda yang naif namun cerdik, dan berakhir menjadi mangsa Tuan Reed.
Sophie dan Chole juga sesungguhnya melakoni peran mereka dengan amat baik sehingga karakter yang bertolak belakang, ada yang berani mengonfrontasi sedangkan yang lain benar-benar seperti textbook, itu bisa saling melengkapi.
Setelah suasana tegang terbangun melalui teror verbal, melalui dua perempuan muda ini pula penonton dibawa masuk ke horor fisik saat mereka mau tidak mau masuk ke ruang bawah tanah Tuan Reed.
Pada bagian itu lah, saya sebagai penonton melihat satu lagi karya sinematografer Chung Chung-hoon (Oldboy, Thirst, The Handmaiden) yang patut diapresiasi tinggi pula.
Bukan hal baru bagi Chung Chung-hoon membangun suasana mencekam dari belakang kamera, terutama dengan set yang begitu terbatas.
Sinematografer yang kerap berkolaborasi dengan Park Chan-wook ini membawa penonton pada perjalanan visual yang melengkapi peristiwa menakutkan bagi dua perempuan itu, terutama saat dalam labirin mental dan physical Tuan Reed.
Review Heretic: Akting Sophie Tatcher dan Chloe East menghadirkan karakter yang saling melengkapi serta sinematografi film ini juga patut dipuji. (A24 via IMDb)
Ia banyak menggunakan tight close-up untuk meningkatkan ketegangan serta suasana klaustrofobia. Hal itu sepertinya selaras dengan keinginan sutradara Scott Beck dan Bryan Wood menampilkan micro expression para karakter di tengah temaram.
Pada akhirnya, Heretic berhasil menampilkan kedua sisi soal keyakinan bagi mereka yang percaya dan tidak tanpa merasa lebih memihak atau menyerang satu pihak daripada yang lain.
Film ini berhasil menyeimbangkan hal tersebut dengan baik, sehingga tidak terasa seperti menyerang sudut pandang atau menggurui mengenai keyakinan penontonnya.
Heretic merupakan film psychological horror yang mengambil setting sangat sederhana dengan sedikit karakter, tapi berisikan pesan begitu luas hingga membuat otak sibuk berpikir hingga akhir.
Film yang diberi label sebagai horor religi ini mengikuti dua misionaris Mormon, Sister Barnes (Sophie Thatcher) dan Sister Paxton (Chloe East) menjalani misi, termasuk menemui Tuan Reed (Hugh Grant) yang "ingin tahu" soal agama mereka.
Namun, Heretic pada penceritaannya tidak terikat apalagi menyasar satu agama atau keyakinan tertentu.
Dimulai dari pertemuan canggung di depan pintu, dialog ketiga karakter itu berkembang menjadi percakapan yang berpotensi buat penonton ikut merasa tidak nyaman.
Saat melihat trailer, saya sempat mengira unsur horor Heretic hadir dari kegamangan Sister Barnes dan Sister Paxton dalam menentukan pilihan supaya bisa selamat dari teror Tuan Reed.
Hal tersebut memang memiliki bagiannya sendiri dalam film, namun percakapan ketiga karakter di ruang tamu yang penuh pertanyaan dan perdebatan teologis itu menjadi fondasi psychological thriller Heretic.
Dialog tiga karakter tersebut memang memiliki screen time cukup signifikan sejak awal film.
Alih-alih bosan, percakapan mereka mengalir natural dan dengan mudah seperti mengajak penonton ikut kritis terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Tuan Reed kepada misionaris muda itu.
Isu yang bagi banyak orang dinilai sensitif itu masuk dengan mudah berkat analogi-analogi sederhana yang digunakan Scott Beck dan Bryan Wood (A Quiet Place) selaku penulis naskah.
Foto: (A24 via IMDb) Review Heretic: Hugh Grant dengan sangat menawan tampil bak psikopat yang menjadikan dua misionaris muda sebagai mangsa dalam rumahnya. (A24 via IMDb)
Hal tersebut juga didukung penampilan luar biasa Hugh Grant. Heretic benar-benar membawa penonton melihat sisi lain aktor yang selama lebih dari tiga dekade itu lebih banyak membintangi proyek romantis komedi.
Kompleksitas karakter Tuan Reed dengan mudah menyingkirkan gambaran Hugh Grant dengan romantismenya saat memerankan Charles (Four Weddings and a Funeral), William (Notting Hill), dan juga Daniel Cleaver (Bridget Jones).
Hugh Grant berhasil menghidupkan Tuan Reed sebagai pria yang menawan, terpelajar, terobsesi dengan agama dan penuh gagasan untuk membuktikan kepada dua jemaat Mormon bahwa agama mereka, bahkan semua, adalah lelucon.
Aktor yang sejak 1980-an aktif di romcom itu dengan piawai menjadikan karakternya bak psikopat dengan senandika yang provokatif, hingga membuat penonton ikut tegang, dan tetap menghibur untuk ditonton.
Lanjut ke sebelah...
Review Film: Heretic
Review Heretic: Sophie Tatcher dan Chloe East tampil amat baik sebaga pemuda naif tapi cerdik yang jadi mangsa Hugh Grant. (A24 via IMDb)
Begitu pula dengan Sophie Tatcher dan Chloe East yang tampil amat baik sebagai dua perempuan muda yang naif namun cerdik, dan berakhir menjadi mangsa Tuan Reed.
Sophie dan Chole juga sesungguhnya melakoni peran mereka dengan amat baik sehingga karakter yang bertolak belakang, ada yang berani mengonfrontasi sedangkan yang lain benar-benar seperti textbook, itu bisa saling melengkapi.
Setelah suasana tegang terbangun melalui teror verbal, melalui dua perempuan muda ini pula penonton dibawa masuk ke horor fisik saat mereka mau tidak mau masuk ke ruang bawah tanah Tuan Reed.
Pada bagian itu lah, saya sebagai penonton melihat satu lagi karya sinematografer Chung Chung-hoon (Oldboy, Thirst, The Handmaiden) yang patut diapresiasi tinggi pula.
Bukan hal baru bagi Chung Chung-hoon membangun suasana mencekam dari belakang kamera, terutama dengan set yang begitu terbatas.
Sinematografer yang kerap berkolaborasi dengan Park Chan-wook ini membawa penonton pada perjalanan visual yang melengkapi peristiwa menakutkan bagi dua perempuan itu, terutama saat dalam labirin mental dan physical Tuan Reed.
Review Heretic: Akting Sophie Tatcher dan Chloe East menghadirkan karakter yang saling melengkapi serta sinematografi film ini juga patut dipuji. (A24 via IMDb)
Ia banyak menggunakan tight close-up untuk meningkatkan ketegangan serta suasana klaustrofobia. Hal itu sepertinya selaras dengan keinginan sutradara Scott Beck dan Bryan Wood menampilkan micro expression para karakter di tengah temaram.
Pada akhirnya, Heretic berhasil menampilkan kedua sisi soal keyakinan bagi mereka yang percaya dan tidak tanpa merasa lebih memihak atau menyerang satu pihak daripada yang lain.
Film ini berhasil menyeimbangkan hal tersebut dengan baik, sehingga tidak terasa seperti menyerang sudut pandang atau menggurui mengenai keyakinan penontonnya.