Atmosfer Backrooms Dipuji Kritikus Meski Sebagian Komplain Soal Cerita

CNN Indonesia
Minggu, 14 Jun 2026 20:24 WIB
Backrooms (2026) berdasarkan serial web Parsons dan terinspirasi oleh creepypasta "Backrooms".
Film Backrooms (2026) karya Kane Parsons menjadi sensasi baru di kalangan penggemar film horor. (dok. A24/21 Laps Entertainment/Atomic Monster via IMDb)
Jakarta, CNN Indonesia --

Film Backrooms (2026) karya Kane Parsons menjadi sensasi baru di kalangan penggemar film horor. Film fiksi ilmiah psikologis horor ini bahkan menjadi film dengan debut terbesar bagi studio A24 selaku distributornya.

Film yang ditulis Will Soodik ini diangkat dari serial web populer karya Parsons, Backrooms (2022), yang didasarkan dari folklor internet creepypasta, The Backrooms (2019).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak tayang perdana pada 7 Mei 2029 di Aero Theatre dan 29 Mei 2026 di Amerika Serikat, film berbujet US$10 juta ini viral di media sosial. Terlebih karena Parsons dikenal memiliki penggemar jutaan orang di internet.

Per Jumat (12/6), film ini mendapatkan status Fresh untuk Tomatometer di laman agregator Rotten Tomatoes dengan nilai 88 persen dari 261 ulasan kritikus. Sementara itu skala Popcornmeter dari penonton memberikan nilai 74 persen, berdasarkan lebih dari lima ribu penonton.

Sebagian besar kritikus memuji atmosfer yang berhasil dibawa film ini dan penggambaran akan bangunan The Backrooms, terlepas dari ceritanya yang mengundang berbagai interpretasi seperti serial web Parsons.

"Meskipun begitu, ini adalah film horor yang tak dapat disangkal seru dan cukup canggih, serta debut yang fantastis untuk Parsons," kata Johnny Oleksinski dari New York Post.

"Tempat ini terasa mencekam tapi juga anehnya mengundang penasaran, jenis ruang yang ingin terus dijelajahi, meski tahu ada yang lebih baik. Hanya saja semua hal lain yang ada di film ini perlu perbaikan," kata Alison Willmore dari New York Magazine/Vulture.

"Meskipun perjalanan ini akhirnya kehilangan daya tariknya karena akhir yang penuh teka-teki, penggambaran visual Parsons tentang jiwa manusia sangat mengganggu dan tidak seperti karya yang sudah ada sebelumnya," kata Meagan Navarro dari Bloody Disgusting.

"Ambiguitas adalah kunci dari gaya horor ini, di mana ruang dan atmosfer memainkan peran penting, dan meski ceritanya tidak dijelaskan secara berlebihan, perlu diingat, cerita itu cukup detail untuk mematahkan mantra menyeramkan itu sendiri," kata Beatrice Loayza dari New York Times.

Backrooms (2026) berdasarkan serial web Parsons dan terinspirasi oleh creepypasta Film Backrooms (2026) karya Kane Parsons menjadi sensasi baru di kalangan penggemar film horor. (dok. A24/21 Laps Entertainment/Atomic Monster via IMDb)

Meski begitu, gaya cerita dan akhir yang ambigu ternyata jadi masalah untuk sebagian kritikus. Bahkan cerita Backrooms (2026) dianggap belum matang.

"Bila film ini cuma tur keliling gedung perkantoran yang meresahkan, Parsons mungkin bisa lolos begitu saja. Namun semakin Backrooms mencoba menyampaikan suatu pesan, semakin terasa tidak bermakna," kata William Bibbiani dari The Wrap.

"Menobatkan Parsons sebagai anak jenius lalu memberinya US$10 juta tanpa pertanyaan untuk membuat film horor murahan dan di bawah standar rasanya tidak tepat," kata Kevin Maher dari The Times UK.

"Jika film ini berhasil menangkap sebagian dari rasa gelisah yang menarik dari konsep tersebut, penceritaannya yang kurang matang membuat saya bertanya-tanya apakah beberapa ide menyeramkan mungkin lebih baik dibiarkan sebagai bisikan di kegelapan," kata Angie Han dari The Hollywood Reporter.

[Gambas:Youtube]

Backrooms (2026) mengikuti kisah seorang pengelola toko furnitur bernama Clark (Chiwetejel Ejiofor). Di tengah bisnis tokonya yang lesu, ia menghadapi masalah rumah tangga yang membuatnya harus menjalani konseling kejiwaan dengan Mary (Renate Reinsve).

Suatu kali, Clark mengaku kepada Mary bahwa mengalami keresahan setelah menemukan pintu rahasia di bawah tokonya yang membawanya ke deretan ruangan biasa yang tampak tak berujung.

Mary skeptis terhadap cerita Clark dan hanya menganggapnya sebagai halusinasi. Kesal, Clark bersumpah akan membuktikan omongannya tersebut kepada Mary.

Tak diduga itu jadi hari terakhir Clark datang ke Mary. Mary kemudian khawatir dengan Clark. Ia kemudian mendatangi tokonya dan menemukan bahwa Clark tidak berbohong atau pun berhalusinasi.

(end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]