Bahkan Film Indonesia 2025 Tak Luput dari Ketimpangan
Pada awal abad ke-20, ahli ekonomi Italia Vilfredo Pareto mengenalkan konsep ketidakseimbangan yang dikenal sebagai prinsip 80/20, di mana 80 persen hasil hanya berasal dari 20 persen input. Hal itu pun ternyata terjadi di industri film Indonesia pada 2025.
Tahun 2025 perfilman Indonesia memang terbilang menarik. Ada begitu banyak film yang dirilis ke bioskop, Bahkan jumlahnya semakin banyak pascapandemi Covid-19. Dari hitungan mandiri, sepanjang 2025 ada 204 judul film Indonesia yang tayang, naik sekitar 65 persen dari tahun sebelumnya yang berada di kisaran 123 judul.
Lihat Juga : |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang tahun yang sama, film Indonesia mengumpulkan sekitar 79,6 juta penonton. Bila mengikuti asumsi yang pernah disampaikan Angga Dwimas Sasongko bahwa ada 120 juta tiket penonton bioskop pada 2025, maka film Indonesia setidaknya menguasai 66 persen pasar.
Namun dari total 79,6 juta penonton film Indonesia itu, sekitar 25 persen hanya berasal dari dua film, Agak Laen: Menyala Pantiku dan Jumbo, yang masing-masing tembus lebih dari 10 juta penonton.
Artinya, sebanyak 59 juta penonton film Indonesia diperebutkan oleh 202 judul film lainnya. Rata-rata, film tersebut hanya mendapatkan sekitar 292 ribu penonton. Angka yang sangat timpang bila dibandingkan dua film raksasa yang mendominasi perfilman Indonesia sepanjang 2025.
Fenomena ketimpangan itu menimbulkan pertanyaan: apa yang sebenarnya terjadi?
Dari total 79,6 juta penonton film Indonesia 2025, sekitar 25 persen hanya berasal dari dua film, Agak Laen: Menyala Pantiku dan Jumbo. (Imajinari) |
Ada banyak faktor yang mungkin bisa membuat fenomena ketimpangan itu terjadi. Salah satu yang cukup jelas terlihat adalah ketidakseimbangan antara jumlah film yang diproduksi dengan jumlah layar bioskop yang tersedia.
Indonesia adalah negara dengan wilayah yang luas dan jumlah penduduk besar, tapi layar bioskopnya amat minim. Hingga 2024, Indonesia baru punya sekitar 2.300 layar, jauh di bawah angka ideal 10 ribu layar yang diusulkan para pelaku industri film Indonesia.
Sementara jumlah layar 2.300 dan ada sekitar 200 film, maka kanibalisme antarfilm Indonesia tak bisa terhindarkan. Belum lagi bila ada film blockbuster Hollywood yang tayang bersamaan, maka banyak film Indonesia tak punya ruang nafas lega untuk tayang dan mendapatkan penonton.
Akibatnya, mekanisme bisnis bioskop menjadi sangat ketat. Film yang tak sanggup mendatangkan penonton --misalnya minimal 10 persen dari jumlah kursi per layar di hari kedua tayang-- berisiko langsung diturunkan. Apalagi dengan mayoritas penonton hanya bisa datang ke bioskop pada akhir pekan, persaingan pun makin brutal.
Lihat Juga : |
Situasi ini tentu beri tekanan besar bagi produser, mengingat ada modal investor yang mesti kembali. Maka tak heran jika ada strategi beli tiket film sendiri untuk mendongkrak angka penonton awal. Strategi itu sah saja sebenarnya, tetapi bila filmnya memang tidak memuaskan penonton, apa penonton akan datang lagi atau bahkan merekomendasikannya ke orang lain?
Pada saat yang sama, penonton Indonesia kini semakin selektif. Selain karena keterbatasan waktu dan kemampuan finansial, kondisi ekonomi yang tidak prima pada 2025 akan membuat keputusan datang ke bioskop sepenuhnya soal prioritas pengeluaran.
Saya salah satunya. Seperti kebanyakan penonton, saya akan memilih film benar-benar terasa sepadan dengan uang dan waktu yang akan saya habiskan. Ketika pilihan film makin banyak, seleksi pun makin ketat.
Karena itu, selain upaya menambah layar dan memperluas akses masyarakat ke bioskop --yang hingga kini masih sangat bergantung pada pihak swasta-- produser juga perlu lebih serius dalam mengkurasi proyek film yang akan diproduksi. Membuat film semata karena genre tertentu dianggap cuan atau modal tren viral, nyatanya kini tak lagi cukup.
Genre horor mendominasi sekitar 46 persen judul film Indonesia pada 2025. (Rapi Films) |
Horor, misalnya. Genre ini mendominasi sekitar 46 persen judul film Indonesia pada 2025. Dari sisi produksi, horor juga relatif lebih ramah di kantong dan punya basis penonton besar. Namun dalam daftar 16 film Indonesia terlaris 2025, hanya ada tujuh film horor. Bahkan lebih dari sepertiga film horor tahun lalu gagal sentuh 100 ribu penonton. Masyarakat, pada akhirnya, juga mudah bosan.
Padahal bikin film butuh modal tak sedikit, bisa ratusan juta hingga miliaran rupiah, belum termasuk biaya marketing. Ketika film hanya ditonton puluhan ribu orang dan gagal balik modal, yang dikhawatirkan adalah menurunnya minat investor terhadap film Indonesia.
Memang tidak ada formula pasti untuk membuat film yang sukses. Cara satu film berhasil belum tentu terulang pada film lainnya. Satu film dari cerita viral bisa sukses, tapi banyak pula yang gagal. Film dengan deretan bintang besar pun tidak selalu jadi jaminan sukses.
Lihat Juga : |
Namun satu hal yang terlihat jelas dalam beberapa tahun terakhir: penonton Indonesia akan mempertimbangkan dengan serius apakah sebuah film benar-benar memiliki cerita yang layak mereka tonton.
Masyarakat Indonesia sangat beragam, dan di situlah peluang cerita sebenarnya berada. Film Indonesia tidak harus selalu horor, tidak harus mengikuti pola yang sama, dan tidak selalu membutuhkan produksi besar. Memang terkesan berisiko, tapi terjebak dalam pola yang stagnan justru lebih berbahaya.
Saya yakin pada satu hal: ketika sebuah film mampu terkoneksi dengan penontonnya --baik lewat cerita, naskah, maupun produksi-- penonton Indonesia dengan murah hati akan menjadi media promosi gratis.
Indonesia tidak kekurangan penonton film nasional. Lonjakan sekitar 60 persen penonton film nasional pada 2025 menunjukkan hal tersebut. Yang masih kurang justru keberanian untuk benar-benar bercerita, merangkul penonton, dan membuat film bukan sekadar mengambil uang mereka, tapi untuk benar-benar memberikan cinematic experience.
(end)[Gambas:Video CNN]

Dari total 79,6 juta penonton film Indonesia 2025, sekitar 25 persen hanya berasal dari dua film, Agak Laen: Menyala Pantiku dan Jumbo. (Imajinari)
Genre horor mendominasi sekitar 46 persen judul film Indonesia pada 2025. (Rapi Films)