Jelang Ending, Perfect Crown Dikritik atas Dugaan Distorsi Sejarah

CNN Indonesia
Sabtu, 16 Mei 2026 13:30 WIB
Perfect Crown kembali dihantam kritik pedas netizen Korea Selatan satu episode jelang ending pada Jumat (15/5).
Perfect Crown kembali dihantam kritik pedas netizen Korea Selatan satu episode jelang ending pada Jumat (15/5). (MBC)
Jakarta, CNN Indonesia --

Satu episode menjelang ending, drama Perfect Crown kembali dihantam kritik pedas netizen Korea Selatan. Kali ini, mereka terjerat kontroversi terminologi kerajaan, detail upacara adat, hingga tudingan melakukan distorsi sejarah.

Gelombang protes memuncak setelah episode 11 tayang pada Jumat (15/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Episode tersebut sebenarnya menyuguhkan sekuens drama yang sangat emosional, Seong Hui-ju (IU) rela mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan I-An (Byeon Woo-seok) sebelum sang pangeran akhirnya naik takhta.

Namun, alih-alih membahas kelanjutan kisah romansa kedua karakter utama, fokus diskusi penonton di media sosial justru bergeser tajam pada penggambaran ritual kerajaan yang dinilai keliru.

Kritik pertama menyasar adegan upacara penobatan, saat para pejabat kerajaan terekam meneriakkan kata "Cheonse", bukan "Manse."

Korea Times pada Sabtu (16/5) memberitakan sejumlah penonton berargumen bahwa dalam catatan sejarah, istilah "Cheonse" merupakan ungkapan yang digunakan oleh negara bawahan kepada seorang kaisar, sehingga dinilai sangat tidak pantas digunakan dalam konteks monarki konstitusional abad ke-21.

[Gambas:Video CNN]

Selain itu, detail mahkota upacara raja juga tak luput dari sorotan karena hanya menampilkan sembilan untaian manik-manik, padahal atribut untuk penguasa berdaulat seharusnya memiliki 12 untaian.

Adegan lain yang memicu perdebatan sengit adalah momen ketika ibu suri Yoon Yi-rang (Gong Seung-yeon) berlutut dan meminta maaf kepada I-An, dinilai sebagai interaksi yang dianggap menyalahi hierarki kerajaan.

Meskipun drama ini mengambil latar dunia fiksi alternatif dengan konsep monarki konstitusional modern, protes mengenai ketidakakuratan sejarah sebenarnya sudah membayangi serial ini sejak awal rilis.

Beberapa sejarawan Korea bahkan sempat angkat bicara dan menilai beberapa elemen cerita, seperti representasi wali raja dan prosesi upacara ulang tahun raja, sangat bertolak belakang dengan adat istiadat era Joseon.

Akibat kekecewaan yang mendalam, sebagian penonton kini dilaporkan menuntut penjelasan resmi atau permintaan maaf dari pihak stasiun televisi penyiaran, sementara sebagian lainnya memilih untuk melayangkan aduan ke lembaga regulator penyiaran di Korea.

Kendati dihujani kritik dan menuai reaksi beragam atas akting IU serta Byeon Woo-seok, sentimen negatif tersebut nyatanya sama sekali tidak menyurutkan popularitas Perfect Crown.

Memulai debutnya dengan rating sebesar 7,8 persen, drama ini terus melesat hingga menembus angka 11,1 persen pada episode 4, dan sukses menyentuh angka 13,3 persen pada episode 10.

Tidak hanya sukses di televisi lokal, drama Korea itu juga dilaporkan mempertahankan popularitas yang kokoh di platform Disney+ di berbagai wilayah mencakup Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, hingga Asia.

Perfect Crown juga kokoh bertengger di peringkat pertama sebagai drama paling banyak dibicarakan berdasarkan data platform FUNdex sejak penayangan perdana.

(chri) Add as a preferred
source on Google