Warga Yunani Buka Suara soal The Odyssey Christopher Nolan

CNN Indonesia
Rabu, 22 Jul 2026 08:00 WIB
Warga Yunani buka suara mengenai The Odyssey film terbaru Christopher Nolan yang memicu perdebatan di kalangan penonton. (Melinda Sue Gordon/Universal Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

The Odyssey garapan sutradara Christopher Nolan menjadi film yang menarik perhatian begitu banyak pencinta film tengah tahun ini. Film itu sudah mengumpulkan lebih dari US$263,7 juta atau Rp4,71 triliun (US$1=Rp17.888) dari pekan debutnya secara global.

Di tengah gegap gempita sambutan global, perhatian turut terarah pada respons publik Yunani sebagai pemilik asal legenda karya Homer yang telah diajarkan di sekolah sekolah mereka selama hampir 3.000 tahun.

Berbeda dengan perdebatan warganet sejumlah negara yang kerap menuntut kesetiaan mutlak pada teks asli, masyarakat Yunani pada umumnya memandang daya tahan karya epik Homer selama ribuan tahun bukan karena menolak perubahan.

The Independent pada Jumat (17/7) memberitakan banyak publik Yunani modern berpendapat hal itu dikarenakan keberanian untuk terus menafsirkan ulang cerita tersebut.

Salah satunya adalah Filippos Mantzaris yang merupakan seorang pengajar The Odyssey untuk siswa tingkat sekolah menengah di Yunani. Ia menjelaskan bahwa setiap rekreasi baru adalah sebuah karya seni yang mandiri.

Di ruang-ruang kelas, para siswa terbiasa berdiskusi secara kritis mengenai dilema moral tokoh Odysseus, membandingkan kecerdasan dengan kekuatannya, hingga mempertanyakan aspek keadilan dalam tindakan sang raja.

Pendekatan adaptatif tersebut juga diamini para orang tua dan praktisi teater di Yunani. Menampilkan kisah mitologi melalui media panggung maupun layar lebar dinilai sebagai langkah berharga untuk membantu generasi muda mempelajari sejarah secara sukarela tanpa merasa terbebani.

Bagi publik lokal, adaptasi visual menjadi jembatan alami untuk menjaga warisan budaya kuno mereka tetap hidup dan dapat diidentifikasi anak-anak zaman sekarang.

"Itu (The Odyssey) merupakan teks sastra luar biasa yang bisa diketahui anak-anak, mungkin melihat Odysseus dalam diri mereka sendiri, tapi juga melihat tanah air mereka," kata Matzaris.

Begitu pula dengan Manos Pintzis yang memerankan Odysseys dalam teater lokal di Yunani. Ia mengatakan adaptasi-adaptasi itu membantu anak-anak mengetahui mitologi yang tidak dapat dilakukan hanya melalui buku.

Menurut aktor Manos Pintzis, yang memerankan Odysseus dalam produksi lokal tersebut, menafsirkan cerita sebagai teater membantu anak-anak menemukan mitologi dengan cara yang tidak dapat dilakukan hanya melalui buku.

"Kamu tidak bisa mengatakan kepada anak, 'Bacalah saja ceritanya karena kamu harus,' karena anak akan menolak jika sesuatu dipaksakan kepada mereka," kata Pintzis.

"Ketika anak melihat semua ini terungkap di depan mata mereka-itu menjadi langkah berharga menuju pembelajaran, untuk dengan sukarela mempelajari apa yang diharapkan untuk mereka pelajari."

Namun, dinamika berbeda justru terjadi di kalangan konservatif Amerika Serikat. Fokus perhatian di sana banyak tersedot oleh kontroversi casting yang dilakukan Nolan.

Tokoh publik seperti Elon Musk hingga komentator Matt Walsh melayangkan kritik tajam dan menuduh produksi ini lebih mengedepankan politik identitas.

Menanggapi gelombang kritik tersebut, Christopher Nolan menegaskan bahwa perdebatan yang muncul sebelum penonton menyaksikan film secara utuh adalah hal yang tidak relevan.

Nolan menyatakan visinya sejak awal adalah membuat kisah dunia kuno ini dapat diakses dan terasa dekat dengan audiens modern, tanpa harus mengekor pada gaya film-film kolosal Hollywood masa lalu.

Melalui pendekatannya, Nolan ingin menantang asumsi publik mengenai bagaimana sebuah peristiwa sejarah atau mitologi seharusnya divisualisasikan di layar lebar.

Lanjut ke sebelah...

Respons Warga Yunani soal Casting The Odyssey


BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :