Kreator Curhat Awal Mula Muncul Ide Merah Putih: One for All
CNN Indonesia
Selasa, 12 Agu 2025 06:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Beberapa animator juga disebut tidak sanggup ambil bagian karena Merah Putih mengangkat format film panjang animasi. Hal serupa juga terjadi ketika mereka berusaha mengajak musisi untuk mengisi scoring.
"Tahun kemarin saya sudah mencari informasi dan ketemu animator dari Yogya, Bandung, Jakarta. Saya utarakan niat dan mereka berkata enggak sanggup," ujarnya.
"Musik juga begitu. Awalnya oke, tapi endingnya ada angka yang diberikan. Jadi, agak repot. Nah, ketika saya ajak kawan-kawan ini, mereka tidak bicara angka," lanjut Endiarto.
Jerih payah Endiarto bersama tim produksi Merah Putih: One for All akan segera terbayar saat film itu tayang di bioskop pada 14 Agustus. Meski begitu, ia mengaku belum mau berhenti memproduksi karya layar lebar.
Ia tidak gentar dengan kritik atau komentar dari netizen belakangan. Bahkan, Endiarto bersama PERFIKI TV sudah berencana membuat film tema kemerdekaan lainnya untuk HUT RI 2026.
Proyek itu belum dijelaskan secara detail, tetapi dipastikan bakal mengusung tema yang sama dalam format live-action.
"Kata tidak berhenti. Tahun depan kami akan membuat lagi, usaha yang sama untuk mengisi 17 Agustus," ujarnya.
"Karena niat kami satu tim ini setiap 17 agustus kami akan berjuang menampilkan Merah Putih: One for All," sambungnya.
"Animasi lagi? Enggak. tahun depan kami enggak mungkin bisa bikin animasi. Waktunya enggak cukup, minimal dua tahun. Kami buat live-action lagi dengan konsep yang sama," lanjut Endiarto.
Terlepas dari kontroversi, film animasi ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025. Trailer film ini sudah dipublikasikan di kanal YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film.
Dalam deskripsi di kanal CGV Kreasi, film ini diklaim sebagai animasi pertama bertema kebangsaan. Film ini menceritakan tentang sekelompok anak-anak yang terpilih menjadi "Tim Merah Putih" untuk menjaga bendera pusaka di sebuah desa yang tenang menjelang Hari Kemerdekaan. Namun, bendera tersebut hilang, memaksa mereka bersatu dalam misi penyelamatan
Merah Putih: One for Alltengah disorot menjelang perilisan di bioskop pada 14 Agustus. Film animasi itu memantik perbincangan hangat netizen yang ramai mengomentari kualitas visual hingga rumor-rumor lain di balik produksi.
Sutradara dan produser eksekutif Endiarto lantas buka suara mengungkapkan proses produksi film tersebut. Merah Putih: One for All berangkat dari keinginan Endiarto dan tim produksi membuat karya untuk merayakan HUT ke-80 RI pada 17 Agustus 2025.
"Jadi memang kami awalnya punya satu panggilan, bagaimana kami bisa ambil bagian untuk bangsa ini khususnya di perayaan 80 tahun," ujarnya dalam acara detikpagi, Senin (11/8).
"Apa yang bisa kami berikan? Karena kami pekerja film Indonesia, jadi kami membuat film. Kebetulan di momen 17 agustus itu kita jarang melihat event khusus untuk anak-anak di dunia film," lanjutnya.
Endiarto bersama rekan-rekannya dari Persatuan Film Keliling Indonesia (PERFIKI) kemudian mulai berdiskusi. Para pekerja film yang bernaung di bawah Yayasan Pusat Perfilman Usmar Ismail itu mengumpulkan gagasan sejak tahun lalu.
Berbagai ide itu mengerucut dengan keinginan membuat karya yang khusus dipersembahkan kepada bangsa Indonesia. Ide film Merah Putih: One for All akhirnya tercetus dengan rencana tayang pada 17 Agustus.
