Cinta Laura Nilai Demo Bentuk Kekecewaan Rakyat atas Ketidakadilan
CNN Indonesia
Selasa, 02 Sep 2025 14:30 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Jakarta, CNN Indonesia --
Cinta Laura buka suara mengenai rangkaian demo yang dilakukan massa sejak 25 Agustus. Demo yang menyuarakan banyak tuntutan itu masih berlangsung hingga kini di banyak daerah Indonesia.
Ia menilai rangkaian demo itu bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah atas ketidakadilan, terutama saat yang berkuasa terus mendapatkan keuntungan sedangkan rakyat masih menderita.
"Karena tentunya kita melihat ketidakadilan yang luar biasa. Orang yang berkuasa, orang yang memiliki kekuatan, orang yang mungkin memiliki materi lebih terus mendapatkan kelebihan dan kemudahan," kata Cinta Laura.
"Sedangkan banyak banget rakyat kecil yang sengsara, yang tidak dibayar selayaknya, dan tentunya, mereka rasa kecewa," tuturnya di Jakarta seperti diberitakan detikcom, Selasa (2/9).
Situasi tersebut yang kemudian dinilai Cinta Laura menjadi dasar rakyat menyuarakan kekecewaan mereka dengan turun ke jalan dan menyerukan tuntutan kepada anggota dewan perwakilan rakyat.
"Tentunya aku rasa masyarakat, penduduk Indonesia, punya hak untuk menyuarakan frustrasi mereka," ia menegaskan.
Meski unjuk rasa merupakan aksi yang diizinkan dan dijamin Undang-Undang dalam Pasal 28 UUD 1945, Cinta Laura meminta warga tetap waspada karena menilai ada oknum-oknum yang coba menjadi provokator dan pemecah belah.
Ia menekankan aksi yang dilakukan belakangan ini tujuannya adalah menyerukan tuntutan ke atas, kepada para pemimpin, anggota DPR, bukan untuk memicu konflik ke sesama warga.
"Di tengah demo ini ada yang berusaha memecah belah, dan menjadikan sesama warga kambing hitam, memprovokasi dengan isu-isu yang sengaja dimainkan supaya kita saling curiga dan saling benci," tuturnya dalam unggahan di Instagram pada Minggu (31/8).
"Kita harus sadar, lawan kita bukan sesama rakyat melainkan sebuah sistem yang dipenuhi keserakahan dan kebodohan di kursi kekuasaan. Enggak ada satu pun nyawa, seperti almarhum Affan Kurniawan, yang pantas melayang hanya demi menutup aib DPR."
Oleh sebab itu, ia mengimbau semua lapisan masyarakat tidak terpengaruh dengan provokator dan benar-benar bersatu menyuarakan tuntutan.
Para pemimpin, kata Cinta Laura, juga diharapkan membuka telinga dan hati nurani mereka dalam merespons aksi dan seruan masyarakat yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir.
"Kita harus berdiri tegak, bukan saling tuding dan memastikan suara kita sampai ke telinga mereka yang berkuasa," tuturnya.
"Kepada anggota dewan PERWAKILAN rakyat, jajaran pemerintah, Bapak Presiden Republik Indonesia yang terhormat, please show us that you're listening," ucap Cinta.
"Dengarkan lah kita karena darah rakyat bukan harga yang pantas dibayar untuk kebodohan yang berkuasa."
Lanjut ke sebelah...
Cinta Laura secara khusus juga berpesan kepada anggota DPR yang sempat flexing bahkan menari-nari terhadap tunjangan mewah bahwa mereka dipilih dan digaji oleh rakyat.
"Tugas kalian yang dipilih dan digaji bukan menari di atas luka, tapi menjahit luka itu," ucapnya. "Rakyat enggak butuh pejabat yang jago berhitung tunjangan, rakyat butuh pemimpin yang jago menghitung nurani."
CNN Indonesia telah meminta izin kepada Cinta Laura untuk mengutip unggahan tersebut.
Gelombang demonstrasi terjadi di berbagai wilayah Indonesia bermula dari protes kebijakan tunjangan bagi anggota DPR, ditambah dengan sikap dan pernyataan anggota dewan yang dianggap tidak peka terhadap situasi rakyat Indonesia yang terhimpit ekonomi.
Tewasnya Affan Kurniawan kemudian membuat berbagai kelompok sipil menuntut reformasi kepolisian, pembentukan tim investigasi kematian Affan, tidak ada kriminalisasi demonstran, transparansi anggaran untuk anggota dewan, pemeriksaan anggota dewan yang bermasalah, pemecatan kepada kader partai yang tidak etis, dialog publik bersama mahasiswa dan masyarakat sipil.
Selain itu ada juga tuntutan untuk pembebasan demonstran yang ditahan, penghentian tindakan represif oleh kepolisian dan penaatan SOP pengendalian massa, transparansi proses hukum terhadap pelanggaran HAM, hingga menuntut setop campur tangan militer dalam keamanan, dan upah layak untuk butuh serta pencegahan PHK massal.
Namun aksi ini dimanfaatkan sejumlah massa tak dikenal untuk memicu kerusuhan dan perusakan bangunan dan fasilitas publik di berbagai kota.
Presiden Prabowo pada 29 Agustus 2025 memberikan sejumlah pernyataan, mulai dari mengajak masyarakat menyampaikan aspirasi dengan cara damai, pelaku anarkisme dan penjarahan bisa ditindak tegas, meminta polisi dan tentara melindungi masyarakat, transparansi pelanggaran oleh polisi.
Kemudian ada penonaktifan anggota dewan yang membuat pernyataan keliru, pimpinan DPR mencabut tunjangan anggota dan moratorium kunjungan kerja ke luar negeri, pimpinan DPR akan mengundang tokoh masyarakat dan mahasiswa untuk berdialog, serta meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga persatuan.
Tak lama kemudian, sejumlah anggota dewan dinonaktifkan sebagai anggota DPR oleh partai setelah dianggap membuat masyarakat marah dengan pernyataan mereka, yakni Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Partai NasDem, Uya Kuya dan Eko Patrio dari PAN, dan Adies Kadir dari Golkar.
Jakarta, CNN Indonesia --
Cinta Laura buka suara mengenai rangkaian demo yang dilakukan massa sejak 25 Agustus. Demo yang menyuarakan banyak tuntutan itu masih berlangsung hingga kini di banyak daerah Indonesia.
Ia menilai rangkaian demo itu bentuk kekecewaan masyarakat terhadap pemerintah atas ketidakadilan, terutama saat yang berkuasa terus mendapatkan keuntungan sedangkan rakyat masih menderita.
"Karena tentunya kita melihat ketidakadilan yang luar biasa. Orang yang berkuasa, orang yang memiliki kekuatan, orang yang mungkin memiliki materi lebih terus mendapatkan kelebihan dan kemudahan," kata Cinta Laura.
"Sedangkan banyak banget rakyat kecil yang sengsara, yang tidak dibayar selayaknya, dan tentunya, mereka rasa kecewa," tuturnya di Jakarta seperti diberitakan detikcom, Selasa (2/9).
Situasi tersebut yang kemudian dinilai Cinta Laura menjadi dasar rakyat menyuarakan kekecewaan mereka dengan turun ke jalan dan menyerukan tuntutan kepada anggota dewan perwakilan rakyat.
"Tentunya aku rasa masyarakat, penduduk Indonesia, punya hak untuk menyuarakan frustrasi mereka," ia menegaskan.
Meski unjuk rasa merupakan aksi yang diizinkan dan dijamin Undang-Undang dalam Pasal 28 UUD 1945, Cinta Laura meminta warga tetap waspada karena menilai ada oknum-oknum yang coba menjadi provokator dan pemecah belah.
Ia menekankan aksi yang dilakukan belakangan ini tujuannya adalah menyerukan tuntutan ke atas, kepada para pemimpin, anggota DPR, bukan untuk memicu konflik ke sesama warga.
"Di tengah demo ini ada yang berusaha memecah belah, dan menjadikan sesama warga kambing hitam, memprovokasi dengan isu-isu yang sengaja dimainkan supaya kita saling curiga dan saling benci," tuturnya dalam unggahan di Instagram pada Minggu (31/8).
