Na Willa Ajak Penonton Nostalgia Masa Bahagia Anak-anak
Sutradara Ryan Adriandhy menyatakan Na Willa bukan hanya film anak-anak, melainkan tontonan lintas generasi. Ia berharap penonton bisa bernostalgia dan membawa pulang semangat masa kecil dalam keseharian setelah menonton.
Na Willa, film hasil adaptasi novel anak karya Reda Gaudiamo, dipastikan bakal membawa sudut pandang dunia anak-anak ke layar lebar dengan menonjolkan imajinasi dan rasa ingin tahu dari anak berusia enam tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Aku berharap Na Willa ini teman-teman yang sudah dewasa, nonton dan ingat lagi rasanya jadi anak-anak dan semoga spirit jadi anak-anaknya itu kebawa kembali ke keseharian teman-teman, ke teman-teman yang sedang menjalani hidup dewasa lagi gitu," kata Ryan di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (10/3).
Ryan menambahkan bahwa esensi film ini diharapkan bisa kembali menjadi pengingat perasaan saat mereka masih anak-anak di tengah hiruk-pikuk kehidupan.
"Ini film yang sangat aman dan harapannya begitu keluar bioskop kita kembali bahagia lagi, dan ingat gitu bahwa kita dulu punya sebuah lensa, lensa yang begitu jernih, yang begitu jujur, yaitu lensa ketika kita anak-anak."
"Di mana lewat lensa itu lah sebenarnya kita terbentuk menjadi kepribadian kita hari ini. Kita mau belajar, kita mau bertanya, kita berandai."
Selain aspek nostalgia, Na Willa turut menampilkan keberagaman identitas Indonesia. Hal itu tercermin dari latar belakang keluarga Na Willa yang merupakan keturunan campuran Tionghoa dari ayahnya dan NTT dari ibunya.
Novia Puspasari selaku produser menjelaskan interaksi dengan teman-teman Na Willa yang dari latar belakang berbeda merupakan sebuah representasi kehidupan nyata di Indonesia.
"Na Willa bertemu teman-teman yang punya latar belakang keluarga berbeda. Dari situ kita melihat bagaimana keberagaman adalah sesuatu yang bisa dirayakan bersama, sangat dekat dengan kehidupan kita di Indonesia saat ini," kata Novia.
Chief Content Officer Visinema Studios sekaligus produser Anggia Kharisma juga menambahkan bahwa Na Willa diharapkan mampu menghadirkan kedekatan emosional dan refleksi diri bagi penontonnya.
"Na Willa ini adalah surat cinta buat kita semua, buat nostalgia kita, buat anak-anak kita nantinya. Tapi setidaknya ada ruang aman, ada perasaan yang bisa dibawa pulang untuk didiskusikan kembali di keluarga, didiskusikan kembali lagi oleh diri kita," ujar Anggia.
"Film yang bisa merefleksikan betapa bersyukurnya kita untuk bisa mencintai lebih baik lagi," tuturnya.
Na Willa memotret kehidupan tahun 1960-an di sebuah gang kecil di Surabaya melalui mata Willa yang penuh imajinasi dan kepolosan.
Namun, dunia Willa mulai berubah saat sahabatnya mengalami kecelakaan dan teman-temannya mulai bersekolah, membuat Willa merasa kesepian.
Saat akhirnya masuk TK, ia belajar menghadapi aturan dan menyadari bahwa tumbuh dewasa berarti menerima perubahan.
Lihat Juga : |
Film ini menjadi debut penyutradaraan dan penulisan naskah live-action perdana bagi Ryan Adriandhy.
Jajaran pemain didominasi talenta muda, seperti Luisa Adreena, Azamy Syauqi, Arsenio Rafizqy, dan Freya Mikhayla, didukung oleh penampilan Irma Rihi, Junior Liem, dan Melissa Karim.
Na Willa mulai tayang 18 Maret di bioskop.
(gis/chri)
