Aurelie Moeremans: Jangan Bully Karakter dalam Broken Strings
Aurelie Moeremans meminta pembaca untuk tidak berasumsi apalagi melakukan perundungan kepada sosok nyata di balik karakter-karakter dalam Broken Strings. Permintaan itu disampaikan setelah buku tersebut viral belakangan ini.
Beberapa nama muncul di media sosial dan diduga terlibat dalam situasi yang dialami Aurelie, salah satu yang mencuat adalah Roby Tremonti.
"Please... Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan bully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebak-tebakan," kata Aurelie Moeremans seperti diberitakan detikcom, Senin (19/1).
"Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan juga aku enggak enak bacanya."
Aurelie kemudian mengajak pembaca untuk fokus pada tujuan utama buku itu dirilis, yakni membagikan pengalaman dan proses penyembuhan. Ia juga menekankan buku itu diharapkan bisa membantu bahkan beri kekuatan bagi mereka yang juga mengalami hal serupa.
Sehingga, menemukan sosok nyata di balik karakter itu disebut bukan fokus utamanya saat merilis Broken Strings.
"Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur," ungkapnya.
"Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let's keep this space kind, aman, dan penuh empati."
Ia juga menanggapi kemungkinan pihak yang mengaku sebagai karakter dalam bukunya. Menurutnya, hal tersebut urusan pribadi masing-masing. Ia hanya menegaskan agar publik tidak menyerang berdasarkan spekulasi.
"Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan," Aurelie menegaskan.
Aurelie Moeremans merilis Broken Strings beberapa waktu lalu. Ia awalnya merilis buku itu dalam bahasa Inggris yang kemudian dalam bahasa Indonesia secara digital dan gratis.
Buku tersebut berisikan kekerasan seksual, fisik, serta ancaman yang dihadapi Aurelie ketika berusia 15 tahun. Ia juga mendetailkan pengalaman diduga menjadi korban grooming saat masih remaja.
Pria itu disebut Aurelie berusia hampir dua kali usianya. Dalam buku itu pula, Aurelie mengaku menjadi korban manipulasi, kontrol dari pelaku tersebut dan kemudian secara perlahan menyelamatkan dirinya.
Dalam unggahan di media sosial pada 2020, Aurelie mengatakan bahwa pernikahan itu didasari dengan rasa terpaksa. Bahkan Aurelie mengaku kala itu dirinya kerap mendapatkan ancaman bila meninggalkan pria tersebut.
(chri)