"Kita harus sadar, lawan kita bukan sesama rakyat melainkan sebuah sistem yang dipenuhi keserakahan dan kebodohan di kursi kekuasaan. Enggak ada satu pun nyawa, seperti almarhum Affan Kurniawan, yang pantas melayang hanya demi menutup aib DPR."
Oleh sebab itu, ia mengimbau semua lapisan masyarakat tidak terpengaruh dengan provokator dan benar-benar bersatu menyuarakan tuntutan.
Para pemimpin, kata Cinta Laura, juga diharapkan membuka telinga dan hati nurani mereka dalam merespons aksi dan seruan masyarakat yang telah berlangsung beberapa waktu terakhir.
"Kita harus berdiri tegak, bukan saling tuding dan memastikan suara kita sampai ke telinga mereka yang berkuasa," tuturnya.
"Kepada anggota dewan PERWAKILAN rakyat, jajaran pemerintah, Bapak Presiden Republik Indonesia yang terhormat, please show us that you're listening," ucap Cinta.
"Dengarkan lah kita karena darah rakyat bukan harga yang pantas dibayar untuk kebodohan yang berkuasa."
Lanjut ke sebelah...
Pesan Cinta Laura ke Anggota DPR
Cinta Laura menilai rangkaian demo sejak 25 Agustus adalah bentuk kekecewaan masyarakat atas ketidakadilan pemerintah pada rakyat kecil. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma)
Cinta Laura secara khusus juga berpesan kepada anggota DPR yang sempat flexing bahkan menari-nari terhadap tunjangan mewah bahwa mereka dipilih dan digaji oleh rakyat.
"Tugas kalian yang dipilih dan digaji bukan menari di atas luka, tapi menjahit luka itu," ucapnya. "Rakyat enggak butuh pejabat yang jago berhitung tunjangan, rakyat butuh pemimpin yang jago menghitung nurani."
CNN Indonesia telah meminta izin kepada Cinta Laura untuk mengutip unggahan tersebut.
Gelombang demonstrasi terjadi di berbagai wilayah Indonesia bermula dari protes kebijakan tunjangan bagi anggota DPR, ditambah dengan sikap dan pernyataan anggota dewan yang dianggap tidak peka terhadap situasi rakyat Indonesia yang terhimpit ekonomi.
Tewasnya Affan Kurniawan kemudian membuat berbagai kelompok sipil menuntut reformasi kepolisian, pembentukan tim investigasi kematian Affan, tidak ada kriminalisasi demonstran, transparansi anggaran untuk anggota dewan, pemeriksaan anggota dewan yang bermasalah, pemecatan kepada kader partai yang tidak etis, dialog publik bersama mahasiswa dan masyarakat sipil.
Selain itu ada juga tuntutan untuk pembebasan demonstran yang ditahan, penghentian tindakan represif oleh kepolisian dan penaatan SOP pengendalian massa, transparansi proses hukum terhadap pelanggaran HAM, hingga menuntut setop campur tangan militer dalam keamanan, dan upah layak untuk butuh serta pencegahan PHK massal.
Namun aksi ini dimanfaatkan sejumlah massa tak dikenal untuk memicu kerusuhan dan perusakan bangunan dan fasilitas publik di berbagai kota.
Presiden Prabowo pada 29 Agustus 2025 memberikan sejumlah pernyataan, mulai dari mengajak masyarakat menyampaikan aspirasi dengan cara damai, pelaku anarkisme dan penjarahan bisa ditindak tegas, meminta polisi dan tentara melindungi masyarakat, transparansi pelanggaran oleh polisi.
Kemudian ada penonaktifan anggota dewan yang membuat pernyataan keliru, pimpinan DPR mencabut tunjangan anggota dan moratorium kunjungan kerja ke luar negeri, pimpinan DPR akan mengundang tokoh masyarakat dan mahasiswa untuk berdialog, serta meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menjaga persatuan.
Tak lama kemudian, sejumlah anggota dewan dinonaktifkan sebagai anggota DPR oleh partai setelah dianggap membuat masyarakat marah dengan pernyataan mereka, yakni Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari Partai NasDem, Uya Kuya dan Eko Patrio dari PAN, dan Adies Kadir dari Golkar.