Reuni F*Forever Jakarta, Penawar Rindu yang Belum Sempurna
Christie Stefanie
Meski sukses besar membawa penggemar bernostalgia, bukan berarti konser ini lepas dari catatan kritis.
Beberapa hal sesungguhnya sudah layak disoroti sedari awal, seperti kebijakan batas maksimal pembelian di angka 10 tiket yang dua kali lipat lebih banyak daripada aturan konser pada umumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situasi longgar tersebut secara otomatis membuat ruang gerak calo dan bot menjadi lebih besar serta luas, mengorbankan para fan yang benar-benar berjuang sendiri dengan tangan mereka untuk mendapatkan tiket resmi.
Kemudian, pilihan tata letak panggung 360 derajat yang diusung kemarin malam nyatanya tidak benar-benar diletakkan di tengah hall. Ketidaksesuaian ekspektasi ini berbeda dengan bayangan banyak penonton yang suara kekecewaannya jelas terdengar sejak hari pertama.
Begitu pula dengan beberapa kelas tertinggi yang sepertinya lebih kesulitan menikmati jalannya konser karena posisi duduk yang tertutup tiang struktur atau gangguan pandangan lainnya, atau penonton tribune yang agak terhalang dengan pagar tribune.
Hal itu pula yang memicu efek domino di lapangan; beberapa penonton nekat berdiri hingga mengganggu kenyamanan penonton di belakangnya.
Konsentrasi massa langsung pecah saat para member berjalan di area extended stage, membuat penonton terpaksa berdiri demi berebut ruang pandang yang semakin menyempit.
Bagi seorang penikmat konser yang lebih menyukai format konvensional satu arah demi kepastian visual, catatan-catatan operasional ini menjadi evaluasi penting agar ambisi visual yang megah di masa mendatang tidak mengorbankan hak-hak fisik mendasar penonton.
Catatan minor lain yang cukup mengganggu datang dari sektor penerjemah.
Di paruh awal konser, suara interpreter terdengar kaku, tanpa penjiwaan, bahkan keteteran hingga banyak bagian dialog yang seolah terlewat tanpa diterjemahkan.
Untungnya, menjelang akhir acara, performanya mulai lebih hidup dan mampu mengimbangi interaksi para artis di panggung.
Dari berbagai catatan kekurangan yang ada, hal itu sama sekali tidak menampik bahwa konser ini merupakan jawaban sekaligus momen manis bagi para penggemar yang menantikan mereka sekitar dua dekade.
Pertunjukan ini menjadi penawar rindu yang sangat berharga, terutama bagi mereka yang belum sempat atau terlewatkan menyaksikan langsung penampilan legendaris F4 pada tahun 2003 silam di Jakarta.
Jika ada kesempatan lainnya di masa mendatang, mungkin dalam bentuk konser encore, muncul harapan besar agar tata kelola ruang, manajemen ticketing, dan teknis lapangan dapat dipersiapkan dengan jauh lebih baik, rapi, dan matang.
(chri/chri) Add
as a preferred source on Google
