OTW Pestapora, Uji Formula Sukses dalam Bentuk Mini
Formula tukar setlist yang sempat sukses dibawakan Pestapora dalam gelaran 2025 kini coba diangkat kembali dalam format yang lebih mini dalam OTW Pestapora.
Digelar selama tiga hari di Bengkel Space, SCBD, venue yang jauh lebih kecil dibanding lokasi asli festival musik tahunan tersebut, OTW Pestapora mencoba apakah formula itu bisa sukses di format yang intim.
Lihat Juga :REVIEW FAN MEETING Pembuktian Diri Hearts2Hearts dan Kehangatan Fan Meeting di Jakarta |
Pada hari kedua gelaran, Senin (4/5), acara ini memboyong Mocca, Sore, Reality Club, dan Parade Hujan. Formulanya, Mocca membawakan lagu Reality Club, begitu sebaliknya. Kemudian Sore membawakan lagu Payung Teduh, sedangkan Parade Hujan membawakan lagu Sore.
Dengan line-up tersebut, para penggemar masing-masing datang dengan atribut khas idolanya. Situasi itu tampak menunjukkan acara ini berniat jadi pemersatu lintas penggemar dalam satu ruang yang sama.
Penampilan dibuka oleh Mocca yang membawakan lagu-lagu milik Reality Club. Aransemen khas Mocca yang ringan dan manis memberikan warna baru pada lagu-lagu Reality Club, tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Sentuhan flute dari Arina Ephipania menjadi elemen pembeda di tengah lagu-lagu Reality Club yang biasanya terkesan lebih urban. Namun, harmoni itu sempat terganggu. Sound yang terlalu keras dan cenderung sember membuat pengalaman mendengar terasa kurang nyaman.
Vokal Arina beberapa kali tenggelam, seolah tertutup riuh instrumen yang justru terlalu dominan. Bahkan, ketika interaksi dengan penonton dibangun, respons yang muncul malah terasa sunyi.
Terlepas dari itu, Mocca tetap mampu menjaga dinamika. Dari lagu pembuka You'll Find Lovers Like You and Me yang lebih upbeat dan centil hingga Sorrowful Reunion dan Alexandra yang dibawakan lebih sendu, Mocca seperti meracik emosi penonton dengan takaran yang pas namun tetap mengalir.
Sebaliknya, Reality Club membawakan lagu-lagu Mocca dengan pendekatan yang lebih berani. Sebagai band yang mengaku "tumbuh" dengan lagu-lagu Mocca, penampilan Reality Club terasa larut dalam dunianya sendiri.
Namun, justru hal itu yang membuat penampilan Reality Club terasa tulus dan menunjukkan kedekatan emosional mereka dengan karya Mocca.
Fathia Chia Izzati dan kawan-kawan terlihat sangat menikmati saat membawakan Me and My Boyfriend, yang juga tersalurkan ke energi penonton yang tampak lebih antusias, terutama pada paruh kedua penampilan Reality Club.
Aksi Chia berperan sebagai Arina Ephipania saat membawakan I Remember jelas sangat bisa dinikmati dengan nyaman. Vokalis Reality Club itu tidak meninggalkan kesan centil ala Arina, tapi memberikan sentuhan lebih bold dari suaranya.
Puncak tukar setlist hari kedua ini terasa saat Sore membawakan lagu-lagu Payung Teduh. Lagu-lagu populer seperti Angin Pujaan Hujan dan Akad berhasil memicu partisipasi penonton secara kolektif.
Aransemen Sore yang lebih tajam dan kompleks mampu mempertahankan energi penonton tanpa menghilangkan nuansa emosional dari lagu aslinya. Pada titik ini, euforia penonton terasa paling menyatu.
Lagu-lagu populer Payung Teduh mengikat penonton yang semula memiliki identitasnya masing-masing, menjadi asyik berbaur menjadi satu.
Sayangnya atmosfer itu mulai mengendur saat Parade Hujan tampil membawakan lagu-lagu Sore. Penampilan yang terasa singkat membuat momentum sedikit terputus.
Penonton baru kembali hidup saat Sssttt dibawakan sebagai lagu penutup. Lagu populer itu tampak familiar dan berhasil membangkitkan energi penonton.
Dengan pertunjukan OTW Pestapora ini, formula silang-saling-bawa-setlist terbukti masih ampuh dalam "mempersatukan" klan-klan penggemar, bahkan dalam venue yang jauh lebih kecil.
Hanya saja, semua bergantung pada konsep yang kuat, line-up solid, dan basis penggemar yang loyal. Bukan cuma itu, acara model seperti ini juga bergantung pada kualitas dari venue yang menjadi lokasi penyelenggaraan.
Dengan venue yang lebih kecil, jelas kelemahan sekecil apa pun akan terlihat lebih jelas. Apalagi bila musisi yang tampil pada hari itu bukan yang digemari atau bahkan dikenal oleh pengunjung lainnya, yang ada bisa jadi momen krik-krik di tengah acara.
Namun bagi mereka yang hanya ingin bernyanyi dan berpesta pora dengan idola mereka, apa pun formula acaranya, semua akan disikat.
(end)