Merah Putih: One for All tengah disorot menjelang perilisan di bioskop pada 14 Agustus. (via YouTube Perfiki TV)
Seiring waktu berjalan, mereka mulai menggarap proyek ini dengan mengajak pekerja film yang punya kesamaan visi. Pengembangan proyek itu berjalan selama setahun sebelum akhirnya trailer tayang beberapa pekan sebelum jadwal tayang.
Media sosial kemudian riuh dengan isu film itu hanya diproduksi dalam waktu kurang dari satu bulan. Namun, Endiarto memastikan rumor itu tidak benar.
Tim produksi dalam beberapa pekan terakhir memang masih berkutat dengan pengerjaan Merah Putih: One for All, tetapi sudah memasuki tahap post-produksi.
"Mulai bulan Juni itu post-produksi. Tapi semua ide dan materi sudah dilakukan setahun sebelumnya," ujar Endiarto.
"Ketika akhir Mei, kami mulai putuskan untuk post-produksi. Post-produksi itu kan tinggal finishing, menjahit, color grading, penyelarasan suara. itu post-produksi, bukan produksi," sambungnya.
Perjalanan produksi itu pun tidak berjalan mudah. Endiarto mengaku sempat mencoba menggaet animator profesional dari studio lain, tetapi tak tercapai karena kendala biaya.
Lanjut ke sebelah...
Curhat Ditolak Animator Lainnya
Para kreator yang berasal dari Persatuan Film Keliling Indonesia (PERFIKI) mengaku sudah menggagas ide Merah Putih: One for All sejak tahun lalu. (via YouTube Perfiki TV)
Beberapa animator juga disebut tidak sanggup ambil bagian karena Merah Putih mengangkat format film panjang animasi. Hal serupa juga terjadi ketika mereka berusaha mengajak musisi untuk mengisi scoring.
"Tahun kemarin saya sudah mencari informasi dan ketemu animator dari Yogya, Bandung, Jakarta. Saya utarakan niat dan mereka berkata enggak sanggup," ujarnya.
"Musik juga begitu. Awalnya oke, tapi endingnya ada angka yang diberikan. Jadi, agak repot. Nah, ketika saya ajak kawan-kawan ini, mereka tidak bicara angka," lanjut Endiarto.
Jerih payah Endiarto bersama tim produksi Merah Putih: One for All akan segera terbayar saat film itu tayang di bioskop pada 14 Agustus. Meski begitu, ia mengaku belum mau berhenti memproduksi karya layar lebar.
Ia tidak gentar dengan kritik atau komentar dari netizen belakangan. Bahkan, Endiarto bersama PERFIKI TV sudah berencana membuat film tema kemerdekaan lainnya untuk HUT RI 2026.
Proyek itu belum dijelaskan secara detail, tetapi dipastikan bakal mengusung tema yang sama dalam format live-action.
"Kata tidak berhenti. Tahun depan kami akan membuat lagi, usaha yang sama untuk mengisi 17 Agustus," ujarnya.
"Karena niat kami satu tim ini setiap 17 agustus kami akan berjuang menampilkan Merah Putih: One for All," sambungnya.
"Animasi lagi? Enggak. tahun depan kami enggak mungkin bisa bikin animasi. Waktunya enggak cukup, minimal dua tahun. Kami buat live-action lagi dengan konsep yang sama," lanjut Endiarto.
Terlepas dari kontroversi, film animasi ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 14 Agustus 2025. Trailer film ini sudah dipublikasikan di kanal YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film.
Dalam deskripsi di kanal CGV Kreasi, film ini diklaim sebagai animasi pertama bertema kebangsaan. Film ini menceritakan tentang sekelompok anak-anak yang terpilih menjadi "Tim Merah Putih" untuk menjaga bendera pusaka di sebuah desa yang tenang menjelang Hari Kemerdekaan. Namun, bendera tersebut hilang, memaksa mereka bersatu dalam misi penyelamatan