Review Film: Deep Water (2026)

Endro Priherdityo | CNN Indonesia
Minggu, 09 Agu 2026 20:20 WIB
Review film Deep Water (2026): film ini ditujukan untuk hanya sekadar ditonton tanpa perlu diseriusi dan biarkan berlalu. (Magenta Light Studios/Jen Raoult)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ada banyak pertanyaan muncul seiring menyelami cerita Deep Water (2026) yang nyatanya tidak berlatar di perairan 'sedalam' judulnya. Yang pasti, film ini memang ditujukan untuk hanya sekadar ditonton dan biarkan berlalu.

Untuk film yang ditulis sampai empat orang: Pete Bridges, Shayne Armstrong, S.P. Krause, dan Damien Power, berdasarkan cerita Armstrong dan Krause, Deep Water (2026) adalah film yang mengecewakan dari aspek penulisan cerita.

Armstrong cs mungkin berusaha membayangkan film ala Final Destination (2000) kawin dengan Deep Blue Sea (1999) yang juga digarap oleh sutradara film ini, Renny Harlin, atau film soal hiu lainnya seperti Jaws (1975) atau Open Water (2003), akan tetapi ceritanya justru lebih mirip dengan No Way Up (2024).

Entah tim penulis tidak sengaja atau memang terinspirasi dari No Way Up dan memutuskan untuk membuat versi mereka. Yang jelas, hasilnya juga tidak sespesial itu.

Hal itu bahkan bisa disadari tak sampai 10 menit film ini dimulai. Mulai dari proses pengenalan karakter dan lingkungan, latar belakang masalah, hingga percakapan yang terjadi di antara para tokoh. Semua terasa seperti film yang bukan ditulis oleh empat orang.

Pengenalan karakter dan penokohan yang cenderung stereotipikal, percakapan yang dangkal, tidak berkesan, hingga penyusunan konflik, semua terasa terlalu klise untuk film yang tayang pada 2026.

Penonton tidak perlu menebak-nebak konflik antar karakter atau apa yang terjadi pada mereka. Semuanya terpampang nyata dan serupa dengan yang sudah pernah dikisahkan Hollywood.

Apalagi dengan eksekusi Harlin yang tampaknya sengaja mengambil referensi film lawas, sedikit membawa ingatan penonton ke gaya-gaya film drama aksi khas Amerika macam Top Gun: Maverick (2022). Atau bisa jadi Harlin memang tidak memiliki referensi gaya lain.

Review Film Deep Water (2026): film ini memang ditujukan untuk hanya sekadar ditonton dan biarkan berlalu. (Magenta Light Studios/Jen Raoult)

Harlin juga tampaknya enggan untuk memberikan improvisasi lebih atau meminta revisi atas naskah yang ia terima. Pun dirinya terlihat membiarkan cerita ini hancur berantakan bagai pesawat yang menghantam keras lautan seperti dalam naskah.

Namun Harlin sedikit mampu memberikan ketegangan yang pernah ia berikan dalam Deep Blue Sea (1999) pada Deep Water (2026). Ada beberapa pengadeganan yang memberikan keseruan dan ketegangan, terutama karena ditampilkan di layar lebar.

Setidaknya di antara berbagai plot cerita yang terasa sekali tidak logisnya Deep Water (2026), ada sedikit pengalaman yang bisa diambil, walaupun juga mengingatkan akan trauma teror Final Destination (2000).

Hal yang juga cukup menjadi pertanyaan dalam film ini adalah naskahnya yang terasa condong 'mempertemukan' Amerika Serikat dengan China, terutama bagaimana cerita ini selesai dengan logika latarnya di dunia nyata. Entah apakah ada motif politik dari tim penulis atau ada urusan sponsor, sayangnya narasi itu terlihat memaksakan saat ditampilkan di layar.

Omong-omong soal memaksakan, pemilihan peran dalam film ini juga punya masalah serupa selain daripada stereotipikal. Meski Aaron Eckhart bertindak bagai pahlawan yang too good to be true dalam film ini, sayangnya ia tak bisa membawa film ini sendirian.

Seperti karakternya, Eckhart seperti pria bingung yang harus tetap tampil gagah di antara puing-puing cerita. Pun pemeran protagonis lainnya yang sebanyak itu juga tak banyak membantu.

Meski begitu, Angus Sampson sangat sukses memerankan sosok antagonis, bahkan lebih mirip villain. Sampson tampak mudah membawakan karakter orang egois yang ada begitu banyak di luar sana, walau tidak seberlebihan yang ia bawakan.

Terlepas dari naskahnya yang apa banget dan aksi Angus Sampson yang menggerus batasan kesabaran, Armstrong cs memberikan resolusi cerita yang sangat diharapkan. Entah bagaimana jadinya bila film ini juga punya resolusi yang jauh dari makna 'ganti rugi' atas naskahnya sejak awal.

Yang jelas, Deep Water (2026) mengingatkan siapa pun yang akan naik pesawat: tolong patuhi aturan, terutama jangan bawa powerbank ke dalam bagasi, apalagi sampai meninggalkannya di dalam koper sembari mengecas perangkat lain dengan kabel butut.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK