Hollywood Dihantam Krisis Produksi Terparah dalam Sejarah
Industri hiburan Hollywood dihantam krisis produksi terparah dalam sejarah modern. Para pekerja film, kru teknis, hingga lini usaha pendukung kian sulit dapat pekerjaan akibat melambatnya aktivitas pembuatan film dan maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK).
Tahun 2026 bahkan disebut berada di jalur menjadi salah satu periode produksi terlesu yang pernah tercatat di Los Angeles.
CNN memberitakan, berdasarkan Film LA yang bertanggung jawab soal izin pengambilan gambar di Los Angeles dan sebagian LA County, jumlah hari pengambilan gambar film layar lebar dan acara TV di lokasi di LA pada musim semi ini sekitar 40 hingga 50 persen di bawah rata-rata dibandingkan dengan periode yang sama dalam lima tahun terakhir.
Anggota dewan Writers Guild of America (WGA) West Adam Conover, seperti diberitakan Politicio pada Mei 2026, menilai situasi kelam ini sebagai bentuk pengerutan industri antargenerasi di Hollywood.
Pejabat Senior Motion Picture Association, Kathy Bañuelos, menilai lesunya Hollywood disebabkan oleh rentetan guncangan beruntun dalam beberapa tahun terakhir, mulai dari sisa dampak pandemi Covid-19, aksi mogok kerja massal, hingga fenomena eksodus proyek syuting ke luar California.
Situasi ini membuat industri tak pernah benar-benar pulih sejak 2019.
"Saya bekerja tiga hari tahun ini, termasuk pekan ini," kata Jeremy Whalon selaku kurir yang membawa materi produksi ke lokasi syuting.
Ia mengaku tidak ingin mencari pekerjaan baru atau mencoba industri baru walau merasakan situasi tersebut membuatnya benar-benar dalam situasi sulit.
Hal serupa juga dirasakan Corri Levelle sebagai florist yang sudah merasakan kesulitan sejak aksi mogok kerja penulis dan aktor Hollywood pada 2023.
"Banyak dari kita yang membatalkan masa pensiun kita, segalanya, untuk mencoba mempertahankannya," kata Corrii Levelle." kata Corrii Levelle.
"Saya kurang tidur karena hal itu. Saya mungkin sedang mencari seseorang untuk masuk dan berbagi tempat," tuturnya ketika ditanya mengenai rencana menyikapi situasi itu.
Bayang-bayang merger
Sulitnya para pekerja mencari nafkah kian diperparah oleh ancaman mega-merger senilai US$110 miliar antara Paramount dan Warner Bros. Discovery.
Laporan analisis Departemen Peluang Ekonomi Los Angeles County mengungkap bahwa penggabungan dua raksasa hiburan ini berpotensi mendepak lebih dari 10 ribu pekerjaan dan mengancam nilai output bisnis hingga US$4,06 miliar.
Dari total kerugian tenaga kerja tersebut, sekitar 4.500 posisi di sektor film dan televisi terancam lenyap dalam rentang tiga tahun, disusul ribuan pekerja di sektor usaha kecil pendukung serta industri lokal.
Rencana merger ini pun memicu gugatan antimonopoli dari Jaksa Agung Kalifornia Rob Bonta bersama 11 jaksa agung lainnya karena dinilai dapat mematikan persaingan usaha, menaikkan harga, dan memangkas volume konten.
Di tengah desakan hukum tersebut, CEO Paramount David Ellison bahkan mengancam bakal memboyong studio tempat produksi keluar dari California menuju negara bagian seperti Texas, Georgia, atau Tennessee.
Seperti diberitakan New York Post pada 20 Agustus, hal itu guna memangkas biaya pajak hingga US$500 juta per tahun jika negosiasi damai tidak tercapai.
Ancaman AI
Ancaman terhadap lahan pekerjaan para kru dan seniman tak berhenti di situ.
Kecerdasan buatan (AI) yang kian agresif di studio-studio besar terbukti mengikis kebutuhan tenaga kerja manusia secara signifikan.
Data ketenagakerjaan California mencatat sektor perfilman dan perekaman suara di LA County telah kehilangan 6.700 pekerjaan sepanjang tahun hingga Mei 2026.
Penggunaan AI di industri animasi misalnya, sanggup memangkas biaya produksi hingga 90 persen dengan mengotomatisasi berbagai tahapan kerja vital, mulai dari pembuatan storyboard, character rigging, hingga pembersihan pascaproduksi.
Pergeseran ke arah otomatisasi ini tak lagi sekadar meningkatkan efisiensi, melainkan mulai menggantikan struktur pekerjaan tradisional yang selama ini menyerap ribuan tenaga kerja kreatif di Hollywood.
(chri)