Fiersa Besari Beber Situasi Detail yang Dialami di Pendakian Carstensz
CNN Indonesia
Senin, 03 Mar 2025 17:15 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Fiersa Besari menjabarkan situasi detail saat dirinya menjadi bagian dari rombongan dua pendaki yang meninggal di Puncak Carstensz (dok. Aditya Ari Prabowo)
Jakarta, CNN Indonesia --
Fiersa Besari menjabarkan situasi detail saat dirinya menjadi bagian dari rombongan dua pendaki yang meninggal di Puncak Carstensz Pyramid di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada akhir pekan kemarin.
Dalam unggahan di Instagram pada Senin (3/3), Fiersa Besari mengawali penjelasannya dengan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono.
"Saya juga ingin meminta maaf karena baru mengabari perihal situasi Carstensz Pyramid (puncak tertinggi Indonesia), karena kami yang berada di basecamp Yellow Valley (YV) pun merasa sangat syok dan berduka atas tragedi yang telah terjadi," kata Fiersa.
"Saat ini, saya dan Furky Syahroni baru tiba kembali ke Timika, Papua Tengah (3 Maret 2025) setelah tertahan di YV terkait cuaca buruk yang berdampak pada lalu lintas helikopter (satu-satunya akses resmi ke YV untuk saat ini adalah helikopter). Kondisi kami alhamdulillah stabil," lanjutnya.
Fiersa menyebut dirinya tak perlu banyak menjelaskan soal kronologi lantaran sudah banyak disiarkan oleh pihak yang lebih kredibel. Namun ia menambahkan bahwa dirinya sebenarnya berbeda tim dengan kedua mendiang.
Musisi itu menyebut tergabung dalam tim yang terdiri dari tiga orang, sementara Lilie dan Elsa tergabung dalamtim berisi empat orang dan berbeda operator.
Ia juga menjabarkan untuk mereka yang awam akan dunia pendakian, Carstensz Pyramid memiliki medan yang berbeda dengan gunung lainnya di Indonesia. Carstensz Pyramid memiliki medan tebing curam dengan ketinggian sekitar 600 meter.
Kondisi tersebut menuntut pendaki lancar menggunakan alat-alat tali untuk naik dan turun sebagai prosedur keamanan. Selain itu, saat sudah berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut, pendaki tak boleh terlalu lama berada di sana karena rentan hipotermia yang mematikan.
Kondisi hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah 35 derajat Celsius bisa mematikan, lantaran jantung dan organ vital lainnya bisa gagal berfungsi. Bila telat ditangani, hipotermia bisa menyebabkan gangguan pernapasan hingga henti jantung dan kematian.
Lanjut ke sebelah...
"Kami ditemani para guide. Selain kami dan tamu-tamu WNA, hari itu (28 Februari 2025) ada juga tamu dari pihak Balai Taman Nasional yang turut mendaki," kata Fiersa.
"Rangkaian tragedi yang menimpa Bu Lilie dan Bu Elsa, juga tiga korban lainnya yang pada saat itu masih terjebak di area tebing, baru saya dan Furky Syahroni ketahui setelah kami tiba di basecamp YV," kata Fiersa.
"Kaget dan sedih, tapi bersama orang-orang di YV, mengontak korban yang terjebak dengan menggunakan HT agar tetap merespons, sampai akhirnya mereka dijemput oleh para relawan, baik lokal maupun internasional, pada tanggal 1 Maret 2025. Alhamdulillah ketiganya selamat, meski sempat kritis," lanjutnya.
Fiersa menyebut dirinya berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam proses evakuasi, terutama selruuh kru dan pendaki di YV. Ia juga mengingatkan netizen untuk menahan diri dalam berkomentar nirempati terkait tragedi ini dan mengalihkan energinya untuk berdoa.
"Serta beri ruang untuk keluarga dan kerabat yang berpulang untuk berduka. Terima kasih banyak atas perhatiannya," tutup Fiersa Besari.
CNNIndonesia.com sudah meminta izin kepada Fiersa Besari untuk mengutip unggahan tersebut.
Dua pendaki yang meninggal dunia dalam pendakian itu, Elsa Laksono dan Lilie Wijayati, mengalami gejala AMS (Acute Mountain Sickness) saat turun dari Puncak Gunung Carstensz Pyramid pada 1 Maret 2025 sekitar pukul 02.07 WIT.
Keduanya kemudian dievakuasi oleh sesama pendaki dan guide pendamping di Teras Dua.
Sementara itu, dua orang pendaki atas nama Indira Alaika dan Saroni terkena gejala Acute Mountain Sickness (AMS) dari Puncak Carstensz Tembagapura.
Mereka mulai terkena gejala AMS pada Jumat (28/2) di area bawah Puncak Cartenz Tembagapura, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika dalam perjalanan turun dari Puncak Carstensz.
Jenazah Elsa sudah dievakuasi dan dibawa ke RSUD Kabupaten Mimika. Sementara itu jenazah Lilie masih berada di area gunung Carstensz Pyramid. Dalam keterangan polisi, pukul 09.40 WIT posisi jenazah masih berada di bawah teras satu Carstensz Pyramid.
Jakarta, CNN Indonesia --
Fiersa Besari menjabarkan situasi detail saat dirinya menjadi bagian dari rombongan dua pendaki yang meninggal di Puncak Carstensz Pyramid di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, pada akhir pekan kemarin.
Dalam unggahan di Instagram pada Senin (3/3), Fiersa Besari mengawali penjelasannya dengan ucapan belasungkawa atas meninggalnya Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono.
"Saya juga ingin meminta maaf karena baru mengabari perihal situasi Carstensz Pyramid (puncak tertinggi Indonesia), karena kami yang berada di basecamp Yellow Valley (YV) pun merasa sangat syok dan berduka atas tragedi yang telah terjadi," kata Fiersa.
"Saat ini, saya dan Furky Syahroni baru tiba kembali ke Timika, Papua Tengah (3 Maret 2025) setelah tertahan di YV terkait cuaca buruk yang berdampak pada lalu lintas helikopter (satu-satunya akses resmi ke YV untuk saat ini adalah helikopter). Kondisi kami alhamdulillah stabil," lanjutnya.
Fiersa menyebut dirinya tak perlu banyak menjelaskan soal kronologi lantaran sudah banyak disiarkan oleh pihak yang lebih kredibel. Namun ia menambahkan bahwa dirinya sebenarnya berbeda tim dengan kedua mendiang.
Musisi itu menyebut tergabung dalam tim yang terdiri dari tiga orang, sementara Lilie dan Elsa tergabung dalamtim berisi empat orang dan berbeda operator.
Ia juga menjabarkan untuk mereka yang awam akan dunia pendakian, Carstensz Pyramid memiliki medan yang berbeda dengan gunung lainnya di Indonesia. Carstensz Pyramid memiliki medan tebing curam dengan ketinggian sekitar 600 meter.
Kondisi tersebut menuntut pendaki lancar menggunakan alat-alat tali untuk naik dan turun sebagai prosedur keamanan. Selain itu, saat sudah berada di ketinggian lebih dari 4.000 meter di atas permukaan laut, pendaki tak boleh terlalu lama berada di sana karena rentan hipotermia yang mematikan.
Kondisi hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun drastis di bawah 35 derajat Celsius bisa mematikan, lantaran jantung dan organ vital lainnya bisa gagal berfungsi. Bila telat ditangani, hipotermia bisa menyebabkan gangguan pernapasan hingga henti jantung dan kematian.
Lanjut ke sebelah...
Berusaha Buat Mereka yang Terjebak Tetap Merespons
Fiersa Besari menjabarkan situasi detail saat dirinya menjadi bagian dari rombongan dua pendaki yang meninggal di Puncak Carstensz. (Lia Elita Robani)
"Kami ditemani para guide. Selain kami dan tamu-tamu WNA, hari itu (28 Februari 2025) ada juga tamu dari pihak Balai Taman Nasional yang turut mendaki," kata Fiersa.
"Rangkaian tragedi yang menimpa Bu Lilie dan Bu Elsa, juga tiga korban lainnya yang pada saat itu masih terjebak di area tebing, baru saya dan Furky Syahroni ketahui setelah kami tiba di basecamp YV," kata Fiersa.
"Kaget dan sedih, tapi bersama orang-orang di YV, mengontak korban yang terjebak dengan menggunakan HT agar tetap merespons, sampai akhirnya mereka dijemput oleh para relawan, baik lokal maupun internasional, pada tanggal 1 Maret 2025. Alhamdulillah ketiganya selamat, meski sempat kritis," lanjutnya.
Fiersa menyebut dirinya berterima kasih kepada seluruh pihak yang membantu dalam proses evakuasi, terutama selruuh kru dan pendaki di YV. Ia juga mengingatkan netizen untuk menahan diri dalam berkomentar nirempati terkait tragedi ini dan mengalihkan energinya untuk berdoa.
"Serta beri ruang untuk keluarga dan kerabat yang berpulang untuk berduka. Terima kasih banyak atas perhatiannya," tutup Fiersa Besari.
CNNIndonesia.com sudah meminta izin kepada Fiersa Besari untuk mengutip unggahan tersebut.
Dua pendaki yang meninggal dunia dalam pendakian itu, Elsa Laksono dan Lilie Wijayati, mengalami gejala AMS (Acute Mountain Sickness) saat turun dari Puncak Gunung Carstensz Pyramid pada 1 Maret 2025 sekitar pukul 02.07 WIT.
Keduanya kemudian dievakuasi oleh sesama pendaki dan guide pendamping di Teras Dua.
Sementara itu, dua orang pendaki atas nama Indira Alaika dan Saroni terkena gejala Acute Mountain Sickness (AMS) dari Puncak Carstensz Tembagapura.
Mereka mulai terkena gejala AMS pada Jumat (28/2) di area bawah Puncak Cartenz Tembagapura, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika dalam perjalanan turun dari Puncak Carstensz.
Jenazah Elsa sudah dievakuasi dan dibawa ke RSUD Kabupaten Mimika. Sementara itu jenazah Lilie masih berada di area gunung Carstensz Pyramid. Dalam keterangan polisi, pukul 09.40 WIT posisi jenazah masih berada di bawah teras satu Carstensz Pyramid.