Review Film: Memburu Pemangsa

Vandeniar Kennindya | CNN Indonesia
Minggu, 27 Sep 2026 20:00 WIB
Review film: Memburu Pemangsa berusaha jadi film dengan identitasnya sendiri yang kompleks di tengah horor industri film dan dunia anak Indonesia. (Sinemaku Pictures)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sebagai film yang memadukan horor, kriminal, aksi, dan thriller, Memburu Pemangsa jelas berusaha keras mengawinkan genre adrenalin itu ke dalam satu rangkaian cerita yang cukup konsisten dari awal hingga akhir.

Ketegangan yang terbangun sejak film dimulai juga relatif terjaga. Penonton dibuat terus waspada terhadap setiap kejadian di layar, terutama saat film mulai menebar petunjuk demi petunjuk demi mengejar buruan.

Salah satu kekuatan dari film ini adalah cara penulis naskah Rezi Junio dan Umay Shahab menggambarkan kasus kriminal tentang predator anak yang menculik, membunuh, hingga memutilasi korbannya.

Narasi itu bukan cuma dipakai untuk membawa teror ke ruangan bioskop, tapi dikembangkan lewat proses investigasi yang membuat gagasan ceritanya menarik buat ditelusuri.

Rezi dan Umay pun tak terburu-buru membuka kedok si pelaku kejahatan. Penulis memilih memberikan ruang bagi para karakter pemburu yang merupakan jurnalis untuk menelusuri petunjuk demi petunjuk yang bertebaran.

Cara tersebut jelas membuat penonton berekspektasi atas momen identitas Sang Pemangsa terbongkar. Sayangnya, Umay yang juga duduk di kursi sutradara agak kedodoran menjaga alur di bagian ini.

Pengungkapan identitas buruan tidak memberikan hentakan yang sepadan dengan adrenalin yang sudah dipupuk. Reaksi dan situasinya relatif datar, yang membuat momen puncak pencarian terasa tumpul.

Beberapa adegan juga terasa menyisakan ganjalan, terutama saat adegan pertarungan melawan Sang Pemangsa. Momen yang mestinya jadi titik penting membangun tensi itu sayangnya belum terasa lepas.

Gerakan antarkarakter kurang mengalir dan koreografi mereka belum sepenuhnya meyakinkan, yang membuat intensitas yang mestinya muncul saat dua kubu bertemu menjadi tertahan.

Review film: Sebagai film yang memadukan horor, kriminal, aksi, dan thriller, Memburu Pemangsa jelas berusaha keras mengawinkan genre adrenalin itu ke dalam satu rangkaian cerita yang cukup konsisten dari awal hingga akhir. (Sinemaku Pictures)

Padahal modal Sang Pemangsa terbilang unik sebagai antagonis utama. Ia bukan hanya dicitrakan sebagai sosok menyeramkan, tetapi juga meninggalkan kesan mengerikan.

Apalagi, Teuku Rifnu Wikana mulus mengeksekusi tuntutan menjadi Sang Pemangsa. Ia sanggup membawakan aura mengancam dari karakter tersebut hingga menembus layar.

Bukan hanya Rifnu, Laura Basuki sebagai Agnes, Prilly Latuconsina sebagai Cia, Yasamin Jasem sebagai Anya, dan Taskya Namya sebagai Brina juga terbilang lancar memandu jalannya cerita.

Chemistry dan dinamika keempatnya terasa hidup dengan komposisi peran yang terbilang pas. Konflik dan perseteruan yang muncul di antara mereka juga diselipkan dengan apik di tengah proses memburu Sang Pemangsa, membuat pemahaman akan kasus ini menjadi lebih bulat.

Meski begitu, sinematografer Amalia T.S dan Teguh Raharjo sebagai editor tampak belum menemukan pendekatan yang meyakinkan dalam menghadirkan visual adegan tertentu, seperti saat Agnes menggunakan kemampuan indra keenamnya.

Akan tetapi, Teguh mampu menyusun potongan-potongan adegan investigasi jurnalistik hingga pertarungan yang menciptakan ketegangan selama cerita itu berjalan.

Keputusan Umay dan Amalia menggunakan mode video recorder untuk menghadirkan konsep raw video juga patut diapresiasi karena terasa apik dalam kisah pemburuan para jurnalis. Visual tersebut memberikan kesan yang lebih dekat dan intens.

Salah satu hal yang turut memanjakan mata dari Memburu Pemangsa hadir dari penggunaan properti hingga latar tempat yang mengisi berbagai adegan film ini.

Farhan Setyawan sebagai property master bersama Okie Yoga Pratama sebagai production designer patut mendapat apresiasi atas detail yang mereka hadirkan, terutama ketika film menampilkan elemen demonologi hingga berbagai peralatan yang berkaitan dengan dunia jurnalistik.

Di tengah segala keriuhan elemen Memburu Pemangsa tersebut, salutnya film ini masih mau memberikan pesan moral dan sosial. Persoalan penculikan anak di Indonesia dibawa serius dalam cerita, tanpa meninggalkan tujuan komersial dan hiburan dari film ini.

Formula itu yang membuat Memburu Pemangsa, terlepas dari kekurangannya, menjadi film yang kompleks sekaligus segar dengan identitasnya yang khas di tengah industri film Indonesia yang ramai dengan cerita horor.

(end)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK